Drama Red Card Jarell Quansah Bikin Inggris Tersandung di Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Blog Berita daikin-diid – 07 Juli 2026 | England mengalami pukulan berat di babak 16 besar Piala Dunia 2026 ketika bek muda Jarell Quansah menerima kartu merah langsung setelah intervensi VAR pada laga melawan Meksiko. Kejadian yang terjadi di menit-menit awal babak kedua itu menimbulkan kontroversi, memicu keributan di pinggir lapangan, dan menguji ketangguhan tim asuh Thomas Tuchel.
Insiden bermula ketika Quansah, yang menggantikan posisi right-back akibat cedera pada Reece James, melakukan tekel tinggi pada pemain sayap Meksiko, Jesus Gallardo. Rekaman ulang memperlihatkan kaki Quansah berada di atas pinggang Gallardo saat ia berusaha merebut bola. Hal tersebut dianggap sebagai tekel berbahaya oleh wasit utama Alireza Faghani, yang kemudian memanggil VAR untuk meninjau kembali aksi tersebut.
Setelah meninjau, Faghani memutuskan memberi kartu merah langsung kepada Quansah. Keputusan ini tidak hanya mengurangi jumlah pemain Inggris menjadi sepuluh, tetapi juga memicu reaksi keras dari bangku cadangan Meksiko. Alan Shearer, yang sedang menjadi komentator bagi BBC, melaporkan bahwa para pemain dan staf Meksiko melontarkan pukulan ke arah lawan, menciptakan keributan di tepi lapangan yang sempat mengganggu kelancaran pertandingan.
Walaupun kehilangan satu bek penting, Inggris berhasil mempertahankan keunggulan 2‑1 yang mereka peroleh sebelum kartu merah dikeluarkan. Harry Kane menambah keunggulan lewat tendangan penalti, memperbesar selisih menjadi 3‑1. Namun, Raul Jimenez berhasil menyamakan kedudukan menjadi 3‑3 lewat tendangan penalti pada menit-menit akhir, memaksa pertandingan masuk ke perpanjangan waktu.
Dalam perpanjangan waktu, Inggris kembali mengamankan kemenangan berkat gol krusial yang dihasilkan dari serangan balik. Dengan hasil akhir 4‑3, Three Lions melaju ke perempat final untuk menghadapi Norway. Kemenangan ini menunjukkan kemampuan mental tim untuk bangkit meski harus bermain dengan satu pemain lebih sedikit selama lebih dari 30 menit.
Penampilan Quansah menimbulkan perdebatan tentang kebijakan seleksi Tuchel dalam mengisi posisi bek kanan. Cedera hamstring yang menimpa Reece James sejak fase grup membuat Tuchel terpaksa mengandalkan pemain cadangan. Quansah, yang belum pernah tampil di turnamen utama, diberikan kepercayaan besar namun sayangnya harus belajar keras di panggung dunia.
Berbagai analis menilai bahwa keputusan VAR tersebut sesuai dengan regulasi FIFA yang melarang tekel berbahaya. Namun, ada juga suara yang menilai keputusan terlalu keras mengingat intensitas pertandingan di Azteca Stadium yang terkenal dengan atmosfer menegangkan. Sementara itu, para pendukung Inggris menyuarakan dukungan kepada Quansah, berharap insiden ini tidak menghambat kariernya ke depan.
Statistik pertandingan menunjukkan bahwa Inggris mencatat 17 tembakan, dengan 7 di antaranya mengarah ke gawang, sementara Meksiko mencatat 14 tembakan, 5 di antaranya tepat sasaran. Kartu merah Quansah menjadi satu-satunya kartu merah yang dikeluarkan dalam laga ini, menambah catatan disiplin yang relatif bersih bagi kedua tim.
Keputusan VAR dan dampaknya pada taktik Tuchel menjadi bahan diskusi di ruang ganti. Dengan satu pemain kurang, Inggris beralih ke formasi 4‑4‑2 lebih defensif, menutup ruang di sisi kanan dan memaksa Meksiko bermain lebih terfokus di tengah. Langkah taktis ini terbukti efektif, meski menuntut kerja ekstra dari pemain sayap seperti Phil Foden yang harus membantu pertahanan.
Kesimpulannya, insiden Jarell Quansah menjadi momen dramatis yang memperlihatkan betapa pentingnya keputusan teknologi dalam sepak bola modern. Meski tim harus menyesuaikan diri dengan kondisi kurang pemain, mereka berhasil menembus babak perempat final, menegaskan bahwa ketangguhan mental dan fleksibilitas taktik dapat mengatasi rintangan tak terduga.