Backrooms Pecahkan Rekor Box Office: Film Horor YouTuber Goyang Pasar Amerika Utara
Blog Berita daikin-diid – 01 Juni 2026 | Film horor berbudget rendah yang berasal dari kreator YouTube, Backrooms, berhasil menaklukkan box office Amerika Utara pada akhir pekan ini dengan mengumpulkan pendapatan sebesar US$81,5 juta dalam tiga hari pertama. Film yang disutradarai dan ditulis bersama oleh Kane Parsons, seorang pembuat konten berusia 20 tahun, ditayangkan di 3.442 bioskop di Amerika Serikat dan Kanada, menyalip pendapatan film Star Wars berjudul “The Mandalorian and Grogu” yang mengalami penurunan tajam pada pekan kedua.
Dengan biaya produksi hanya US$10 juta, Backrooms mencetak rasio keuntungan yang belum pernah tercapai sebelumnya untuk film genre horor yang berawal dari internet. Keberhasilan komersial ini tidak hanya mengangkat film tersebut ke posisi teratas, tetapi juga menegaskan daya tarik generasi Z yang kini kembali ke bioskop, melawan prediksi bahwa platform streaming akan mengikis kehadiran teater.
Film lain yang juga diproduksi oleh Blumhouse-Atomic Monster, Obsession, yang disutradarai oleh YouTuber berusia 26 tahun, Curry Barker, terus menunjukkan performa stabil. Pada pekan ketiga, Obsession mencatat tambahan US$26,4 juta, naik 10% dari akhir pekan sebelumnya, menempati posisi kedua di box office. Kedua film ini bersama-sama menggeser Star Wars ke peringkat ketiga dengan pendapatan US$25 juta.
Menurut Abhijay Prakash, presiden Blumhouse-Atomic Monster, pencapaian ini merupakan “validasi besar” atas strategi studio yang sejak lama menumbuhkan horor orisinal yang menargetkan penonton muda. Prakash menambahkan, “Kami terus mencari bakat baru di platform seperti YouTube, dan keberhasilan ini mungkin akan memicu gelombang peniru yang ingin mengubah kreasi daring menjadi pengalaman sinematik.”
Asal‑usul Backrooms bermula dari sebuah creepypasta—legenda urban yang tersebar di internet—yang menggambarkan ruang tak berujung dengan koridor kusam dan ruangan monoton. Parsons mengubah konsep tersebut menjadi serial web viral menggunakan perangkat lunak grafis 3D open‑source Blender. Serial tersebut menarik perhatian perusahaan produksi James Wan dan Shawn Levy, yang kemudian mengembangkan ide tersebut menjadi film layar lebar dengan pemeran utama Chiwetel Ejiofor dan Renate Reinsve.
Keberhasilan finansial di dalam negeri juga tercermin di pasar internasional. Hingga kini, Backrooms telah meraih total pendapatan global sekitar US$118 juta, menjadikannya film pertama yang menempatkan Parsons sebagai sutradara termuda yang memimpin box office dunia. Film ini juga mencatat rekor tertinggi dalam sejarah A24, melampaui pendahulunya, Civil War, yang membuka dengan US$25,5 juta pada tahun 2024.
Dari sudut pandang kritis, film ini mendapatkan pujian karena atmosfernya yang menegangkan. Penggunaan desain produksi yang menekankan pencahayaan keras, arsitektur aneh, dan kebisingan minimal menciptakan rasa tidak nyaman yang konstan. Teknik sinematografi yang sesekali beralih ke sudut pandang orang pertama menambah kesan imersif, membuat penonton seolah‑olah terperangkap di dalam ruang‑ruang tak berujung tersebut. Akting Chiwetel Ejiofor juga diakui memberikan kedalaman emosional yang menahan penonton pada realitas meski alur cerita semakin surreal.
Namun, tidak semua aspek mendapat sorotan positif. Beberapa kritikus mencatat kelemahan pada penulisan, khususnya keputusan karakter utama, seorang terapis, yang terkadang terasa tidak logis dan mengurangi keterlibatan emosional. Transformasi psikologis salah satu tokoh juga dirasa terlalu dipercepat, mengurangi dampak dramatis yang seharusnya berkembang lebih perlahan.
Secara keseluruhan, Backrooms tidak hanya menjadi fenomena komersial, tetapi juga menandai titik balik potensial dalam industri film. Keberhasilan film yang lahir dari platform digital membuktikan bahwa kreativitas daring dapat bertransformasi menjadi produk sinematik yang mengundang penonton ke dalam ruangan bioskop. Jika tren ini terus berlanjut, generasi kreator konten online mungkin akan menjadi sumber utama inovasi genre, sekaligus memperkuat relevansi pengalaman menonton bersama di era digital.