Luka Modrić Dekat Rekor 200 Penampilan Internasional di Usia 40: Pusaran Karier, Keluarga, dan Penyesalan Final 2018
Blog Berita daikin-diid – 18 Juni 2026 | Kapten Kroasia Luka Modrić kembali menjadi sorotan dunia sepakbola menjelang pembukaan Piala Dunia 2026. Pada usia 40 tahun, gelandang berusia tiga dekade ini diprediksi akan menambah satu penampilan lagi untuk mencapai 200 caps, menandai 199 penampilan pertamanya melawan Inggris pada laga pembuka Grup L di Dallas Stadium. Pencapaian ini menempatkannya di antara sedikit pemain internasional yang berhasil menembus batas dua ratus penampilan, menegaskan daya tahan fisik dan konsistensi teknisnya selama hampir dua puluh tahun.
Modrić pertama kali melangkah ke panggung Piala Dunia pada 2006, dan kini ia tengah menyiapkan penampilan kelimatanya dalam turnamen terbesar sepakbola. Sejak debutnya, ia telah menjadi tulang punggung Kroasia, memimpin tim meraih posisi runner-up pada 2018 di Rusia dan peringkat ketiga pada 2022 di Qatar. Pelatih Zlatko Dalić menegaskan peran sentral Modrić meski usianya menembus batas empat dekade, menyebutnya sebagai “tangan kanan” di lapangan dan contoh teladan bagi generasi muda.
Di luar lapangan, kehidupan pribadi Modrić tetap terjaga rapi. Ia menikah dengan Vanja Bosnić sejak Mei 2010, pasangan yang bertemu pada 2007 ketika Bosnić bekerja di Mamić Sports Agency. Vanja, lulusan ekonomi Universitas Zagreb, pernah berperan sebagai agen Modrić dan berkontribusi dalam transfer bersejarahnya ke Real Madrid pada 2012. Meskipun jarang muncul di sorotan media, kehadirannya dianggap vital dalam mendukung karier suaminya, memberikan stabilitas yang memungkinkan Modrić fokus pada performa di level tertinggi.
Jadwal grup Kroasia di Piala Dunia 2026 menampilkan tiga pertandingan penting: pembukaan melawan Inggris pada 17 Juni, diikuti Panama pada 23 Juni di Toronto, dan Ghana pada 27 Juni di Philadelphia. Jika Modrić menambah satu caps pada laga pertama, ia berpeluang mencapai 200 caps sebelum akhir fase grup, sebuah prestasi yang akan menambah legenda pribadinya. Analisis taktis menggarisbawahi peranannya sebagai pengatur irama permainan, berkolaborasi dengan Mateo Kovačić, Joško Gvardiol, serta Andrej Kramarić dalam mengendalikan lini tengah dan menciptakan peluang menyerang.
Meski menatap masa depan yang cerah, Modrić tidak melupakan rasa pahit yang masih menggelayuti ingatannya. Dalam sebuah wawancara dengan surat “L’Équipe”, ia mengungkapkan kekecewaan mendalam atas kekalahan 4-2 melawan Prancis di final Piala Dunia 2018. Ia menyebut peristiwa tersebut “sangat menjijikkan” karena keputusan-keputusan tak terduga, seperti gol bunuh diri dari tendangan bebas dan kontroversi penalti yang menimpa Ivan Perišić. Modrić menilai timnya kurang beruntung dan menekankan pentingnya faktor keberuntungan dalam turnamen bergengsi.
Penampilan Modrić di Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ujian fisik, melainkan juga simbol ketangguhan mental seorang pemimpin yang telah melewati puncak dan lembah dalam kariernya. Dari memegang trofi Ballon d’Or 2018, enam gelar Liga Champions, hingga menjadi sosok inspiratif bagi pemain muda Kroasia, ia menutup babak karier internasionalnya dengan rasa hormat terhadap sejarah dan tekad untuk menambah catatan positif. Jika ia berhasil mencatat 200 caps, itu akan menjadi penutup yang sempurna bagi perjalanan luar biasa seorang maestro tengah lapangan, sekaligus menegaskan bahwa usia bukanlah penghalang bagi kualitas dan dedikasi.