Moana Live-Action: Dari Kemewahan Layar Lebar hingga Kegagalan Box Office, Apa Dampaknya Bagi Disney?
Blog Berita daikin-diid – 12 Juli 2026 | Film live-action Moana yang dirilis pada 10 Juli 2026 menjadi sorotan utama di industri hiburan Indonesia. Disutradarai oleh Thomas Kail dan diproduksi oleh Dwayne Johnson bersama tim kreatif terkemuka, film ini menghidupkan kembali kisah petualangan Moana, seorang gadis pemberani dari Pulau Motunui, yang bersama setengah dewa Maui berlayar melintasi samudra untuk mengembalikan keseimbangan alam. Namun, meskipun antusiasme penonton di bioskop Surabaya dan Makassar tampak tinggi, film ini mengalami kegagalan komersial yang signifikan di pasar global.
Menurut laporan USA Today pada 12 Juli 2026, Moana mencatat pendapatan terbuka yang jauh di bawah ekspektasi. Pada akhir pekan pembuka, film tersebut hanya berhasil mengumpulkan sekitar 5 juta dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan rata‑rata 70 juta dolar yang biasanya dicapai oleh film remake live-action Disney. Analis industri menilai bahwa penurunan minat penonton dapat menandakan berakhirnya era remake live-action Disney, mengingat beberapa judul sebelumnya seperti The Lion King dan Aladdin berhasil meraih kesuksesan finansial yang luar biasa.
Di Indonesia, khususnya di Surabaya, film Moanda (penulisan lokal) tetap dijadwalkan tayang di 18 jaringan bioskop utama, mulai dari Movimax Kaza City Mall hingga Galaxy XXI. Berikut rangkuman jadwal penayangan di Surabaya:
| No | Bioskop |
|---|---|
| 1 | Movimax Kaza City Mall |
| 2 | Lenmarc XXI |
| 3 | Pakuwon Food Junction XXI |
| 4 | Grand City XXI |
| 5 | CGV Marvell City |
| 6 | Cinepolis City of Tomorrow (CITO) |
| 7 | CGV Maspion Square |
| 8 | PTC XXI |
| 9 | Transmart Rungkut XXI |
| 10 | Trans Icon Mall XXI |
| 11 | Pakuwon City XXI |
| 12 | Ciputra World XXI |
| 13 | Delta |
| 14 | Tunjungan XXI |
| 15 | CGV BG Junction |
| 16 | Galaxy XXI |
| 17 | Pakuwon Mall XXI |
| 18 | Tunjungan 5 XXI |
Penonton Surabaya dan Makassar dapat menyaksikan film ini dengan jadwal harian yang fleksibel, serta harga tiket yang bervariasi antara 50.000 hingga 120.000 rupiah, tergantung pada tipe layar dan waktu penayangan.
Sinopsis resmi film menegaskan kembali tema utama yang mengangkat keberanian, harapan, dan hubungan manusia dengan alam. Moana (diperankan oleh Catherine Lagaʻaia) memiliki ikatan spiritual dengan Samudra sejak kecil, yang mendorongnya untuk menantang tradisi menolak berlayar melampaui terumbu karang. Ia menemukan bahwa bencana lingkungan di Motunui berakar pada hilangnya jantung dewa Te Fiti, yang sebelumnya dicuri oleh Maui (Dwayne Johnson). Bersama Maui, Moana menavigasi badai, monster laut, dan makhluk mitologi demi mengembalikan keseimbangan alam.
Selain Dwayne Johnson dan Catherine Lagaʻaia, film ini menampilkan John Tui sebagai kepala suku Tui, Frankie Adams, serta Rena Owen yang memerankan nenek Moana, Tala. Lagu-lagu ikonik yang diciptakan oleh Lin‑Manuel Miranda, Opetaia Foaʻi, dan Mark Mancina kembali diaransemen, memberikan nuansa musikal yang tetap setia pada versi animasi tahun 2016.
Kegagalan box office Moana menimbulkan pertanyaan strategis bagi Disney. Selama lima tahun terakhir, studio tersebut mengandalkan remake live-action sebagai mesin pendapatan utama, namun data terbaru menunjukkan penurunan minat penonton terhadap adaptasi yang dianggap kurang inovatif. Analis pasar memperkirakan bahwa Disney harus beralih ke original content atau mengembangkan franchise yang lebih relevan dengan tren streaming dan platform digital.
Di sisi lain, respons penonton Indonesia menunjukkan bahwa film ini tetap memiliki daya tarik kuat di wilayah Asia Tenggara, terutama karena faktor budaya Polinesia yang dekat dengan tradisi maritim Indonesia. Kehadiran artis lokal seperti Catherine Lagaʻaia, yang merupakan keturunan Polinesia, menambah nilai autentik dan meningkatkan keterlibatan penonton di pasar domestik.
Kesimpulannya, meskipun Moana mengalami penurunan pendapatan yang signifikan secara global, film ini tetap menjadi acara penting bagi penonton Indonesia, menawarkan pengalaman sinematik yang memadukan keindahan visual, musik tradisional, dan pesan lingkungan yang relevan. Ke depannya, Disney perlu menilai kembali strategi remake live-action‑nya, sambil memperkuat kehadiran konten orisinal yang dapat menyesuaikan dengan selera penonton yang terus berubah.