Harga BBM Non‑Subsidi Turun di Juli 2026, Pertamax Turun Tipis, Prospek Penurunan Agustus Menggoda
Blog Berita daikin-diid – 07 Juli 2026 | Pertamina (Persero) resmi memberlakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non‑subsidi mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini mencakup penurunan harga beberapa produk utama, termasuk Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, serta avtur. Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan inflasi tahunan Indonesia yang tercatat 3,34 % dan inflasi tahun‑ke‑tahun (year‑to‑date) sebesar 1,79 %.
Berikut rangkuman perubahan harga pada 1 Juli 2026:
| Produk | Harga 1 Jul 2026 (Rp/L) | Perubahan |
|---|---|---|
| Pertamax Turbo | 19.300 | -7 % |
| Pertamina Dex | 21.150 | -15 % |
| Dexlite | 19.700 | -14 % |
| Pertamax (RON 92) | 16.250 | Stabil |
| Pertamax Green 95 | 17.000 | Stabil |
Penurunan harga tersebut berdampak langsung pada konsumen, terutama pengendara dan sektor transportasi yang sebelumnya mengalami kenaikan tajam pada bulan Juni 2026. Antrean panjang di SPBU pertalite di Banjarmasin pada pertengahan Juni menjadi sorotan, mengindikasikan sensitivitas pasar terhadap fluktuasi harga bensin premium.
Sementara penurunan harga pada produk non‑subsidi terjadi, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan pemerintah. Kebijakan ini sejalan dengan Keputusan Menteri ESDM No. 19/2019 yang menjadi acuan formula penetapan harga resmi, meski Pertamina kadang‑kadang mengadopsi strategi “price smoothing” untuk mengurangi volatilitas harga bagi konsumen.
Para pakar ekonomi energi menilai bahwa penurunan harga global minyak mentah menjadi faktor kunci. Harga Brent pada minggu 6 Juli 2026 tercatat US$71,94 per barel, sementara WTI berada di US$68,78 per barel. Kedua indeks ini berada di dekat target Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$70 per barel yang dianggarkan dalam APBN 2026. Penurunan tersebut dipercepat oleh pelonggaran pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, yang mengurangi tekanan geopolitik pada pasar minyak dunia.
Yayan Satyakti, pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran, memproyeksikan bahwa harga BBM non‑subsidi berpotensi turun kembali pada Agustus 2026. Bila Pertamina menerapkan formula resmi pemerintah secara penuh, harga Pertamax dapat merosot menjadi sekitar Rp13.700 per liter, dibandingkan dengan skenario “price smoothing” yang hanya menurunkan harga menjadi sekitar Rp16.000 per liter. Untuk produk lain, Pertamax Green 95 diperkirakan turun menjadi Rp14.250 (formula) atau Rp16.750 (smoothing), sementara Pertamax Turbo dapat berada di kisaran Rp17.650 (formula) atau Rp19.000 (smoothing). Dexlite dan Pertamina Dex diprediksi berkisar antara Rp19.400‑Rp20.850 tergantung pendekatan penetapan harga.
Model proyeksi Yayan menggunakan kombinasi data harga minyak dunia, formula pemerintah, serta pola historis penetapan harga Pertamina. Model tersebut berhasil memprediksi harga Pertamax Turbo pada penyesuaian 1 Juli 2026 dengan selisih kurang dari Rp150 per liter, menunjukkan keandalannya dalam menilai dinamika pasar.
Di tingkat regional, data harga BBM pada Selasa, 7 Juli 2026 menunjukkan variasi antar provinsi. Di Kalimantan Selatan, harga Pertamax Turbo sudah tercatat turun menjadi Rp19.300 per liter, sementara di Kalimantan Timur harga Pertamax (RON 92) tetap pada Rp16.250 per liter, menjadi kontributor utama inflasi regional (0,70 % mtm). Kenaikan harga Pertamax sejak 10 Juni 2026 menjadi pemicu utama tekanan inflasi di wilayah tersebut.
Secara keseluruhan, penurunan harga BBM non‑subsidi pada Juli 2026 mencerminkan respons pasar terhadap penurunan harga minyak mentah global dan kebijakan pemerintah yang menyeimbangkan antara stabilitas harga dan beban inflasi. Jika tren harga minyak dunia tetap menurun, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah tidak kembali memuncak, kemungkinan besar Pertamina akan melanjutkan penurunan harga pada Agustus, memberikan sedikit kelegaan bagi konsumen dan sektor transportasi yang menjadi motor utama perekonomian nasional.