McLaren 720S Milik Andra ST Terbelah Dua di Sukoharjo, Harga Fantastis dan Teknologi Supercar Terungkap
Blog Berita daikin-diid – 09 Juli 2026 | Supercar ikonik McLaren 720S yang dimiliki oleh YouTuber gaming berusia 21 tahun, Andra ST, mengalami kecelakaan hebat di wilayah Telukan, Sukoharjo, Jawa Tengah pada pertengahan Juli 2026. Insiden tunggal tersebut menyebabkan bodi mobil terbelah menjadi dua bagian setelah menabrak tiang jalan, meninggalkan pertanyaan tentang tingkat kerusakan, biaya perbaikan, serta nilai pasar kendaraan yang berada pada kisaran belasan miliar rupiah.
Menurut penyelidikan pihak kepolisian setempat, kecelakaan terjadi ketika ban kendaraan selip di tikungan berkecepatan tinggi, yang mengakibatkan kehilangan kendali. Meskipun kendaraan mengalami kerusakan struktural ekstrem, kokpit utama tetap utuh berkat desain sasis Monocage II berbahan serat karbon. Struktur ini dirancang untuk menyerap energi tumbukan dengan cara mengalirkan gaya ke zona crumple yang dapat terlepas, sehingga melindungi pengemudi dari cedera serius.
McLaren 720S sendiri merupakan hasil evolusi dari model 650S, dibekali mesin M840T V8 twin‑turbo 4.0 liter yang menghasilkan 720 PS (sekitar 710 tenaga kuda) pada 7.500 rpm dan torsi puncak 770 Nm pada 5.500 rpm. Tenaga tersebut disalurkan ke roda belakang melalui transmisi seamless‑shift 7‑percepatan, memungkinkan akselerasi 0‑100 km/jam dalam 2,9 detik dan kecepatan maksimum mencapai 341 km/jam. Dengan berat kering hanya 1.283 kg, rasio power‑to‑weight menjadi sangat impresif, menjadikan 720S salah satu supercar tercepat di kelasnya.
Material utama yang membedakan 720S dari mobil sport konvensional adalah penggunaan rangka monocoque karbon (Monocage II). Rangka ini tidak hanya memberikan kekakuan tinggi dan bobot ringan, tetapi juga berfungsi sebagai “kapsul penyelamat” bagi penumpang. Pada kecelakaan Andra ST, bagian mesin dan panel belakang terlepas sementara area kabin tetap minim deformasi, menegaskan efektivitas desain keselamatan ini.
Dari sisi nilai ekonomi, McLaren 720S berada pada segmen premium dengan harga baru di pasar Indonesia antara Rp10 miliar hingga Rp15 miliar, tergantung pada opsi kustomisasi, tahun produksi, dan pajak barang mewah. Harga bekas tetap tinggi, berkisar Rp6,8 miliar hingga Rp8,8 miliar, mengingat jumlah unit yang terbatas di tanah air. Mobil yang dibeli Andra ST tiga bulan lalu merupakan unit tahun 2023, sehingga masih tergolong baru dan belum pernah diperdagangkan sebagai second hand.
Kerusakan pada rangka karbon dan panel eksternal menambah kompleksitas proses perbaikan. Komponen serat karbon memerlukan perawatan khusus, peralatan khusus, dan suku cadang yang tidak mudah didapatkan di Indonesia. Oleh karena itu, perkiraan biaya pemulihan kendaraan dapat mencapai puluhan miliar rupiah, meski belum ada pernyataan resmi tentang total kerugian.
Selain aspek teknis, insiden ini menimbulkan diskusi tentang kecocokan supercar berteknologi Formula 1 untuk jalan raya Indonesia. Tingginya biaya perawatan, pajak barang mewah, serta kebutuhan infrastruktur yang mendukung kecepatan tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi pemilik. Beberapa pengamat otomotif menilai bahwa penggunaan supercar di jalan publik memerlukan tingkat konsentrasi dan keahlian mengemudi yang jauh di atas rata‑rata pengemudi, terutama pada kondisi jalan yang berkelok dan tidak selalu bersih.
Secara keseluruhan, kecelakaan McLaren 720S milik Andra ST mengungkap kombinasi antara kecanggihan teknologi, nilai ekonomi tinggi, dan risiko operasional yang melekat pada supercar. Meskipun kerusakan fisik sangat parah, struktur keselamatan berhasil melindungi pengemudi, menegaskan keunggulan engineering McLaren. Namun, biaya perbaikan yang mahal serta nilai pasar yang tetap tinggi menunjukkan bahwa kepemilikan supercar semacam ini tetap merupakan investasi yang sangat berisiko di lingkungan jalan umum.
Kesimpulannya, kejadian di Sukoharjo menjadi pelajaran penting bagi para kolektor dan penggemar supercar di Indonesia: performa luar biasa tidak dapat mengesampingkan tanggung jawab mengemudi yang aman dan kesadaran akan keterbatasan infrastruktur lokal.