Video Letusan Anak Krakatau Viral, Ini Fakta Resmi dan Langkah Penanggulangan Siaga Level III
Blog Berita daikin-diid – 05 Juli 2026 | Video beredar di media sosial menampilkan letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau (GAK) dengan semburan api merah pada malam hari. Rekaman berdurasi sekitar sepuluh detik tersebut menampilkan pemandangan dari atas kapal, di mana penumpang merekam langit gelap yang dipenuhi asap serta kilatan cahaya di sekitar kawah. Meskipun menimbulkan kepanikan, petugas menegaskan bahwa video itu bukan merekam kondisi terkini gunung.
Andi Suwardi, petugas pemantau di Pos Pengamatan Hargo Pancuran, Lampung Selatan, menjelaskan bahwa erupsi terakhir yang terpantau terjadi pada Jumat, 3 Juli 2026 pukul 15.00 WIB. Sejak saat itu, tidak ada lagi tanda erupsi yang terdeteksi hingga Sabtu siang. “Video yang beredar itu hoaks atau tidak menggambarkan kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini,” kata Andi saat konfirmasi pada 4 Juli 2026.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga mengeluarkan pernyataan bahwa video tersebut merupakan hasil manipulasi teknologi artificial intelligence (AI). Menurut PVMBG, bentuk gunung pada rekaman tidak sesuai dengan profil Anak Krakatau, serta tidak ada bukti letusan nyata pada layar ponsel yang ditunjukkan dalam video. “Besar kemungkinan video ini adalah penyalahgunaan AI,” tegas PVMBG.
Sementara itu, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2 Juli 2026 menaikkan status aktivitas GAK dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Peningkatan status didasarkan pada data peningkatan gempa vulkanik, emisi gas sulfur dioksida (SO₂), deformasi gunung, dan erupsi kecil yang terjadi beberapa hari sebelumnya.
Menanggapi status Siaga, Polda Lampung mengaktifkan Satgas Aman Nusa serta memperketat patroli di wilayah pesisir Selat Sunda. Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun, Kabid Humas Polda Lampung, menyatakan bahwa posko bencana alam telah dipersiapkan dan seluruh Polres di provinsi tersebut memiliki satuan khusus penanggulangan bencana. Patroli rutin Polairud juga dilakukan untuk mengawasi aktivitas laut dan menyampaikan imbauan kepada nelayan agar tidak mendekati zona berbahaya.
Imbauan serupa dikeluarkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang, Banten. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Strategi BPBD Pandeglang, Acep Firmansyah, meminta warga pesisir tetap tenang namun waspada. Menurut Acep, radius aman yang disarankan adalah lima kilometer dari pusat aktivitas gunung, mengingat potensi terjangan batu pijar dan abu vulkanik. “Kami ingin masyarakat tidak terpengaruh kepanikan, namun tetap memperhatikan rekomendasi keselamatan,” ujarnya.
Polisi juga menekankan pentingnya verifikasi informasi. Yuni mengimbau masyarakat untuk tidak mudah menyebarkan video atau berita yang belum terkonfirmasi. Ia menyarankan pengecekan melalui kanal resmi Badan Geologi, BMKG, BPBD, serta pemerintah daerah. “Informasi yang belum benar justru menimbulkan keresahan di tengah masyarakat,” kata Yuni.
Berbagai pihak menegaskan bahwa meskipun tidak ada erupsi signifikan pada hari itu, status Siaga tetap berlaku hingga adanya evaluasi lebih lanjut. Masyarakat, nelayan, dan wisatawan diminta untuk tidak mendekati area dengan radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung, serta mengikuti arahan petugas lapangan.
Kesimpulannya, video viral yang beredar tidak mencerminkan keadaan nyata Gunung Anak Krakatau. Status Siaga Level III tetap berlaku, dengan koordinasi intens antara PVMBG, Badan Geologi, BMKG, Polda Lampung, serta BPBD setempat untuk meminimalisir risiko dan memastikan keselamatan publik.