Nanik S. Deyang Dilantik Kepala BGN: Latar Belakang, Tantangan MBG, dan Harapan Reformasi Gizi Nasional
Blog Berita daikin-diid – 04 Juni 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi melantik Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada 2 Juni 2026, menggantikan Dadan Hindayana yang sebelumnya memimpin lembaga tersebut. Penunjukan ini menimbulkan sorotan publik karena Nanik, yang lebih dikenal sebagai jurnalis senior dan tokoh politik, tidak memiliki latar belakang formal di bidang gizi atau kesehatan. Namun, pengalaman luasnya di bidang komunikasi, investigasi, serta pendidikan biologi dan kehutanan dianggap menjadi modal strategis bagi BGN dalam mengelola program prioritas, terutama Makan Bergizi Gratis (MBG).
Lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 3 Januari 1968, Nanik menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, angkatan 1983. Gelar S1 Biologi memberinya pemahaman dasar tentang metabolisme, ekosistem pangan, dan kesehatan manusia. Setelah itu, ia melanjutkan studi magister di Magister Ilmu Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), memperdalam pengetahuan tentang keberlanjutan sumber daya alam dan pengelolaan hutan. Kombinasi ilmu biologi dan kehutanan memberikan perspektif interdisipliner yang relevan dengan tantangan ketahanan pangan nasional.
Karier profesional Nanik dimulai di dunia media. Ia bekerja sebagai wartawan di Tabloid Bangkit, bagian dari Kelompok Kompas Gramedia, kemudian meraih posisi manajerial di berbagai media, termasuk Pemimpin Umum Majalah Femme dan Direktur Utama Tabloid Info Kecantikan. Pengalaman luas di sektor media mengasah kemampuan komunikasi publiknya, sebuah aset penting dalam mengelola kebijakan publik yang memerlukan penyuluhan dan edukasi massa.
Selain dunia jurnalistik, Nanik aktif dalam kancah politik. Pada Pilpres 2019, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Setelah kemenangan Prabowo pada Pilpres 2024, Nanik diangkat sebagai Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) periode 2024‑2029, dan kemudian menjadi Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi pada September 2025. Dalam peran tersebut, ia memimpin tim koordinasi MBG, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta menegakkan standar operasional prosedur (SOP) program.
Penunjukan Nanik sebagai Kepala BGN memicu pertanyaan mengenai kelanjutan program MBG, yang selama ini menjadi andalan pemerintah dalam meningkatkan status gizi anak-anak, ibu hamil, dan menyusui. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menegaskan bahwa perubahan kepemimpinan tidak akan menghambat pelaksanaan program. Ia menambahkan bahwa pimpinan baru BGN harus segera melakukan konsolidasi internal, memperkuat koordinasi lintas kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah, dan memastikan transparansi serta akuntabilitas pengelolaan anggaran.
Berikut beberapa fokus utama yang diharapkan dapat dijalankan Nanik S. Deyang:
- Peningkatan tata kelola anggaran dan operasional: Mengoptimalkan transparansi penggunaan dana MBG, mengurangi kebocoran, dan memastikan distribusi tepat sasaran.
- Standardisasi prosedur di lapangan: Menegakkan disiplin higienitas, kualitas bahan baku, dan keamanan pangan untuk menghindari insiden keracunan.
- Penguatan data penerima manfaat: Memperbaiki akurasi data, sehingga bantuan dapat mencapai kelompok sasaran secara efisien.
- Koordinasi lintas sektor: Mengatasi ego sektoral dengan membangun sinergi antara kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah.
- Pengawasan berbasis investigasi: Memanfaatkan pengalaman Nanik dalam sidak lapangan untuk mengidentifikasi pelanggaran SOP dan menindaklanjuti secara cepat.
Komisi IX DPR RI, melalui Wakil Ketua Yahya Zaini, menyambut positif penunjukan Nanik. Ia menilai bahwa pengalaman Nanik dalam melakukan pengawasan langsung memberikan pemahaman mendalam tentang dinamika lapangan MBG. Namun, Yahya menekankan bahwa masih ada pekerjaan rumah, terutama dalam memperkuat tata kelola anggaran, standar operasional, dan koordinasi lintas sektor.
Secara keseluruhan, profil Nanik S. Deyang mencerminkan perpaduan antara ilmu biologi, kehutanan, komunikasi publik, dan pengalaman politik. Kombinasi ini diharapkan dapat membawa perspektif baru dalam mengelola BGN, mempercepat implementasi program MBG, serta meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia secara berkelanjutan. Keberhasilan reformasi BGN akan sangat bergantung pada kemampuan Nanik dalam menyatukan berbagai stakeholder, mengoptimalkan sumber daya, dan menjaga integritas pelaksanaan program gizi nasional.
Dengan latar belakang pendidikan yang kuat, pengalaman media yang luas, serta rekam jejak politik yang mendalam, Nanik S. Deyang kini berada di persimpangan penting. Publik menantikan langkah konkretnya dalam menata kembali Badan Gizi Nasional, memperbaiki program MBG, dan memastikan bahwa setiap anak, ibu, dan keluarga di Indonesia dapat menikmati gizi yang memadai demi masa depan yang lebih sehat.