Pepe dalam Beragam Dimensi: Dari Band Swiss Berusia 80 Tahun hingga Kontroversi Cacio e Pepe di Italia
Blog Berita daikin-diid – 24 Juni 2026 | Nama “Pepe” kembali menjadi sorotan publik dalam beberapa bidang yang berbeda, mulai dari musik klasik Swiss, sejarah band jazz Amerika, hingga perdebatan kuliner internasional. Tiga kisah terpisah namun memiliki benang merah yang sama, yakni tokoh atau istilah yang bernama “Pepe”, menampilkan bagaimana satu nama dapat menembus batas usia, genre, dan budaya.
Di Frauenfeld, Swiss, bandleader berusia 79 tahun, Pepe Lienhard, mengungkapkan kebiasaannya menghitung langkah harian sebagai bagian dari regimen kebugarannya. “Sayangnya, Anda menjadi lebih sensitif di usia tua,” ujarnya kepada majalah Glückspost dan Blick. Lienhard menambahkan bahwa aktivitas fisik tidak hanya penting bagi kesehatan, tetapi juga untuk menyiapkan tubuhnya menghadapi tur ketiga “Da Capo Udo Jürgens” pada Januari. Ia mengaku merasa lebih bertenaga dibandingkan setahun lalu, berkat rutinitas berjalan kaki yang ia lakukan setiap sore, bahkan pada tengah malam bila diperlukan.
Selain persiapan fisik, Lienhard juga memiliki agenda artistik yang padat. Pada musim gugur, ia dijadwalkan tampil di KKL Lucerne, diikuti dengan perjalanan kapal menyusuri Sungai Rhein. Puncaknya, pada bulan Mei mendatang, Lienhard akan memulai tur peringatan ulang tahun ke-80 yang menampilkan big band, string, dan vokalis, menggambarkan “perjalanan musik melalui hidupnya”. Tur ini diharapkan menjadi salah satu pertunjukan paling ikonik dalam kariernya yang telah melintasi lebih dari lima dekade.
Sementara Lienhard berfokus pada panggung musik klasik Eropa, di Amerika Serikat, nama Pepe kembali muncul lewat Pepe Gonzalez, mantan anggota band Zapata. Zapata, yang terbentuk pada akhir 1960-an di Washington, D.C., dikenal dengan perpaduan Afro-Karibia, soul jazz, dan R&B klasik. Selama masa jayanya, mereka pernah membuka panggung bagi artis-artis legendaris seperti Miles Davis, Sly and the Family Stone, Herbie Hancock, dan The Isley Brothers. Namun, pada 1974 band tersebut bubar, dan rekaman mereka lama dianggap hilang.
Baru-baru ini, Gonzalez berhasil mengembalikan sebuah kaset rekaman Zapata tahun 1971 yang hampir punah. Dalam sebuah wawancara podcast, ia menceritakan proses restorasi serta niatnya memperkenalkan kembali musik yang pada masanya berupaya menyatukan komunitas kulit hitam dan Hispanik di Washington. Penemuan ini tidak hanya menambah arsip musik era 70-an, tetapi juga menyoroti peran penting individu bernama Pepe dalam menjaga warisan budaya musik.
Di belahan dunia lain, “Pepe” muncul dalam konteks kuliner melalui hidangan klasik Italia, Cacio e Pepe. Sebuah resep yang dipublikasikan oleh BBC menimbulkan kemarahan di Italia karena menyertakan bahan-bahan yang tidak otentik, yakni mentega dan keju Parmesan. Menurut Claudio Pica, presiden asosiasi gastronomi Roma FIEPET Confesercenti, resep tradisional seharusnya hanya terdiri dari pasta, lada hitam, dan keju Pecorino Romano. Pica menegaskan bahwa penambahan mentega dan Parmesan melanggar tradisi kuliner Romawi dan bahkan mengkritik versi lain yang menyarankan penggunaan krim.
Kontroversi ini memicu reaksi keras dari chef terkenal seperti Riccardo Aquilani, pemilik restoran Pancrazio, yang menegaskan pentingnya menggunakan tonnarelli segar, lada hitam yang digiling, serta Pecorino Romano DOP dari Lazio. Pica bahkan mengundang Raja Charles III ke Roma untuk menyantap Cacio e Pepe yang sesuai dengan aturan seni kuliner, menambah dimensi diplomatik dalam perselisihan rasa.
Ketiga narasi tersebut, meski tampak tidak berhubungan, memperlihatkan bagaimana nama “Pepe” menjadi titik temu antara seni, sejarah, dan budaya. Dari Lienhard yang menaklukkan usia lewat kebugaran dan musik, Gonzalez yang menghidupkan kembali suara era 70-an, hingga perdebatan tentang otentisitas rasa dalam Cacio e Pepe, semua menegaskan bahwa identitas dan tradisi dapat terus berevolusi sekaligus menantang batas-batas konvensional.
Dengan demikian, “Pepe” tidak sekadar sebuah nama, melainkan simbol keberlanjutan warisan—baik di panggung musik maupun di dapur. Perjalanan mereka mengajarkan bahwa menjaga keaslian, sekaligus beradaptasi dengan perubahan, adalah kunci untuk tetap relevan di dunia yang terus bergerak.