Investor Asing Jual Rp 8,5 Triliun, IHSG Goyang; Proyeksi 14.000 Poin Buka Peluang Besar
Blog Berita daikin-diid – 31 Mei 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, dengan penurunan tipis 0,05 persen menjadi 6.127,38 poin. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan jual signifikan dari investor asing yang pada hari itu mencatat penjualan saham senilai sekitar Rp 8,5 triliun. Volume transaksi harian mencapai level tertinggi minggu ini, menandakan volatilitas yang cukup tinggi pada sesi tersebut.
Sepanjang sesi perdagangan, IHSG sempat menembus level tertinggi 6.230,50 poin dan menguat 1,43 persen menjadi 6.217,87 poin pada awal sesi. Namun, aksi jual massal menjelang penutupan menggerakkan indeks kembali ke zona merah. Saham-saham bank menjadi yang paling tertekan; nilai kapitalisasi pasar bank-bank utama menurun secara konsisten, mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap arus keluar dana asing.
- Nilai penjualan saham oleh investor asing: Rp 8,5 triliun
- IHSG penutupan: 6.127,38 poin (-0,05%)
- Level tertinggi intraday: 6.230,50 poin
- Sektor paling terdampak: Perbankan
Sementara data harian menunjukkan tekanan jual, pandangan jangka panjang bagi pasar modal Indonesia justru mengarah pada optimisme yang cukup kuat. Dosen akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang, Fery Citra Febriyanto, dalam sebuah tulisan akademik pada 30 Mei 2026, menyoroti kemungkinan IHSG melesat hingga mencapai level psikologis 14.000 poin. Proyeksi tersebut didasarkan pada dinamika suku bunga riil negatif (Real Negative Interest Rate – RNIR) yang dapat muncul bila bank sentral utama dunia memilih untuk menahan kenaikan suku bunga meski inflasi terus menguat.
RNIR merupakan kondisi di mana tingkat inflasi melebihi suku bunga acuan bank sentral, sehingga imbal hasil riil menjadi negatif. Dalam skenario ini, dana institusional seperti dana pensiun dan hedge fund akan mengalami penurunan nilai riil pada portofolio obligasi pemerintah yang biasanya dianggap aman. Akibatnya, fenomena “There Is No Alternative” (TINA) mendorong perpindahan dana ke aset berisiko lebih tinggi, termasuk ekuitas. Jika aliran dana global mengalir ke pasar saham Indonesia, valuasi saham dapat mengalami penggelembungan yang signifikan, membuka peluang bagi IHSG menembus level 14.000.
Fenomena serupa pernah terjadi di Jepang pada 2022 ketika Bank of Japan (BOJ) mempertahankan kebijakan suku bunga negatif (-0,1 %) dan program pelonggaran kuantitatif, sementara bank sentral lain menaikkan suku bunga secara agresif. Nikkei 225 kemudian melesat lebih dari dua kali lipat dalam setahun, mencatat kenaikan tajam pada indeks saham utama. Analisis Febriyanto menganggap bahwa kondisi makro ekonomi global saat ini—termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menimbulkan volatilitas harga minyak—dapat meniru pola tersebut, terutama bila kebijakan moneter utama tetap akomodatif.
Namun, potensi kenaikan tajam IHSG tetap dihadapkan pada risiko. Kebijakan moneter yang lebih ketat di Amerika Serikat atau zona euro dapat memperkuat dolar dan menekan aliran modal ke negara berkembang. Selain itu, ketidakpastian politik domestik serta kualitas laporan keuangan perusahaan juga menjadi faktor penentu arah pasar.
Secara keseluruhan, meskipun aksi jual investor asing pada akhir Mei memberikan tekanan jangka pendek pada IHSG, prospek jangka menengah hingga panjang tetap dipengaruhi oleh dinamika suku bunga global dan aliran dana internasional. Investor perlu memperhatikan indikator kebijakan moneter utama serta sentimen pasar global untuk menilai apakah pasar Indonesia dapat menyusul jejak keberhasilan Nikkei dan mencapai level 14.000 poin dalam beberapa tahun ke depan.