Aryna Sabalenka Mengaku Ingin Mengundurkan Diri Usai Kekalahan Mengejutkan di French Open
Blog Berita daikin-diid – 05 Juni 2026 | Petenis dunia berusia 26 tahun, Aryna Sabalenka, mengungkapkan keinginannya untuk meninggalkan tenis setelah mengalami kekalahan tiga set pada perempat final French Open melawan petenis muda asal Rusia, Diana Shnaider. Pernyataan tersebut muncul dalam konferensi pers singkat di Roland Garros, di mana Sabalenka tampak jelas terguncang secara emosional.
Sabalenka, yang kini menempati peringkat satu dunia di papan peringkat WTA, sebelumnya telah mengukir serangkaian prestasi gemilang, termasuk gelar Grand Slam pertamanya di US Open 2023 dan gelar Wimbledon 2024. Namun, performa di French Open 2026 tidak sesuai ekspektasi. Dalam pertandingan yang berlangsung selama tiga set, Shnaider berhasil membalikkan keadaan setelah awal yang menantang, menutup dengan skor 6-4, 2-6, 6-3.
“Saya benar‑benar lelah secara mental dan fisik,” ujar Sabalenka dengan nada berat. “Setelah pertandingan ini, saya berpikir untuk berhenti dari tenis. Saya butuh waktu untuk menyusun kembali emosi saya sebelum kembali ke lapangan.”
Reaksi Sabalenka memicu spekulasi luas di kalangan pengamat dan penggemar. Beberapa mengaitkan pernyataannya dengan tekanan luar biasa yang dihadapi petenis berperingkat satu, termasuk ekspektasi sponsor, beban jadwal turnamen, serta sorotan media yang intens. Selain itu, cedera ringan pada pergelangan tangan yang dialaminya selama pertandingan melawan Shnaider menjadi faktor tambahan yang memperburuk kondisi mentalnya.
Meski demikian, pelatih utama Sabalenka, Wim Fissette, menegaskan bahwa pemainnya masih memiliki potensi besar untuk bangkit kembali. “Aryna memang sedang berada dalam fase refleksi diri. Kami tidak menutup kemungkinan ia akan kembali dengan semangat baru setelah istirahat yang cukup,” kata Fissette dalam wawancara terpisah.
Berikut rangkuman singkat perjalanan Sabalenka di French Open 2026:
- Babak pertama: Menang telak 6-2, 6-3 atas pemain peringkat 75 dunia.
- Babak kedua: Mengatasi lawan bertaraf peringkat 30 dengan skor 7-5, 6-4.
- Babak ketiga (perempat final): Kalah dari Diana Shnaider 6-4, 2-6, 6-3.
Dalam konteks yang lebih luas, performa Sabalenka di musim ini juga mengalami fluktuasi. Setelah mengklaim gelar di Madrid Open pada bulan April, ia tersingkir di perempat final Wimbledon karena cedera pergelangan kaki. Kegagalan di French Open menambah daftar kekalahan yang menekan mentalnya.
Pengamat tenis berpendapat bahwa keputusan Sabalenka untuk mempertimbangkan pensiun sementara bisa menjadi strategi jangka panjang. “Banyak atlet elite membutuhkan jeda untuk mengatasi burnout,” ujar Dr. Lena Müller, psikolog olahraga. “Jika dikelola dengan baik, istirahat dapat meningkatkan performa di masa depan.”
Namun, spekulasi tentang kemungkinan pensiun permanen tetap mengemuka. Penggemar dan rekan satu sirkuit menilai Sabalenka sebagai salah satu figur paling dinamis dalam era modern tenis wanita, dengan gaya bermain agresif dan servis kuat yang menjadi ciri khasnya.
Para sponsor utama Sabalenka, termasuk merek sport internasional, belum memberikan pernyataan resmi mengenai dampak potensial keputusan tersebut terhadap kontrak jangka panjang. Sementara itu, WTA menyiapkan program dukungan mental bagi pemain yang mengalami tekanan tinggi, termasuk sesi konseling dan penyesuaian jadwal kompetisi.
Ke depan, Sabalenka dijadwalkan berpartisipasi dalam turnamen persiapan akhir musim di Asia, namun kehadirannya masih dipertanyakan. Semua mata kini tertuju pada keputusan akhir yang akan diambil oleh petenis asal Belarus ini, apakah ia akan kembali ke sirkuit dengan semangat baru atau menutup babak karier yang penuh prestasi.
Apapun keputusan yang diambil, dampaknya akan terasa tidak hanya pada dunia tenis, tetapi juga pada para penggemar yang telah menyaksikan kebangkitan Sabalenka dari masa-masa awal hingga menjadi nomor satu dunia.