Rupiah Terus Tertekan, Cadangan Devisa Indonesia Merosot ke Rp2.514 Triliun – Apa Penyebabnya?
Blog Berita daikin-diid – 09 Mei 2026 | Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa (cadev) pada akhir April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS, atau setara dengan sekitar Rp2.514 triliun. Angka ini merupakan titik terendah sejak 2024 dan menandai penurunan signifikan dibandingkan bulan Maret yang masih berada di level 148,2 miliar dolar. Penurunan ini bukan sekadar fluktuasi pasar, melainkan hasil dari penggunaan dana devisa untuk dua tujuan utama: pembayaran utang luar negeri pemerintah dan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah yang tengah melemah.
Menurut data yang dirilis oleh BI, dalam empat bulan pertama 2026 cadangan devisa telah dikuras sebanyak 10,27 miliar dolar AS. Sebagian besar penurunan terjadi pada bulan April, di mana sebanyak 2 miliar dolar AS dikeluarkan untuk menutupi kebutuhan pembayaran utang serta menahan laju depresiasi rupiah. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa kebijakan ini merupakan respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang semakin intens, serta tekanan spekulatif yang menggerakkan nilai tukar ke arah yang tidak diinginkan.
Walaupun cadangan devisa kini berada di level terendah dalam dua tahun terakhir, BI menegaskan bahwa posisi tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional. Cadangan yang tersisa dapat menutupi impor selama 5,8 bulan atau 5,6 bulan bila dikombinasikan dengan pembayaran utang luar negeri, yang masih lebih tinggi daripada ambang batas tiga bulan impor yang biasanya dijadikan patokan kestabilan eksternal. Namun, para analis mengingatkan bahwa terus berkurangnya cadangan dapat meningkatkan risiko penurunan rating kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat seperti Fitch dan Moody’s.
Rupiah sendiri telah mengalami penurunan nilai yang konsisten selama lebih dari sebulan terakhir. Meskipun BI telah mengintervensi pasar melalui penjualan dolar, tekanan tetap kuat akibat aliran modal keluar dan persepsi risiko yang tinggi di kalangan investor asing. Beberapa pengamat berpendapat bahwa pemerintah juga perlu berperan aktif, misalnya dengan memperbaiki kebijakan fiskal yang dianggap kurang tepat dan mengembalikan kepercayaan investor. Tanpa dukungan fiskal yang sejalan, upaya BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar diprediksi akan terus menghadapi tantangan.
Di sisi lain, BI optimis bahwa aliran masuk modal asing masih dapat memberikan dukungan tambahan. Sentimen positif terhadap prospek ekonomi nasional, ditambah dengan imbal hasil investasi yang tetap menarik, diharapkan dapat memperlambat erosi cadangan devisa. Bank sentral menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal, sehingga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dapat terjaga.
Kesimpulannya, penurunan cadangan devisa Indonesia menjadi sinyal peringatan bagi pembuat kebijakan. Sementara BI telah melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah, kebutuhan akan koordinasi yang lebih erat antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi semakin penting. Jika tidak ditangani secara holistik, tekanan pada rupiah dapat berlanjut, menambah beban pada cadangan devisa yang sudah berada di level terendah sejak 2024.