Jerome Powell Akhiri Era Kepresidenan Fed: Warisan Inflasi, Hukum, dan Keberanian Melawan Trump
Blog Berita daikin-diid – 16 Mei 2026 | Washington – Setelah delapan tahun memimpin Federal Reserve (Fed), Jerome Powell resmi mengakhiri masa jabatan pada 15 Mei 2026. Selama masa kepemimpinan yang penuh gejolak, kebijakan moneter yang diambilnya mengubah lanskap ekonomi Amerika Serikat, dari lonjakan inflasi pascapandemi hingga penurunan tingkat pengangguran ke level terendah dalam lima puluh tahun.
Powell, yang menjabat sebagai ketua ke‑16 sejak 5 Februari 2018, bukanlah ekonom terlatih melainkan mantan pengacara dan eksekutif keuangan. Gaya kepemimpinannya yang tenang dan kadang menampilkan bakat bermain gitar di pesta Fed menambah citra pribadi yang tidak konvensional, namun keputusan kebijakan yang diambilnya tetap menjadi sorotan utama dunia keuangan.
Ketika pandemi COVID‑19 melanda pada awal 2020, Powell dan Dewan Pasar Terbuka Federal (FOMC) menurunkan suku bunga acuan sebesar 1,5 poin persentase ke hampir nol. Langkah ini diikuti dengan program pembelian aset besar‑besar—Treasury dan sekuritas hipotek—yang bertujuan menjaga likuiditas pasar dan mendukung kredit bagi rumah tangga serta perusahaan. Kebijakan ini, yang sering disebut quantitative easing, berhasil menahan krisis keuangan tetapi menimbulkan ekspektasi bahwa inflasi akan tetap terkendali.
Namun pada Juni 2022, inflasi tahunan melambung ke 9,1 %, tingkat tertinggi dalam empat dekade, memaksa Fed untuk mengubah arah. Harga kebutuhan pokok, seperti bahan makanan, naik hampir 30 % dibandingkan sebelum pandemi, sementara indeks harga konsumen secara keseluruhan menjadi 27 % lebih tinggi. Pada awalnya, Powell dan rekan‑rekannya menyebut kenaikan tersebut sementara (transitory) dan mengaitkannya dengan gangguan rantai pasokan. Pandangan ini kemudian dipertanyakan ketika tekanan harga tetap bertahan lebih dari lima tahun.
Merespons tekanan inflasi, Fed secara bertahap menaikkan suku bunga kebijakan. Pada 2023, tingkat suku bunga jangka pendek mencapai level tertinggi dalam dua dekade, sementara pengangguran turun ke 3,5 %, terendah dalam 50 tahun. Kebijakan pengetatan ini menurunkan permintaan konsumen, tetapi juga menimbulkan kritik bahwa Fed terlalu lambat mengendalikan inflasi, mengorbankan daya beli warga Amerika.
Di luar urusan ekonomi, Powell harus menghadapi serangan pribadi dari mantan Presiden Donald Trump. Sejak penunjukan pertama pada 2018, Trump melontarkan kritik tajam, menuding Fed menghambat pertumbuhan. Pada Januari 2024, Powell menolak permintaan Trump untuk mengintervensi penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap kebijakan Fed, menjadikannya salah satu pejabat tertinggi yang berani menentang tekanan politik. Keputusan ini menegaskan komitmen Powell terhadap independensi bank sentral, sebuah aspek yang dipandang sebagai bagian penting dari warisannya.
Para pengamat menilai catatan Powell tidak bersih, namun dalam konteks yang sangat menantang, ia tampil sangat baik, kata David Wilcox, senior fellow di Peterson Institute for International Economics. Menurutnya, keberhasilan Powell melindungi independensi Fed dari campur tangan harian politik menjadi poin utama penilaian historis.
Setelah mengundurkan diri, Powell menyatakan kesediaannya tetap duduk di Dewan Gubernur hingga yakin independensi Fed sepenuhnya pulih. Langkah ini mencerminkan tekadnya untuk memastikan transisi kepemimpinan yang mulus, sekaligus mengawasi proses penyesuaian kebijakan moneter yang masih diperlukan untuk menurunkan inflasi ke target 2 %.
Warisan Powell mencakup dua sisi yang kontras: di satu sisi, kebijakan stimulus agresif pada awal pandemi yang menyelamatkan sistem keuangan; di sisi lain, respons yang dianggap lambat terhadap inflasi yang meluas. Kombinasi antara keberanian melawan tekanan politik dan keputusan kebijakan yang dipertanyakan menempatkan Powell sebagai tokoh yang menorehkan jejak mendalam dalam sejarah Fed.
Kesimpulannya, era Powell menandai transformasi ekonomi Amerika yang dramatis—dari suku bunga mendekati nol hingga kenaikan tajam, dari inflasi yang hampir tak terkendali hingga upaya menurunkannya kembali. Keberhasilan mempertahankan independensi lembaga sentral di tengah pertempuran politik menambah dimensi penting dalam penilaian akhir. Sejarah akan menilai apakah keputusan‑keputusan tersebut cukup cepat dan tepat untuk mengembalikan kestabilan harga, namun tidak dapat dipungkiri bahwa Jerome Powell meninggalkan jejak yang tidak akan mudah dilupakan.