Rupiah Tertekan di Sekitar Rp17.600 per Dolar AS, Penguatan Dolar dan Ketegangan Geopolitik Jadi Pemicu Utama
Blog Berita daikin-diid – 16 Mei 2026 | Jakarta, 15 Mei 2026 – Nilai tukar rupiah terus berada di zona tekanan, mencatat level antara Rp17.595 hingga Rp17.600 per dolar Amerika Serikat pada Jumat sore. Rupiah melemah 68 poin atau sekitar 0,39 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya, menempatkannya sebagai mata uang Asia yang paling tertekan di tengah penguatan indeks dolar AS.
Data pasar menunjukkan bahwa mata uang Asia lainnya turut mengalami penurunan, termasuk peso Filipina, dolar Singapura, yuan China, yen Jepang, rupee India, won Korea Selatan, baht Thailand, dan ringgit Malaysia. Hanya dolar Hong Kong yang berhasil menguat tipis sebesar 0,04 persen. Di sisi negara maju, poundsterling Inggris, dolar Australia, euro, dolar Kanada, dan franc Swiss juga menunjukkan penurunan nilai.
Para analis menilai bahwa penguatan dolar AS dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat serta lonjakan harga minyak mentah dunia. Lukman Leong, analis pasar uang, mengaitkan situasi ini dengan ketegangan yang masih tinggi antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun pertemuan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump belum berhasil meredakan kekhawatiran pasar. “Rupiah bersama mata uang Asia lainnya menjadi yang paling tertekan di tengah penguatan dolar AS akibat kekhawatiran pasar terhadap konflik Iran‑AS,” kata Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Di pasar domestik, kurs jual dolar AS di sejumlah bank besar juga mencerminkan tekanan yang sama. BCA menetapkan kurs e‑Rate jual sebesar Rp17.595 per dolar, menjadi yang tertinggi di antara bank lain, sementara kurs beli berada di Rp17.445. Kebanyakan bank besar menahan kurs jual di atas level psikologis Rp17.500, menegaskan bahwa tekanan nilai tukar masih berlanjut.
Ekonom dari Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, mengingatkan pemerintah untuk menjaga kredibilitas fiskal dan mengendalikan defisit anggaran agar pasar kembali percaya. Ia menekankan pentingnya memperkuat ekspor, meningkatkan devisa, serta mempercepat hilirisasi dan substitusi impor untuk menurunkan ketergantungan pada barang impor. Menurutnya, target nilai tukar rupiah di APBN 2026 sebesar Rp16.500 masih dapat dicapai jika dinamika global, khususnya kebijakan suku bunga The Fed dan ketegangan geopolitik, mereda.
Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menambahkan bahwa Bank Indonesia harus tetap aktif menjaga pasar valuta asing dalam jangka pendek untuk mencegah pelemahan tajam yang dapat memicu kepanikan. Ia menekankan perlunya koordinasi yang kuat antar anggota Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) serta komunikasi yang konsisten kepada pasar.
- Faktor eksternal: penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan konflik Iran‑AS.
- Faktor internal: defisit anggaran, kepercayaan pasar, serta kebijakan moneter Bank Indonesia.
- Respons pasar: penurunan nilai tukar di hampir semua mata uang Asia, termasuk rupiah.
Sementara itu, bagi investor yang ingin mengoptimalkan portofolio di tengah melemahnya rupiah, tiga instrumen investasi dianggap masih menguntungkan. Menurut DBS Indonesia, menabung dalam dolar AS, berinvestasi pada obligasi berdenominasi dolar, serta membeli aset real estat yang berbasis pendapatan dalam mata uang asing dapat menjadi strategi yang mengurangi risiko nilai tukar.
Secara keseluruhan, tekanan pada rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Penguatan dolar AS yang didorong oleh kebijakan moneter Amerika serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah menambah beban pada mata uang Indonesia. Upaya pemerintah dalam memperkuat fiskal, meningkatkan ekspor, dan menjaga stabilitas pasar valas menjadi kunci untuk memulihkan nilai tukar ke level yang lebih mendekati target APBN.
Dengan kondisi pasar yang terus bergejolak, pelaku ekonomi dan investor diharapkan tetap memantau perkembangan kebijakan moneter global serta indikator fundamental domestik untuk mengantisipasi pergerakan nilai tukar selanjutnya.