Matheus Cunha Mengungkap Kekecewaan Brasil Usai Kekalahan Memalukan dari Norwegia di Piala Dunia 2026
Blog Berita daikin-diid – 06 Juli 2026 | Manchester United forward Matheus Cunha menjadi sorotan utama setelah Brazil tersingkir dari Piala Dunia 2026 pada laga babak 16 besar melawan Norwegia. Pertandingan yang berlangsung di Stadion New York/New Jersey pada 6 Juli 2026 berakhir dengan skor 2-1 untuk Norwegia, menutup harapan Brasil untuk melaju ke perempat final. Tanpa keraguan, Cunha menyatakan bahwa hari itu merupakan hari tersulit dalam karier profesionalnya.
Dalam wawancara pasca pertandingan, pemain berusia 25 tahun itu mengaku, “Tanpa ragu, hari ini adalah hari paling sulit dalam hidup saya secara profesional. Kami memiliki peluang yang tidak kami konversi, sementara mereka mengkonversi peluang mereka. Ada banyak kesedihan di ruang ganti, banyak tangisan, banyak rasa sakit. Hal terburuk adalah kami mengecewakan banyak orang, dan itu yang paling menyakitkan.” Pernyataan ini mencerminkan beban emosional yang dirasakan seluruh skuad Brasil, terutama mengingat ekspektasi tinggi untuk mengembalikan trofi dunia keenam yang terakhir diraih pada 2002.
Sebelum pertandingan, Cunha pernah menilai lini serang Norwegia sebagai ancaman besar. Dalam sebuah konferensi pers menjelang pertemuan, ia menegaskan, “Lini serang mereka sangat, sangat kuat. Banyak pemain yang sudah kami kenal, dan saya pernah menghadapi mereka di Inggris.” Penilaian tersebut terbukti tepat mengingat Erling Haaland mencetak dua gol krusial pada menit ke-79 dan 90, memastikan kemenangan Norwegia. Di samping Haaland, Alexander Sorloth dan kapten Martin Ødegaard juga menjadi bagian penting dari serangan tim Skandinavia.
Sejumlah insiden kunci juga memengaruhi hasil laga. Pada menit awal babak pertama, Kristoffer Ajer menumpukkan Matheus Cunha di dalam kotak penalti, memicu permintaan tendangan penalti dari Brasil. Awalnya wasit Ismail Elfath menolak, namun setelah intervensi VAR keputusan tersebut dibatalkan dan penalti diberikan. Sayangnya, Bruno Guimarães yang mengeksekusi penalti tersebut gagal menaklukkan kiper Norwegia, Orjan Nyland, yang menebak arah tembakan dan melakukan penyelamatan penting.
Selain aksi-aksi di lapangan, susunan pemain Brasil pada hari itu mengalami perubahan signifikan. Gabriel Martinelli menggantikan Lucas Paquetá yang cedera, sementara Rayan, Vinícius Júnior, dan Matheus Cunha membentuk lini depan utama. Di sisi lain, Neymar, yang baru saja kembali dari cedera panjang, hanya tampil singkat dan mencetak penalti pada menit tambahan, yang menjadi gol terakhirnya di level internasional. Penampilan emosional Neymar menambah nuansa dramatis pada laga yang berakhir dengan kepedihan.
Statistik menunjukkan bahwa Brazil telah mencetak tiga gol dalam lima pertandingan turnamen, dengan Cunha sendiri menyumbang tiga gol. Namun, ketidakmampuan tim untuk mengonversi peluang di momen krusial menjadi faktor penentu. Norwegia, yang mencatatkan sepuluh gol dalam empat pertandingan grup, menampilkan efisiensi serangan yang tinggi, dipimpin oleh Haaland yang telah mencetak lima gol di turnamen ini, menjadikannya pencetak gol terbanyak sejauh ini.
Komentator dan analis sepak bola menilai bahwa kekalahan ini menandai kegagalan Brazil dalam mengatasi tekanan mental dan taktik. Kerap kali, tim Brasil dianggap terlalu mengandalkan kreativitas individual, sementara lawan seperti Norwegia menampilkan disiplin taktik yang kuat serta kemampuan mengeksekusi peluang dengan cepat. Kritik ini menambah beban pada pelatih Carlo Ancelotti, yang harus menyeimbangkan ekspektasi publik dan performa tim.
Meski berakhir dengan kekecewaan, Matheus Cunla tetap menegaskan tekadnya untuk bangkit kembali. “Target utama kami adalah kembali menjadi juara dunia. Kami ingin membuat masyarakat Brasil bangga. Jika generasi ini ingin dikenang, maka itu harus dengan mempersembahkan satu bintang lagi,” ujarnya dalam pernyataan terakhir. Harapan tersebut tetap hidup meski Brasil harus mengakhiri kampanye Piala Dunia 2026 lebih awal dari yang diharapkan.
Dengan hasil ini, Brasil menutup catatan turnamen dengan satu kemenangan, dua seri, dan satu kekalahan. Sementara Norwegia melaju ke perempat final, menantikan lawan berikutnya dengan keyakinan tinggi. Bagi Matheus Cunha, pengalaman pahit ini menjadi pelajaran berharga yang mungkin akan membentuk karier internasionalnya ke depan.