TNI AD Kirim 18 Prajurit Jadi Sopir Truk Tangki Pertamina: Solusi Sementara Atasi Krisis Distribusi BBM di Sumatera Utara
Blog Berita daikin-diid – 18 Juli 2026 | Ketika antrean panjang kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Sumatera Utara memicu kepanikan publik, pemerintah provinsi bersama Pertamina mengambil langkah tak terduga: menugaskan 18 prajurit TNI Angkatan Darat (AD) sebagai sopir truk tangki BBM. Penugasan ini bersifat sementara, bertujuan mengamankan pasokan bahan bakar hingga distribusi kembali normal.
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menjelaskan penyebab utama gangguan bukan karena kelangkaan stok, melainkan pemberhentian massal pengemudi truk tangki. “Pengemudi yang mengantar BBM mengalami pemberhentian massal, sehingga banyak truk tidak dapat beroperasi,” ujarnya di Kantor Pemprov Sumut pada 14 Juli 2026. Ia menegaskan bahwa stok BBM di provinsi tetap aman, namun distribusi terhambat sehingga antrean di SPBU meningkat.
Untuk menanggulangi situasi tersebut, Kodam I/Bukit Barisan mengirimkan 18 prajurit terlatih mengemudi kendaraan berat. Kepala Penerangan Kodam I/Bukit Barisan, Kolonel Infanteri (Inf) Sandy, menekankan bahwa penugasan bersifat darurat dan akan dihentikan begitu distribusi kembali lancar. “Bantuan ini diberikan atas permintaan resmi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan PT Pertamina melalui mitra operasionalnya, PT Elnusa Petrofin,” jelasnya dalam pernyataan tertulis tanggal 16 Juli 2026.
Surat permintaan PT Elnusa Petrofin, yang diterima pada 14 Juli 2026, menyebutkan kebutuhan pendampingan, pengamanan, dan pengawasan distribusi BBM dari Fuel Terminal Medan. Permintaan tersebut merujuk pada nota kesepahaman antara PT Pertamina (Persero) dan TNI mengenai pengamanan objek vital nasional strategis. Dengan demikian, keterlibatan TNI tidak berarti mengambil alih tugas Pertamina, melainkan sinergi antarlembaga untuk menjaga kelancaran energi.
Beberapa media menyoroti aksi prajurit TNI yang terlihat mengemudikan truk tangki di jalan raya Sumut. Video tersebut menjadi viral di media sosial, menimbulkan spekulasi bahwa militer mengambil alih sektor energi. Namun, Kolonel Sandy menegaskan, “Keterlibatan personel TNI AD bukan untuk mengambil alih tugas maupun kewenangan Pertamina ataupun PT Elnusa Petrofin, melainkan sebagai bentuk dukungan sementara.”
Di sisi lain, Pertamina menanggapi isu terkait mogoknya sopir truk tangki karena keterlambatan pembayaran. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani, membantah rumor tersebut. Ia menyatakan semua armada mobil tangki terus beroperasi 24 jam, dan pembayaran kepada mitra transporter dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku. “Tidak ada penghentian distribusi akibat persoalan pembayaran,” tegasnya.
Berikut rangkuman langkah-langkah yang diambil untuk mengatasi gangguan distribusi BBM di Sumatera Utara:
- Koordinasi antara Pemerintah Provinsi, Pertamina, PT Elnusa Petrofin, dan TNI AD.
- Penugasan 18 prajurit TNI AD sebagai sopir truk tangki, dengan kompetensi mengemudikan kendaraan berat.
- Pengoperasian Fuel Terminal dan SPBU secara 24 jam untuk mempercepat aliran BBM.
- Penambahan armada mobil tangki serta dukungan Awak Mobil Tangki (AMT) untuk menutupi kekosongan pengemudi.
- Monitoring dan pengamanan jalur distribusi melalui personel militer dan kepolisian.
Seluruh upaya tersebut diharapkan dapat memulihkan kepercayaan masyarakat dan memastikan kebutuhan energi terpenuhi tanpa gangguan. Pihak berwenang menegaskan bahwa penempatan prajurit TNI AD sebagai sopir truk tangki bersifat temporer dan akan dihentikan begitu distribusi kembali normal. “Jika distribusi BBM telah kembali normal, maka perbantuan tersebut akan berakhir,” pungkas Kolonel Sandy.
Dengan kolaborasi lintas sektoral ini, Sumatera Utara berhasil mengurangi antrean panjang di SPBU dan menjaga stabilitas pasokan energi. Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi, sambil menantikan pemulihan penuh distribusi BBM dalam waktu dekat.