El Nino 2026 Mengancam Setahun: BMKG Ungkap Daerah Tertinggi Risiko, Hujan Lebat & Gempa 4,5 SR di Sumba
Blog Berita daikin-diid – 04 Juli 2026 | JAKARTA, 4 Juli 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan serangkaian peringatan penting menjelang akhir Juli. El Nino yang kini telah memasuki fase kuat diproyeksikan akan bertahan antara 9 hingga 12 bulan, berpotensi memperparah kondisi kering bila bertepatan dengan musim kemarau. Pada saat bersamaan, BMKG memperkirakan hujan lebat akan melanda 17 provinsi pada 4 Juli, sementara wilayah Mataraman mengalami kabut tebal, dan gempa magnitudo 4,5 mengguncang Waikabubak, Sumba.
Menurut Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di bagian tengah‑timur Samudra Pasifik yang dapat menurunkan curah hujan secara signifikan. “Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, melainkan kapan ia bersamaan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan berada di bawah normal dan sektor‑sektor penting harus meningkatkan kesiapsiagaan,” ujarnya pada 2 Juli.
BMKG menyoroti tujuh wilayah yang diperkirakan paling terdampak pada periode Juli‑Oktober 2026. Di antaranya adalah sebagian Sumatra bagian selatan, bersama lima wilayah lainnya yang memiliki potensi defisit air, peningkatan risiko kebakaran hutan, dan gangguan kesehatan masyarakat. Karena Indonesia terbagi ke dalam 699 Zona Musim (ZOM), otoritas daerah diminta menyesuaikan kebijakan mitigasi dengan karakteristik iklim setempat.
- Sumatra bagian selatan
- Wilayah barat Nusa Tenggara
- Bagian tengah Jawa
- Daerah pesisir timur Kalimantan
- Wilayah barat Sulawesi
- Pulau Papua bagian timur
- Daerah pegunungan Jawa Barat
Selain ancaman kekeringan, BMKG menekankan dampak sekunder El Nino, antara lain peningkatan frekuensi kebakaran hutan, penurunan kualitas udara akibat konsentrasi polutan, serta gangguan pada fase pertumbuhan tanaman yang dapat menurunkan produktivitas pertanian.
Sementara itu, pada Sabtu (4 Juli) BMKG merilis prakiraan cuaca yang menunjukkan potensi hujan lebat serta angin kencang di 17 provinsi, meliputi Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, serta sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi. Kombinasi gelombang Kelvin yang bergerak ke timur, gelombang Rossby ekuatorial ke barat, serta Madden‑Julian Oscillation (MJO) diperkirakan menjadi pemicu utama pertumbuhan awan hujan. BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap genangan, banjir, tanah longsor, serta bahaya petir, khususnya di daerah yang diprediksi akan menerima hujan intensitas sedang hingga lebat.
Di wilayah Mataraman (Jawa Timur) prakiraan BMKG pada 3 Juli menujukkan kondisi udara kabur hingga kabut/asap pada 4 Juli. Delapan kabupaten/kota—Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, dan Kota Probolinggo—diperkirakan akan mengalami visibilitas terbatas, sehingga pengendara disarankan mengurangi kecepatan dan meningkatkan jarak aman.
Tak lama setelah itu, pada pukul 00:14 WIB, wilayah Sumba mengalami gempa bumi magnitude 4,5 dengan pusat gempa 8 km timur laut Waikabubak, kedalaman 9 km. Gempa tidak menimbulkan potensi tsunami, namun dirasakan dengan skala Modified Mercalli Intensity (MMI) III di Sumba dan Tambolaka, menyebabkan guncangan ringan pada bangunan dan kaca jendela. BMKG mencatat bahwa dalam seminggu terakhir telah terjadi 12 kejadian gempa di Indonesia dengan variasi magnitudo berbeda.
BMKG menegaskan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam menghadapi tiga ancaman utama: kekeringan akibat El Nino, hujan lebat yang berpotensi menimbulkan banjir, serta aktivitas seismik. Pemerintah pusat dan daerah diharapkan memanfaatkan data iklim dan gempa yang disediakan BMKG untuk menyusun kebijakan adaptasi, seperti penyesuaian pola tanam, pengelolaan irigasi efisien, penegakan zona aman kebakaran hutan, serta sistem peringatan dini gempa bumi.
Secara keseluruhan, bulan Juli 2026 diprediksi menjadi periode yang penuh tantangan bagi Indonesia. Masyarakat diimbau terus memantau pembaruan cuaca melalui portal resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial resmi, guna mengantisipasi perubahan kondisi secara real‑time.