Declan Rice: Dari Laga Kritis di Piala Dunia hingga Gaya Kasual yang Ikonik
Blog Berita daikin-diid – 02 Juli 2026 | Declan Rice kembali menjadi sorotan utama setelah penampilan heroik Inggris melawan Republik Demokratik Kongo pada putaran 32 besar Piala Dunia 2026. Meski harus digantikan pada menit-menit akhir karena rasa sakit pada otot quadriceps, pemain Arsenal berusia 27 tahun menegaskan dirinya “good as gold” dan optimis dapat beraksi melawan tuan rumah Mexico pada laga berikutnya.
Di sebuah wawancara dengan BBC Radio 5 Live, Rice menjelaskan bahwa kondisi panas ekstrem sekitar 30 derajat Celsius memperparah kelelahan tubuh, namun ia tetap merasa siap kembali ke lapangan. “Itu yang terjadi ketika bermain di cuaca panas, tubuh sudah melalui banyak hal dalam pertandingan ini. Saatnya pulih dan kembali berjuang,” ujarnya. Penyebab cedera diperkirakan berasal dari kelelahan otot setelah sebelumnya harus melewati masalah hamstring, punggung, dan cedera betis yang membuatnya absen melawan Panama.
Sementara itu, manajer Inggris Thomas Tuchel mengungkapkan strategi taktis yang mengubah peran Rice menjadi right‑back pada menit-menit akhir pertandingan melawan Kongo. Keputusan tersebut datang dari asistennya, Anthony Barry, yang menyarankan pergeseran posisi untuk menambah dukungan serangan di sisi kanan dan membantu Bukayo Saka. Tuchel menilai perubahan itu memberi tim “lebih banyak crossing dan dukungan di sisi kanan”. Rice sendiri mengaku bahwa 12 menit terakhir sebagai bek kanan adalah yang terberat dalam kariernya, namun ia tetap menampilkan komitmen penuh demi kemenangan tim.
Di luar lapangan, Rice juga menarik perhatian publik lewat gaya fashionnya yang effortless. Dalam sebuah liputan IDN Times, tujuh OOTD (Outfit Of The Day) berpusat pada celana pendek yang dipadukan dengan polo shirt, overshirt, knit top, hingga sweater vest bergaya golf. Kombinasi tersebut menonjolkan aura “old money” sekaligus menegaskan bahwa celana pendek kini dapat menjadi pilihan stylish untuk aktivitas santai, olahraga, maupun traveling. Gaya tersebut menambah dimensi baru pada citra pemain, menjadikannya ikon mode bagi pria muda.
Kualitas permainan Rice tidak hanya diakui oleh pelatih dan penggemar, melainkan juga oleh mantan gelandang Arsenal Stefan Schwarz. Schwarz menilai Rice “sudah berkelas dunia” dan memiliki pengaruh signifikan saat Arsenal maupun timnas Inggris bermain. Menurutnya, kehadiran Rice meningkatkan performa rekan satu tim berkat kepemimpinan dan komunikasi yang kuat. Pernyataan serupa juga datang dari Peter Reid, yang menyamakan Rice dengan legenda Inggris seperti Bryan Robson. Reid menekankan bahwa Rice unggul dalam aspek ofensif maupun defensif, mampu membaca situasi, mengolah bola, serta memberikan kontribusi di kedua fase permainan.
Keberhasilan Rice bersama Arsenal pada musim 2025/2026, termasuk gelar Premier League dan penampilan impresif di Liga Champions, semakin menguatkan posisinya sebagai kandidat potensial Ballon d’Or. Dengan performa konsisten di level tertinggi, ia dinilai mampu bersaing dengan pemain-pemain elite dunia. Meski masih bersaing dengan rekan setimnya, seperti Harry Kane yang menjadi kapten Three Lions, Rice terus menunjukkan ambisi kuat untuk memimpin Inggris meraih trofi Piala Dunia di Amerika Utara.
Secara keseluruhan, Declan Rice menampilkan kombinasi unik antara ketangguhan fisik di panggung internasional, fleksibilitas taktis yang dapat diandalkan pelatih, serta kepekaan fashion yang menarik perhatian publik luas. Keberhasilannya dalam mengatasi cedera, beradaptasi dengan posisi baru, dan tetap mempertahankan standar tinggi dalam penampilan menjadikannya figur sentral dalam narasi sepak bola modern. Dengan prospek besar di dunia klub maupun timnas, serta potensi meraih penghargaan individual bergengsi, Rice diprediksi akan terus menjadi sorotan utama dalam beberapa tahun ke depan.