Kobel Gagal Selamatkan Swiss, Argentina Menang Dramatis di Perempat Final
Blog Berita daikin-diid – 14 Juli 2026 | Di Arrowhead Stadium, Kansas City, pertempuran sengit antara Argentina dan Swiss berakhir dengan kemenangan 3-1 bagi tim Lionel Messi. Meskipun Argentina berhasil mengamankan tiket semifinal melawan Inggris, sorotan utama tetap pada kiper Swiss, Gregor Kobel, yang mengalami hari berat setelah gagal menghalau dua tembakan krusial pada babak perpanjangan waktu.
Awal pertandingan tampak seimbang, namun pada menit ke-10 Alexis Mac Allister berhasil membuka keunggulan Argentina. Sepakan corner Messi menemukan Mac Allister di tiang depan, lalu ia melakukan sundulan halus yang meluncur melewati tangan Kobel dan menancap ke sudut jauh gawang. Gol tersebut sekaligus menandai kegagalan pertama Kobel dalam menahan tembakan berbahaya.
Setelah gol pertama, Swiss berusaha bangkit dengan menekan lini pertahanan Argentina. Kobel tampil lebih baik, menepis beberapa tembakan jarak jauh dan mengandalkan refleksnya yang tajam. Pada menit ke-67, Dan Ndoye berhasil menembus pertahanan Argentina dan menempatkan bola di antara kaki kiper Emiliano Martinez, namun tembakan itu tidak berhasil mengubah skor. Momen itu menegaskan bahwa Kobel masih mampu memberikan perlawanan meski berada dalam tekanan tinggi.
Poin balik terjadi pada menit ke-72 ketika Breel Embolo menerima kartu kuning kedua setelah VAR meninjau insiden yang semula menyasar Leandro Paredes. Keputusan tersebut mengurangi Swiss menjadi sepuluh pemain, menambah beban pada Kobel yang kini harus menutupi celah pertahanan yang lebih luas. Swiss tetap berjuang, namun kehilangan satu pemain menurunkan moral tim secara signifikan.
Ekstra waktu menjadi arena bagi Argentina untuk mengukir kemenangan. Pada menit ke-112, Julian Álvarez melepaskan tembakan jarak jauh yang menukik ke sudut atas gawang. Kobel berusaha sekuat tenaga, melompat dengan rentang penuh, namun bola menancap tepat di sudut atas, tak memberi ruang bagi sang kiper untuk melakukan penyelamatan. Sembilan menit kemudian, Lautaro Martínez menambah gol ketiga dengan mengeksekusi rebound tembakan Thiago Almada, menutup rapat pertandingan.
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, memuji timnya atas ketangguhan mental dalam menghadapi tekanan, sementara pelatih Swiss, Murat Yakin, mengekspresikan kekecewaannya atas keputusan VAR yang ia anggap tidak adil. “Kami dipenjara oleh aturan yang tidak dapat diterima,” ujar Yakin, menyoroti dampak kartu merah terhadap peluang timnya. Di sisi lain, Scaloni menekankan pentingnya “suffering” atau penderitaan sebagai bagian dari DNA tim untuk mencapai semifinal.
Penampilan Kobel dalam pertandingan ini menjadi titik diskusi di antara analis sepakbola. Meskipun ia menampilkan beberapa penyelamatan penting, kegagalan menghalau tembakan Álvarez dan Martínez menjadi sorotan utama. Sebagai kiper utama klub Borussia Dortmund, Kobel dikenal dengan refleks cepat dan kemampuan distribusi bola, namun pada laga krusial ini, kesalahan kecil dan keputusan taktis lawan menjadi faktor penentu.
Secara keseluruhan, pertandingan ini tidak hanya menambah catatan gemilang bagi Argentina, tetapi juga menjadi pelajaran berharga bagi Swiss dan khususnya Kobel. Meskipun gagal melanjutkan perjalanan ke semifinal, Swiss menunjukkan keberanian yang patut diacungi jempol, sementara Kobel harus mengevaluasi penampilannya di panggung dunia. Pertandingan berakhir dengan sorakan penonton yang mengingatkan pada atmosfer La Bombonera, menegaskan bahwa drama sepakbola selalu berlanjut, bahkan di luar tanah asalnya.