James F. Sundah Tutup Usia di New York, Legenda “Lilin‑Lilin Kecil” Tinggal Warisan Musik Tanpa Batas
Blog Berita daikin-diid – 09 Mei 2026 | James F. Sundah, komposer legendaris Indonesia yang dikenal lewat lagu “Lilin‑Lilin Kecil”, resmi meninggal dunia pada Kamis, 7 Mei 2026 pukul 11.28 waktu setempat di New York City, Amerika Serikat. Ia berusia 70 tahun saat kepergian.
Kematian Sundah disampaikan melalui pernyataan resmi keluarga yang diterima oleh media pada Jumat, 8 Mei 2026. Menurut keterangan, sang komposer menghembuskan napas terakhir dikelilingi istri, Lia Sundah‑Suntoso, serta anak dan keluarga terdekat. Penyebab kematiannya adalah kanker paru‑paru yang diderita sejak tahun 2024. Selama masa perjuangan melawan penyakit, ia tetap aktif beraktivitas bersama istrinya, bahkan sempat berkeliling area rumah dengan kursi roda dan menikmati es krim di taman pada satu hari sebelum kepergian.
Jenazah James F. Sundah saat ini disemayamkan di rumah duka di Amerika Serikat, dengan rencana pemakaman di St. John Cemetery pada 11 Mei 2026 pukul 09.00 waktu New York. Prosesi akan dimulai dari rumah duka dan dilanjutkan ke lokasi pemakaman.
Sundah lahir pada 1 Desember 1955 dan menorehkan jejak karier yang menginspirasi generasi musisi Indonesia. Selain “Lilin‑Lilin Kecil” yang menjadi ikon musik pop Indonesia sejak 1977, ia juga menciptakan lagu “September Ceria” bersama Titiek Puspa, serta berkolaborasi dengan musisi internasional seperti Klaus Meine dan Rudolf Schenker dari Scorpions. Beberapa pencapaian pentingnya meliputi:
- “Lilin‑Lilin Kecil” masuk dalam 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia (2009).
- Berperan sebagai mentor bagi banyak penulis lagu muda dan aktif memperjuangkan hak cipta dalam ekosistem musik nasional.
- Menjadi juru bicara industri musik Indonesia di luar negeri sejak akhir 1990‑an, menetap di New York namun tetap mengikuti perkembangan musik tanah air.
Di tahun-tahun terakhir, Sundah tetap produktif. Pada 15 Oktober 2025 ia merilis karya terbarunya berjudul “Seribu Tahun Cahaya” yang dinyanyikan oleh Claudia Emmanuela Santoso dan didedikasikan khusus untuk istri tercinta. Lagu tersebut menandai keberlanjutan kreativitasnya meski kondisi kesehatan sudah menurun.
Berita duka ini menimbulkan reaksi hangat dari kalangan musisi, kritikus, dan pecinta musik. Banyak yang menyoroti dedikasinya tidak hanya sebagai pencipta lagu, tetapi juga sebagai pejuang hak cipta yang berperan penting dalam melindungi karya seniman Indonesia di era digital.
Warisan musikal James F. Sundah diyakini akan terus menginspirasi generasi mendatang. Karya‑karyanya tetap diputar di radio, platform streaming, dan menjadi bahan studi bagi mahasiswa musik. Kematian beliau menutup satu bab penting dalam sejarah musik populer Indonesia, namun jejaknya tetap hidup dalam setiap nada yang pernah ia ciptakan.
Dengan rasa hormat yang mendalam, industri musik Indonesia mengucapkan terima kasih atas kontribusi tak ternilai yang telah diberikan James F. Sundah selama lebih dari lima dekade. Semoga keluarganya diberikan ketabahan dalam menghadapi kehilangan ini.