Moskow-Taliban, Krisis Pertanian, dan Persaingan Nuklir: Ketegangan Afghanistan vs Pakistan Memanas
Blog Berita daikin-diid – 09 Juni 2026 | Perjanjian militer-teknis antara Taliban dan Rusia yang ditandatangani pada 27 Mei di Moskow menandai babak baru dalam dinamika geopolitik Asia Selatan. Kesepakatan itu, yang difokuskan pada perbaikan peralatan militer buatan Rusia yang telah lama beredar di Afghanistan, memberi Taliban dukungan teknis penting di tengah meningkatnya tekanan militer Pakistan.
Pakistan selama hampir setahun terakhir melakukan serangkaian serangan udara ke wilayah Afghanistan, mengklaim menargetkan kamp-kamp Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP). Salah satu insiden paling mematikan terjadi ketika Angkatan Udara Pakistan menabrak Pusat Rehabilitasi Narkoba Omid di Kabul, menewaskan ratusan warga sipil. Serangan tersebut menuai kecaman keras dari India dan komunitas internasional, sekaligus menegaskan keunggulan udara Pakistan mengingat angkatan udara Afghanistan hampir tidak ada.
Di sisi lain, penutupan jalur perbatasan dengan Pakistan menimbulkan krisis kemanusiaan yang menggerogoti sektor pertanian Afghanistan. Tanpa akses ke pasar Pakistan, petani Afghanistan menghadapi kebuntuan penjualan hasil pertanian seperti tomat, bawang, dan buah-buahan. Harga komoditas turun drastis, sementara hasil panen banyak yang terbuang. Situasi ini diperparah oleh kebijakan rezim Taliban yang dianggap mendukung kelompok teroris, menutup akses perdagangan dan menimbulkan ketidakstabilan ekonomi di wilayah pedesaan.
Kerusakan ekonomi ini berpotensi memperdalam ketegangan antara Kabul dan Islamabad. Pakistan, yang secara tradisional mengandalkan kedalaman strategis di Afghanistan untuk keamanan nasionalnya, kini kehilangan leverage penting. Sementara itu, India memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat posisinya di kawasan. Laporan terbaru SIPRI mencatat India telah meningkatkan stok nuklirnya menjadi sekitar 190 hulu ledak, menambah kesenjangan strategis dengan Pakistan yang masih mengembangkan sistem pengiriman dan akumulasi bahan fissil.
Pengembangan nuklir India tidak lepas dari pertimbangan menghadapi dua potensi ancaman: agresi militer Pakistan dan persaingan dengan China. Kebijakan pertahanan New Delhi menekankan pada pengembangan senjata jarak jauh yang mampu menjangkau target di China, namun juga memperkuat deterrent terhadap Pakistan yang secara historis menjadi rival utama di wilayah subkontinen.
- Perjanjian Moskow-Taliban: Fokus pada perbaikan peralatan militer Rusia, membuka peluang kontrak pertahanan lebih lanjut.
- Serangan Pakistan: Penembakan Pusat Rehabilitasi Omid menambah beban kemanusiaan dan menurunkan legitimasi internasional Islamabad.
- Krisis Pertanian Afghanistan: Penutupan perbatasan mengakibatkan kerugian jutaan dolar bagi petani, meningkatkan risiko kelaparan.
- Modernisasi Nuklir India: Penambahan hulu ledak meningkatkan keunggulan strategis atas Pakistan.
Ketegangan ini juga menimbulkan pertanyaan tentang peran negara besar lain, khususnya Rusia dan China, dalam memediasi atau memanfaatkan konflik ini. Rusia, melalui perjanjian dengan Taliban, berusaha mengamankan pengaruhnya di Afghanistan, sementara China menatap kestabilan perbatasan baratnya. Kedua negara dapat menjadi penyeimbang atau pemicu eskalasi, tergantung pada kepentingan strategis masing-masing.
Secara keseluruhan, dinamika antara Afghanistan dan Pakistan kini berada pada titik kritis, dipengaruhi oleh perjanjian militer internasional, krisis ekonomi domestik, dan persaingan nuklir regional. Jika tidak ada dialog konstruktif yang melibatkan semua pihak, risiko konflik berskala lebih luas akan semakin tinggi, mengancam stabilitas tidak hanya di kedua negara tetapi juga di seluruh Asia Selatan.