Frank Hutapea: Dari Bayang-Bayang Hotman Paris ke Panggung Kementerian Pertahanan
Blog Berita daikin-diid – 18 Juli 2026 | Frank Alexander Hutapea, putra sulung pengacara kondang Hotman Paris, kembali menjadi sorotan publik setelah mengkritik keputusan ayahnya menjadi kuasa hukum mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah. Kritik terbuka itu tidak hanya memicu perdebatan di media sosial, melainkan juga menyingkap jejak karier profesional Frank yang selama ini tersembunyi di balik nama besar ayahnya.
Born in Jakarta in 1991, Frank menempuh pendidikan hukum di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta (2010‑2013) dan melanjutkan studi di University of Kent, Inggris, dengan fokus pada hukum perbankan, korporasi, keuangan, dan keamanan. Selama masa kuliah, ia sempat mengikuti program Summer Trainee di firma internasional O’Melveny & Myers LLP serta SJ Berwin pada tahun 2011, lalu menjadi Summer Assistant di Gray’s Inn Square pada 2012. Pengalaman di luar negeri tersebut menjadi landasan kuat bagi Frank ketika kembali ke Indonesia.
Kariernya di tanah air dimulai sebagai Associate Trainee di Hadiputranto, Hadinoto & Partners (2013‑2014). Pada 2014, ia bergabung dengan firma ayahnya, Hotman Paris & Partners, sebagai associate. Selama tiga tahun pertama ia menangani litigasi komersial, restrukturisasi perusahaan, kepailitan, serta sengketa administrasi negara. Prestasinya membuahkan promosi menjadi partner pada tahun 2017, posisi yang dijabatnya hingga 2025. Selama masa partnership, Frank terlibat dalam kasus perpajakan tingkat tinggi dan penyelesaian sengketa multinasional, menjadikannya sosok yang dihormati di kalangan praktisi hukum.
Puncak pengakuan publik datang ketika Frank mengungkapkan kekecewaannya atas keputusan Hotman Paris menjadi kuasa hukum Febrie Adriansyah. Dalam sebuah Instagram Story pada 17 Juli 2026, ia menilai tindakan ayahnya sebagai “pencitraan publik” yang mengorbankan nilai‑nilai etika profesi. Pernyataan tersebut menimbulkan reaksi beragam: sebagian netizen mendukung keberanian Frank, sementara yang lain menilai langkah itu tidak pantas bagi seorang anak.
Tak hanya menjadi bahan perbincangan media, kritik tersebut membuka tabir hubungan pribadi antara ayah dan anak. Frank mengakui bahwa sejak satu tahun lalu ia tidak bertegur sapa dengan Hotman Paris. Keputusan untuk memisahkan jalur karier pun diambilnya dengan mendirikan kantor hukum independen, FRANK Solicitors, pada Desember 2025. Kantor tersebut kini fokus pada layanan hukum korporasi, kepatuhan regulasi, dan konsultasi pertahanan nasional.
Penunjukan terbaru yang menegaskan keberhasilan profesional Frank adalah perannya sebagai Tenaga Ahli Madya di Dewan Pertahanan Nasional (DPN) Kementerian Pertahanan. Sebagai tenaga ahli, ia memberikan masukan strategis terkait kebijakan pertahanan, keamanan siber, dan kerjasama internasional dalam bidang hukum militer. Penempatan ini menandai pertama kalinya seorang praktisi hukum muda dari latar belakang keluarga pengacara terkemuka dipercaya mengisi posisi strategis di kementerian.
Berikut rangkuman singkat perjalanan karier Frank Hutapea:
- 2011: Summer Trainee di O’Melveny & Myers LLP dan SJ Berwin (AS/UK)
- 2012: Summer Assistant di 4‑5 Gray’s Inn Square, Inggris
- 2013‑2014: Associate Trainee, Hadiputranto, Hadinoto & Partners
- 2014‑2017: Associate, Hotman Paris & Partners
- 2017‑2025: Partner, Hotman Paris & Partners
- Desember 2025: Pendiri FRANK Solicitors
- 2026: Tenaga Ahli Madya, Dewan Pertahanan Nasional, Kementerian Pertahanan
Selain prestasi profesional, Frank juga dikenal sebagai sosok yang menjaga integritas pribadi. Ia menolak menerima bayaran dari klien yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan, termasuk kasus Febrie Adriansyah, meski ayahnya bersikeras bahwa tidak ada pembayaran. Sikap tersebut menegaskan komitmen Frank terhadap standar etika hukum yang ketat.
Dalam beberapa minggu terakhir, publik menantikan langkah selanjutnya Frank dalam dunia hukum dan pertahanan. Apakah ia akan terus memperkuat peran di Kementerian Pertahanan, atau fokus pada ekspansi FRANK Solicitors ke pasar internasional? Hanya waktu yang akan menjawab, namun yang pasti, Frank Hutapea telah membuktikan dirinya bukan sekadar “anak Hotman Paris”, melainkan seorang profesional berpengalaman yang mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Kesimpulannya, perjalanan Frank Hutapea mencerminkan kombinasi pendidikan internasional, pengalaman kerja di firma-firma top, serta keberanian untuk mengekspresikan pendapat kritis terhadap keluarga. Keberhasilan penunjukannya sebagai tenaga ahli di kementerian menegaskan bahwa kompetensi dan integritasnya diakui secara luas, sekaligus membuka lembaran baru bagi generasi muda pengacara Indonesia.