Ova Emilia Gali Rekor Baru: Dari Rektor UGM hingga Penggerak Kolaborasi Vokasi Indonesia‑Tiongkok di CITIEA 2026
Blog Berita daikin-diid – 28 April 2026 | Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D., resmi mengemban jabatan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 27 Mei 2022 setelah memperoleh suara terbanyak di antara tiga calon. Sebagai rektor perempuan kedua dalam sejarah UGM, menggantikan Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, Ova Emilia membawa pengalaman luas dalam bidang pendidikan kedokteran, kebijakan kesehatan, dan manajemen pendidikan tinggi.
Lahir di Yogyakarta pada 19 Februari 1964, Ova menyelesaikan pendidikan S1 Kedokteran di UGM (1982‑1989) dan melanjutkan studi magister di University of Dundee, Skotlandia, dengan fokus pada Medical Education. Ia kembali ke Indonesia untuk menempuh pendidikan dokter spesialis obstetri dan ginekologi serta subspesialis, sebelum menambah gelar doktor di University of New South Wales, Australia pada 2009.
Karier akademis Ova meliputi dua periode menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK‑KMK) UGM sejak 2016 hingga 2022. Selama masa kepemimpinan tersebut, ia memimpin pembentukan kurikulum pelayanan KB (keluarga berencana) yang kemudian diadopsi secara nasional pada rentang 2012‑2020, menjadikannya model pelatihan bagi semua fakultas kedokteran di Indonesia.
Berbagai penghargaan bergengsi juga menghiasi jejak kariernya, termasuk First Prize for Young Gynecologist Award pada 1998. Selain itu, Ova menjabat sebagai Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Negeri Indonesia sejak 2018, memperkuat peran UGM dalam jaringan akademik kesehatan nasional.
Pencapaian akademik tidak menghalangi Ova untuk berperan aktif dalam pengembangan pendidikan vokasi. Pada April 2026, UGM menjadi tuan rumah 3rd Annual Conference of China‑Indonesia TVET Industry Education Alliance (CITIEA 2026). Forum ini, yang didukung oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta Forum Direktur Politeknik Negeri se‑Indonesia, menargetkan penyelarasan kurikulum vokasi dengan kebutuhan industri global.
- Tujuan utama CITIEA 2026: Membangun kurikulum berbasis praktik, mengembangkan teaching factory, memfasilitasi mobilitas mahasiswa dan dosen, serta memperkuat transfer teknologi dan riset terapan.
- Visi Menteri Pratikno: Menggunakan kolaborasi Indonesia‑Tiongkok untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi, menanggapi disrupsi teknologi digital, AI, dan perubahan iklim, serta mendukung bonus demografi Indonesia.
- Peran Ova Emilia: Menyatakan bahwa ekosistem pendidikan‑industri di China sangat kuat, dan menekankan pentingnya penyelarasan kurikulum dengan transformasi teknologi serta keberlanjutan.
Dalam sambutannya, Ova menegaskan bahwa forum CITIEA bukan sekadar pertemuan bilateral, melainkan upaya menciptakan “ekosistem masa depan” yang menghubungkan talenta, teknologi, dan industri lintas negara. Ia menambahkan bahwa partisipasi UGM dalam inisiatif ini sejalan dengan komitmen internasionalisasi pendidikan tinggi, serta memperkuat peran perguruan tinggi sebagai jembatan antara pengetahuan, inovasi, dan kebutuhan pasar kerja.
Keberhasilan UGM dalam peringkat QS Sustainability Rankings 2026, menduduki peringkat pertama di antara universitas Indonesia, juga menambah kredibilitas institusi dalam mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam program vokasi. Dengan latar belakang Ova yang kuat dalam bidang kesehatan dan pendidikan, UGM berpotensi menjadi model integratif untuk pengembangan sumber daya manusia yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Secara keseluruhan, profil Ova Emilia mencerminkan kombinasi antara kepemimpinan akademik, inovasi kurikulum, dan visi strategis dalam kolaborasi internasional. Langkah UGM dalam menyelenggarakan CITIEA 2026 menandai titik penting bagi pendidikan vokasi Indonesia, dengan harapan menghasilkan lulusan yang kompeten, berkelanjutan, dan siap menghadapi tantangan global. Dengan kepemimpinan Ova, UGM berada di garis depan upaya memperkuat sinergi antara pendidikan, industri, dan teknologi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi serta penciptaan lapangan kerja di era bonus demografi.