Manu Koné: Dari Roma ke Panggung Dunia, Kunci Peran Prancis di Laga Quarterfinal FIFA 2026
Blog Berita daikin-diid – 10 Juli 2026 | Roma menegaskan kehadirannya di panggung global lewat salah satu talenta mudanya, Manu Koné, yang tampil sebagai gelandang inti tim nasional Prancis pada perempat final Piala Dunia 2026 melawan Maroko. Pertandingan yang digelar di Boston Stadium pada 9 Juli 2026 menyajikan duel taktik antara dua tim yang sama-sama mengincar tiket semifinal, sekaligus menambah catatan penting dalam karier Koné.
Berawal dari penampilan impresif di Serie A bersama klub Italia Roma, Koné berhasil mengamankan posisi reguler di skuad Les Bleus meski harus bersaing dengan nama-nama besar seperti Aurelien Tchaouameni yang baru pulih dari cedera otot. Pelatih Didier Deschamps menaruh kepercayaan penuh pada Koné, menempatkannya di lini tengah bersama Adrien Rabiot dalam formasi 4-3-3 yang menekankan penguasaan bola dan transisi cepat.
Namun, perjalanan Koné di turnamen tidak lepas dari tantangan disiplin. Pada pertandingan babak 16 melawan Paraguay, gelandang berusia 23 tahun ini menerima kartu kuning setelah terlibat dalam duel keras di tengah lapangan. Kartu tersebut menempatkannya dalam posisi rawan – satu kartu lagi dapat mengakibatkan suspensi pada laga penting berikutnya, yakni quarterfinal melawan Maroko. Risiko tersebut menjadi sorotan media, terutama dalam laporan “Yellow alert” yang menyoroti pemain-pemain yang berada di ambang skorsing.
Dalam laga quarterfinal, Prancis memulai pertandingan dengan tekanan tinggi. Koné berperan aktif dalam memecah serangan Maroko, memotong alur passing lawan dan mendistribusikan bola ke sisi sayap. Meskipun tidak mencetak gol, kontribusinya terlihat pada dua kesempatan penting: pada menit ke-18, ia memberikan umpan pendek kepada Kylian Mbappé yang hampir mengubah skor menjadi 1-0 sebelum diselamatkan oleh kiper Maroko, Yassine Bounou. Kemudian, pada menit ke-34, Koné membantu menahan serangan balik Maroko dengan melakukan tekel bersih, mengurangi tekanan pada pertahanan Prancis.
Statistik pertandingan mencatat bahwa Koné mencatat 4 tekel berhasil, 3 intersepsi, dan 58% akurasi passing, angka yang menempatkannya sebagai salah satu gelandang paling efisien di lapangan. Performa tersebut mempertegas peranannya sebagai penghubung antara lini pertahanan dan serangan, terutama ketika tim harus menahan serangan balik cepat Maroko yang dipimpin oleh pemain berpengalaman seperti Achraf Hakimi.
- Posisi: Gelandang Tengah (Central Midfielder)
- Klub: AS Roma (Serie A)
- Usia: 23 tahun
- Kartu Kuning di Turnamen: 1 (Babak 16)
- Statistik Quarterfinal: 4 tekel, 3 intersepsi, 58% akurasi passing
Ketegangan disiplin kembali muncul pada menit ke-70 ketika Koné terlibat dalam duel fisik dengan pemain Maroko, namun berhasil menghindari kartu kedua berkat keputusan wasit yang memihaknya. Deschamps, yang terlihat frustrasi pada jeda hidrasi, tetap menegaskan kepercayaan pada gelandang muda itu, mengingat pentingnya kestabilan lini tengah dalam menghadapi tekanan lawan yang semakin intensif.
Meski Prancis belum berhasil membuka keunggulan lewat gol, tekanan terus berlanjut. Kegagalan Mbappé mengeksekusi penalti pada menit ke-55 menambah beban mental bagi tim. Di sisi lain, Koné terus menjadi motor penggerak dalam transisi, membantu mengatur ritme permainan dan memberi ruang bagi rekan-rekannya seperti Michael Olise dan Ousmane Dembélé untuk melancarkan serangan.
Keberhasilan Prancis dalam mengendalikan tempo pertandingan dan menahan serangan Maroko hingga menit akhir memberi harapan bagi tim untuk melaju ke semifinal. Namun, ancaman kartu kuning yang menempel pada Koné tetap menjadi faktor penentu. Jika gelandang Roma tersebut kembali terlibat dalam tindakan keras, risiko skorsing pada laga semifinal melawan pemenang antara Spanyol atau Belgia dapat mengubah strategi Deschamps.
Secara keseluruhan, penampilan Manu Koné di Piala Dunia 2026 menegaskan kualitasnya sebagai gelandang modern yang menggabungkan ketangguhan defensif dengan visi permainan. Keberhasilannya mempertahankan posisi di skuad nasional meski bersaing dengan pemain berpengalaman menambah nilai jualnya, tidak hanya bagi Roma tetapi juga bagi pasar transfer Eropa. Jika Prancis berhasil menembus semifinal, Koné berpotensi menjadi salah satu pemain kunci yang membantu tim meraih gelar juara dunia pertamanya sejak 1998.