Drake Guncang Industri Musik dengan Triple Album ‘Iceman’, Rekor Streaming, dan Sindiran Tajam ke DJ Khaled
Blog Berita daikin-diid – 17 Mei 2026 | Rapper asal Kanada, Drake, kembali menggebrak dunia musik pada 15 Mei 2026 dengan meluncurkan tiga album sekaligus: Iceman, Habibti, dan Maid Of Honour. Kejutan ini tidak hanya memecahkan rekor streaming, tetapi juga menimbulkan kontroversi lewat lirik yang menyinggung produser ternama DJ Khaled terkait dukungan terhadap Palestina.
Album Iceman menjadi sorotan utama karena menempati posisi teratas sebagai album paling banyak diputar dalam satu hari di Spotify pada tahun 2026. Lagu “Make Them Cry” (atau “Make Them Pay” dalam versi lain) mencatat rekor serupa sebagai trek terstreaming terbanyak dalam satu hari. Total streaming gabungan ketiga album menjadikan Drake artis dengan jumlah pemutaran tertinggi dalam satu hari di platform tersebut, serta pencapaian tertinggi di Amazon Music untuk debut pertama hari itu.
Kolaborasi pada tiga rilisan tersebut menampilkan nama‑nama besar industri musik, termasuk Future, 21 Savage, Sexyy Red, PartyNextDoor, Central Cee, Popcaan, dan Iconic Savvy. Pada Iceman, Drake juga menyapa bintang NBA Stephen Curry dan Kevin Durant, menambah dimensi lintas budaya antara musik dan olahraga. Sementara itu, Lykke Li muncul secara tidak langsung lewat interpolasi lagunya “I Follow Rivers” pada trek “Janice STFU”, memperlihatkan cara Drake menghidupkan kembali melodi ikonik dalam konteks hip‑hop modern.
Di balik keberhasilan komersial, lirik “Make Them Pay” menyinggung DJ Khaled dengan nada kritis. Drake menuduh Khaled memilih jalur “halal” dan mengabaikan isu Palestina, meski latar belakang keluarga Khaled berasal dari wilayah tersebut. Barisan lirik menyiratkan bahwa Khaled belum menampilkan solidaritas yang nyata, sekaligus menyinggung warna bendera Palestina. DJ Khaled belum memberikan komentar resmi, namun sebuah unggahan di Instagramnya menampilkan kutipan lirik dari lagu Sizzla, yang diinterpretasikan sebagai respons tidak langsung.
Strategi promosi Iceman juga tak kalah kreatif. Drake menempatkan blok es raksasa di tengah Toronto, menyembunyikan tanggal rilis album di dalamnya, sebuah aksi yang menimbulkan spekulasi luas di media sosial. Pada hari peluncuran, ia mengumumkan secara langsung lewat livestream bahwa dua album tambahan akan dirilis bersamaan, menambah elemen kejutan yang memperkuat buzz di kalangan penggemar.
Reaksi publik dan industri pun beragam. Di Amerika Serikat, White House menjadi sorotan setelah mengedit sampul Iceman dengan menambahkan kalung “MAGA”. Di sisi lain, pihak hukum menyoroti kasus sebelumnya yang melibatkan tuduhan promosi platform perjudian ilegal dan upaya manipulasi streaming, serta perseteruan berkelanjutan dengan Kendrick Lamar yang memicu lawsuit terhadap Universal Music Group.
Data streaming mengungkapkan angka fantastis: lebih dari 100 juta pemutaran gabungan pada hari pertama, dengan Iceman mencatat lebih dari 50 juta, Habibti sekitar 30 juta, dan Maid Of Honour mendekati 20 juta. Keberhasilan ini mempertegas posisi Drake sebagai salah satu artis paling berpengaruh di era digital, sekaligus menegaskan kemampuan adaptasinya terhadap tren musik global.
Secara keseluruhan, triple album ini tidak hanya memperluas katalog musik Drake, tetapi juga menimbulkan diskusi penting tentang peran artis dalam isu politik, tanggung jawab sosial, dan batas antara ekspresi kreatif dan provokasi. Dengan catatan streaming yang belum pernah tercapai, serta kontroversi yang memicu perbincangan lintas platform, Drake menunjukkan bahwa ia tetap menjadi kekuatan utama yang mampu mengendalikan narasi musik dunia pada tahun 2026.