Produksi Beras Meningkat, Bantuan Pangan Cair Mulai Agustus 2026
Blog Berita daikin-diid – 04 Agustus 2026 | Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat pada Januari-September 2026 mencapai 28,71 juta ton. Angka tersebut meningkat tipis 0,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 28,70 juta ton.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan bahwa produksi beras pada Juni 2026 diperkirakan mencapai 2,47 juta ton, naik 6,9 persen dibandingkan Juni 2025 yang sebesar 2,31 juta ton.
Sementara itu, potensi produksi beras selama Juli hingga September 2026 diperkirakan mencapai 9,36 juta ton. Jumlah tersebut turun sekitar 80 ribu ton atau 0,88 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Di sisi lain, pemerintah memastikan penyaluran bantuan pangan beras tahap II tahun 2026 akan dimulai pada 17 Agustus 2026. Bantuan tersebut diberikan kepada 33,24 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dengan total 30 kilogram beras yang merupakan akumulasi alokasi Juli, Agustus, dan September 2026.
Bantuan pangan ini menjadi salah satu upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Penyaluran dilakukan melalui koordinasi Badan Pangan Nasional (Bapanas), Perum Bulog, pemerintah daerah, serta instansi terkait.
Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Bapanas, Rachmi Widiriani, menyatakan bahwa penyaluran bantuan pangan beras tahap II dijadwalkan serentak mulai 17 Agustus 2026. Bantuan diberikan sekaligus untuk tiga bulan alokasi sehingga setiap KPM menerima total 30 kilogram beras.
Pemerintah menyiapkan sekitar 997,2 ribu ton beras untuk mendukung penyaluran tahap II kepada 33,24 juta KPM di seluruh Indonesia. Skema penyaluran sekaligus dipilih agar distribusi lebih efisien dan bantuan dapat segera diterima masyarakat yang membutuhkan.
Kriteria penerima beras 30 kilogram adalah masyarakat yang memenuhi persyaratan sesuai basis data terbaru. Masyarakat dapat memastikan status penerima beras melalui layanan resmi pemerintah dengan menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang telah diperbarui.
Di lain pihak, BPS juga mencatat bahwa rata-rata harga beras di tingkat penggilingan maupun eceran masih mengalami kenaikan pada Juli 2026. Kenaikan terjadi baik secara bulanan maupun tahunan, dengan beras kualitas premium di tingkat penggilingan mencatat lonjakan paling tinggi secara tahunan.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan bahwa rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada Juli 2026 naik 0,94 persen secara bulanan dan meningkat 5,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Rata-rata harga beras di penggilingan kualitas premium sebesar Rp 14.880 per kilogram, sementara untuk penggilingan beras medium sebesar Rp 13.694 per kilogram. Sementara itu, harga beras medium di tingkat penggilingan naik 1,25 persen secara bulanan dan 3,24 persen secara tahunan.
Inflasi harga beras di tingkat grosir maupun eceran sepanjang Juli 2026 juga tercatat. Di tingkat grosir, inflasi beras mencapai 0,61 persen secara bulanan dan 4,11 persen secara tahunan. Adapun di tingkat eceran, inflasi tercatat sebesar 0,49 persen secara bulanan dan 3,10 persen secara tahunan.
Dalam kesimpulan, produksi beras di Indonesia diperkirakan meningkat, dan pemerintah akan menyalurkan bantuan pangan beras tahap II mulai 17 Agustus 2026. Bantuan tersebut diberikan kepada 33,24 juta KPM dengan total 30 kilogram beras untuk alokasi Juli, Agustus, dan September 2026.