Drama Penalti di Piala Dunia 2026: Dari Kegagalan Jonathan Tah hingga Keberanian Ronaldo
Blog Berita daikin-diid – 03 Juli 2026 | Piala Dunia 2026 menyajikan serangkaian drama penalti yang mencuri perhatian dunia sepakbola. Dari kegagalan menakutkan Jonathan Tah yang menambah beban mental Jerman, hingga keputusan VAR yang memicu kontroversi pada laga Belgia melawan Senegal, serta penampilan heroik Cristiano Ronaldo yang memecahkan rekor mandul, semua menjadi sorotan utama.
Jonathan Tah, bek Bayern Munich, menjadi sorotan setelah ia mengeksekusi tendangan penalti keenam dalam adu penalti melawan Paraguay. Tendangannya melambung di atas mistar gawang, memperpanjang kepergian Jerman dengan skor 4-3. Tah mengaku bahwa kegagalan tersebut terus menghantui pikirannya ribuan kali. Ia pun menyatakan lewat media sosial bahwa rasa kecewa dan sedih masih belum sepenuhnya ia sadari, namun ia berjanji tidak akan menghindar dari peluang serupa di masa depan.
Di sisi lain, adu penalti antara Belgia dan Senegal menimbulkan perdebatan panjang mengenai peran VAR. Setelah tujuh menit peninjauan, wasit utama memutuskan memberi tendangan penalti kepada Belgia setelah terdeteksi kontak belakang kaki pemain Senegal Lamine Camara terhadap Yuri Tielemans. Tielemans kemudian mengeksekusi penalti tersebut, mencetak gol penentu kemenangan Belgia 3-2 dan melaju ke babak 16 besar melawan tuan rumah Amerika Serikat. Pakar wasit asal Inggris, Andy Davies, menilai keputusan tersebut keras bagi Senegal, namun ia menegaskan bahwa standar penggunaan teknologi video menuntut keputusan yang tegas.
Sementara itu, Cristiano Ronaldo mencatat momen penting dalam kariernya. Setelah melewati 638 menit tanpa mencetak gol di fase gugur Piala Dunia sejak 2006, Ronaldo berhasil mengeksekusi penalti pada menit ke-68 melawan Kroasia. Gol tersebut mengakhiri periode mandulnya dan menjadikannya pemain pertama yang mencetak gol di fase gugur berusia lebih dari 41 tahun. Penampilan Ronaldo juga menarik perhatian media sosial karena video menunjukkan ia mengucapkan sesuatu sebelum menendang. Beberapa warganet mengira ia mengucapkan “Bismillah”, meskipun belum ada konfirmasi resmi.
Drama penalti tidak berhenti di situ. Laga Portugal versus Kroasia menjadi contoh lain dari keputusan VAR yang mengubah alur pertandingan. Gol penyama kedudukan Kroasia pada menit ke-103 sempat menimbulkan kegembiraan, namun VAR memeriksa kembali dan menemukan posisi offside pada pemain Igor Matanovic, yang kemudian mengakibatkan gol tersebut dibatalkan. Keputusan ini memicu kemarahan suporter Kroasia yang melemparkan botol plastik ke lapangan. Portugal akhirnya menang 2-1 berkat penalti Ronaldo dan sundulan Goncalo Ramos pada menit tambahan.
Berbagai insiden ini menegaskan betapa pentingnya aspek mental, taktik, dan teknologi dalam situasi penalti. Pemain seperti Tah harus mengatasi beban psikologis, sementara tim senior perlu menunjukkan kepemimpinan untuk menghindari kebingungan saat giliran menendang. VAR, dengan kemampuan meninjau secara detail, memberikan keadilan namun juga menimbulkan perdebatan panjang mengenai interpretasi aturan.
Kesimpulannya, penalti di Piala Dunia 2026 menjadi cermin tekanan tinggi yang dihadapi pemain dan ofisial. Dari kegagalan yang menghantui hingga keberanian yang menghasilkan gol penting, semua cerita menambah warna pada turnamen ini. Penonton dan pelaku sepakbola kini menantikan bagaimana regulasi VAR dan kesiapan mental akan berkembang di edisi berikutnya.