Banjir Bandang Gorontalo Utara: Ribuan Warga Terdampak, Rumah Hanyut, Pemerintah Gerakkan Bantuan Darurat
Blog Berita daikin-diid – 29 Mei 2026 | Sejak malam Selasa 26 Mei 2026, Kecamatan Biau, Kabupaten Gorontalo Utara, dilanda banjir bandang yang menghantam lima desa sekaligus. Hujan lebat yang dipengaruhi oleh siklon tropis Jangmi memicu meluapnya sungai-sungai kecil, menggenangi jalan, rumah, serta menggerus harta benda warga.
Data resmi dari Posko Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi Gorontalo mengungkapkan total 820 kepala keluarga atau 3.034 jiwa terdampak. Rincian per desa ditunjukkan pada tabel berikut:
| Desa | Kepala Keluarga | Jiwo |
|---|---|---|
| Didingga | 200 | 269 |
| Omuto | 168 | 562 |
| Bualo | 212 | 771 |
| Biau | 188 | 717 |
| Luhuto | 52 | 715 |
Ribuan warga terpaksa mengungsi ke posko sementara atau rumah kerabat yang lebih aman. Banyak rumah mengalami kerusakan struktural, beberapa harta benda hanyut terbawa arus, serta ternak yang melarikan diri menambah beban ekonomi korban.
Kepala Dinsosdukcapil Provinsi Gorontalo, Reflin Buata, menyatakan bahwa tim Tagana bersama pilar sosial lainnya telah menyiapkan dapur umum, distribusi makanan, serta paket kebutuhan pokok bagi para penyintas. “Langkah cepat ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah daerah terhadap masyarakat yang terdampak,” ujarnya pada Kamis 28 Mei 2026.
Selain bantuan logistik, pemerintah setempat melakukan asesmen kerusakan rumah secara menyeluruh. Tim teknis menilai tingkat kerusakan, mengidentifikasi rumah yang dapat ditinggali kembali, serta menyiapkan rencana relokasi sementara bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal permanen.
BMKG sebelumnya memperingatkan potensi hujan lebat di wilayah Gorontalo antara 29 Mei hingga 4 Juni 2026. Siklon tropis Jangmi, yang berada di Laut Filipina utara Papua, diperkirakan menciptakan zona konvergensi dan konfluensi yang dapat memperkuat pembentukan awan hujan. Pada tanggal 29 Mei, BMKG mengeluarkan peringatan bahwa intensitas hujan di Gorontalo dapat mencapai ringan hingga lebat, disertai kilat, petir, dan angin kencang. Peringatan tersebut menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya banjir bandang di Biau.
Warga setempat mengaku tidak menyangka curah hujan yang terjadi dalam waktu singkat dapat menggenangi wilayah yang biasanya kering. “Air mengalir begitu cepat, bahkan sampai ke lantai dasar rumah kami. Kami terpaksa memanjat atap untuk menghindari air yang masuk,” kata seorang korban di Desa Luhuto yang tidak mau disebutkan namanya demi keamanan.
Pemerintah Provinsi Gorontalo juga mengaktifkan jalur komunikasi darurat, mengirimkan tim SAR, serta menyiapkan kendaraan penampungan air bersih di lokasi terdampak. Upaya mitigasi jangka pendek diharapkan dapat meringankan beban korban sambil menunggu bantuan tambahan dari pemerintah pusat dan lembaga kemanusiaan.
Para ahli mengingatkan pentingnya penataan tata ruang dan peningkatan sistem drainase untuk mengurangi risiko banjir di masa depan. “Kawasan rawan banjir harus dipetakan secara detail, dan pembangunan infrastruktur harus memperhatikan kapasitas aliran air,” ujar seorang peneliti iklim dari Universitas Negeri Gorontalo.
Secara keseluruhan, situasi di Biau masih memerlukan penanganan intensif. Pemerintah daerah berjanji akan terus memantau perkembangan cuaca, memperkuat posko bantuan, dan mempercepat proses rehabilitasi rumah warga. Diharapkan, dengan koordinasi lintas sektor, dampak sosial‑ekonomi akibat banjir ini dapat diminimalisir.