Paddy Pimblett Ungkap Tekad Besar: Dari Ancaman Pensiun hingga Klaim Menjadi Wajah Baru UFC setelah Kemenangan Mengejutkan di UFC 329
Blog Berita daikin-diid – 13 Juli 2026 | Petarung asal Liverpool, Paddy “Baddy” Pimblett, kembali menjadi sorotan utama dunia MMA setelah menaklukkan Benoit Saint Denis (BSD) dalam waktu kurang dari satu menit pada co‑main event UFC 329 di Las Vegas. Kemenangan tersebut tidak hanya mengembalikan posisi Pimblet dalam persaingan gelar kelas ringan, tetapi juga memicu serangkaian pernyataan kontroversial yang mengundang perhatian media dan penggemar.
Dalam wawancara pasca‑pertarungan, Pimblett mengungkapkan bahwa ia hampir memutuskan pensiun jika tidak berhasil mengalahkan BSD. “Empat atau lima minggu lalu, saya berbicara dengan pelatih saya dan berkata, ‘Jika saya tidak menang, apa gunanya terus bertarung? Saya mungkin akan pensiun,’” ujarnya. Ia menegaskan bahwa tujuan utama kariernya adalah menjadi juara dunia, sehingga kegagalan melawan BSD akan menjadi titik akhir.
Kemenangan cepat atas BSD, yang terjadi melalui choke dalam 60 detik setelah lawan melakukan takedown sembrono, memberi Pimblett momentum penting setelah kekalahan telak melawan Justin Gaethje pada Januari lalu. “Saya merasa seperti ada api yang menyala kembali di dalam diri saya,” tambah Pimblett. “Latihan dua minggu terakhir sungguh luar biasa, dan saya siap mengalahkan siapa saja yang berani melangkah ke depan.”
Sementara itu, di arena utama, Conor McGregor mengalami kegagalan dramatis ketika lututnya cedera hanya 69 detik setelah pertarungan melawan Max Holloway. Reaksi Pimblett terhadap insiden tersebut menjadi bahan perbincangan luas. Ia berkomentar, “Sedih melihatnya, tapi dalam olahraga ini konsistensi dan kemampuan bertarung adalah segalanya. Tubuhnya tidak siap setelah begitu lama tidak bertarung, jadi saya merasa kasihan padanya.”
Namun, tidak semua komentar Pimblett diterima dengan baik. Setelah kemenangan, ia melontarkan pernyataan yang menyinggung McGregor secara langsung, menyebut bahwa “McGregor sudah selesai, dan anak baru (Baddy) sudah tiba.” Pernyataan ini membuatnya dijuluki “two‑faced” oleh beberapa rekan petarung, termasuk heavyweight UFC Josh Hokit yang menilai sikap tersebut tidak sportif. “Petarung adalah orang paling dua‑muka di dunia, hanya memberi rasa hormat ketika itu menguntungkan,” ujar Hokit.
Di sisi lain, Pimblett menegaskan fokusnya tidak pada nama‑nama besar, melainkan pada gelar UFC kelas ringan. Dalam laporan terpisah, ia menegaskan, “Saya tidak peduli siapa yang saya lawan, saya hanya ingin menjadi juara dunia. Semua yang saya lakukan adalah untuk mencapai puncak itu,” katanya. Penekanan pada tujuan jangka panjang ini menegaskan ambisinya yang jelas, sekaligus menyingkirkan rumor‑rumor tentang pensiun yang sempat mengemuka.
Reaksi publik terhadap pernyataan Pimblett terbagi. Sebagian mengapresiasi keberaniannya untuk berbicara terbuka tentang tekanan mental yang dihadapi petarung, sementara yang lain menilai sikapnya sebagai provokatif dan tidak menghormati rekan sesama atlet. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kemenangan cepat atas BSD menambah kredibilitasnya dalam perbincangan gelar kelas ringan yang kini diperebutkan oleh para kontestan papan atas.
Analisis para pengamat MMA menunjukkan bahwa kemenangan dalam waktu kurang dari satu menit menandakan bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kesiapan mental yang luar biasa. “Pimblett menunjukkan bahwa dia bisa mengubah dinamika pertarungan dalam sekejap, sesuatu yang sangat berharga dalam pencarian gelar,” ujar seorang analis senior UFC.
Sejumlah spekulasi kini mengarah pada kemungkinan pertarungan selanjutnya antara Pimblett dan petarung kelas ringan terkemuka seperti Islam Makhachev atau Charles Oliveira, yang keduanya berada di puncak peringkat UFC. Jika Pimblett berhasil mempertahankan momentum ini, peluangnya untuk menantang gelar UFC kelas ringan menjadi semakin nyata.
Kesimpulannya, Paddy Pimblett tidak hanya berhasil mengukir kemenangan dramatis di UFC 329, tetapi juga menegaskan tekadnya untuk menggapai puncak kelas ringan, meski harus menembus kritik dan kontroversi. Dengan fokus yang kuat pada gelar, serta kemampuan untuk menutup pertarungan dalam hitungan detik, ia berada di jalur yang tepat untuk menjadi salah satu bintang baru dalam sejarah UFC.