Argentina Pertahankan Gelar: Dari Kejayaan 2022 hingga Tantangan Piala Dunia 2026
Blog Berita daikin-diid – 14 Juli 2026 | Argentina kembali menjadi sorotan utama dunia sepak bola setelah mengukir sejarah dengan menjuarai Piala Dunia 2022. Keberhasilan yang dipimpin oleh Lionel Messi tidak hanya menambah koleksi trofi Albiceleste, tetapi juga menyiapkan panggung bagi kompetisi berikutnya di 2026, di mana tim-tim raksasa Eropa berjuang keras untuk merebut kembali mahkota.
Di Qatar 2022, Argentina menutup turnamen dengan kemenangan dramatis melalui adu penalti melawan Prancis, menegaskan kepiawaian Messi yang mencetak delapan gol sepanjang turnamen. Keberhasilan tersebut menempatkan Argentina pada posisi istimewa: menjadi tim pertama sejak Brasil 1962 yang berhasil mempertahankan gelar dunia, sekaligus menginspirasi generasi baru pemain seperti Lamine Yamal yang kini menjadi sorotan di Spanyol.
Menjelang Piala Dunia 2026, empat tim terakhir yang lolos ke semifinal—Argentina, Prancis, Spanyol, dan Inggris—menunjukkan bahwa tidak ada tim baru yang akan menambah daftar juara. Semua tim ini pernah mengangkat trofi sebelumnya, sehingga turnamen kali ini diprediksi tidak akan menghasilkan juara pertama kali.
- Argentina: Memasuki turnamen sebagai juara bertahan, menargetkan gelar keempat yang akan menyamai Jerman dan Italia.
- Prancis: Menjadi kandidat terkuat dengan probabilitas 34,6% menurut simulasi Opta, mengincar gelar ketiga beruntun.
- Spanyol: Menjaga pertahanan solid, kebobolan hanya satu gol hingga semifinal, berpeluang menjadi juara kedua.
- Inggris: Berambisi kembali ke final pertama sejak 1966.
Simulasi komputer Opta yang dilakukan sebelum semifinal antara Prancis dan Spanyol menunjukkan peluang kemenangan Prancis sebesar 43,9% dalam waktu reguler, sementara Spanyol memiliki peluang 29% dan 27,1% kemungkinan pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu. Data ini menegaskan ketatnya persaingan di antara dua tim Eropa yang sama-sama berada dalam performa puncak.
Berbagai skenario final yang dibahas media menambah antisipasi publik. Empat kemungkinan akhir turnamen meliputi:
- Prancis vs Inggris: Duel dua raksasa Eropa yang dapat menghasilkan final pertama antara kedua negara.
- Prancis vs Argentina: Ulangan final 2022 yang akan menjadi ajang balas dendam bagi Les Bleus.
- Spanyol vs Argentina: Pertemuan antara juara Eropa dan juara dunia yang dapat menandai era baru persaingan.
- Spanyol vs Inggris: Kombinasi klasik antara dua tim yang sama-sama mengejar gelar kedua.
Jika skenario Spanyol versus Argentina terwujud, laga tersebut akan mempertemukan dua generasi bintang: Lionel Messi yang masih memimpin serangan, dan Lamine Yamal, talenta muda Spanyol yang sudah menampilkan kualitas luar biasa. Pertandingan ini sekaligus menjadi potensi pertemuan pertama antara dua juara dunia—Argentina (1978, 1986, 2022) dan Spanyol (Euro 2024).
Di sisi lain, Argentina mengandalkan formasi seragam baru yang dirilis adidas untuk Piala Dunia 2026. Desainnya menampilkan gradasi tiga warna biru yang melambangkan tiga gelar dunia, sekaligus detail “1896” yang menandai pendirian AFA. Seragam tandang menampilkan motif tradisional biru berputar, menegaskan identitas visual tim sekaligus memberikan dorongan moral pada pemain.
Meski Messi berada dalam usia menengah karir, ia tetap menjadi pencetak gol terbanyak turnamen dengan delapan gol, menegaskan peran krusialnya dalam mempertahankan gelar. Sementara itu, Prancis mengandalkan kombinasi Kylian Mbappé dan Ousmane Dembélé, yang masing‑masing telah menyamai Messi dalam perburuan Sepatu Emas.
Semifinal antara Argentina dan Inggris di Atlanta menambah dimensi historis, karena Messi belum pernah melawan The Three Lions di level internasional. Ia mengaku antusias menghadapi lawan baru tersebut, menambah tekanan pada tim Inggris yang dipimpin oleh Harry Kane.
Kesimpulannya, perjalanan Argentina dari puncak kemenangan 2022 ke tantangan mempertahankan gelar di 2026 menjadi narasi utama dalam lanskap sepak bola internasional. Dengan empat tim semifinal yang semuanya pernah mengangkat trofi, Piala Dunia 2026 diprediksi akan menjadi turnamen yang menegaskan dominasi negara-negara tradisional dan menutup era kemungkinan munculnya juara baru.