Noni Madueke Siap Jadi Algojo Penalti Inggris di Piala Dunia 2026 setelah Drama DR Congo
Blog Berita daikin-diid – 02 Juli 2026 | Timnas Inggris menatap babak 32 besar Piala Dunia 2026 dengan tekad menghindari nasib tragis Jerman dan Belanda yang tersingkir lewat adu penalti. Winger Arsenal, Noni Madueke, menegaskan bahwa persiapan penalti menjadi prioritas utama dalam sesi latihan menjelang laga melawan Republik Demokratik Kongo (DR Congo). Ia menjelaskan bahwa fase gugur semakin menuntut ketajaman mental dan teknis, sehingga Inggris berlatih secara intensif untuk menyiapkan eksekutor yang handal.
“Kami benar-benar mempersiapkan situasi adu penalti dengan sangat serius,” kata Madueke dalam sebuah wawancara yang dikutip BBC. Pemain berusia 22 tahun itu menambahkan bahwa tim pelatih, yang dipimpin Thomas Tuchel, menganggap setiap detail penting, mulai dari teknik tendangan hingga psikologi penendang.
Dalam sesi latihan, pemain melakukan beberapa tahapan khusus:
- Simulasi tekanan waktu 90 menit penuh sebelum masuk ke ronde penalti.
- Latihan variasi ancang-ancang, termasuk berhenti sejenak, menunggu gerakan kiper, dan perubahan sudut tembakan.
- Penguatan mental melalui visualisasi dan latihan pernapasan untuk mengendalikan stres.
Madueke menegaskan bahwa aspek psikologis sama pentingnya dengan kemampuan fisik. “Banyak faktor yang menentukan keberhasilan penalti, termasuk cara mengambil ancang-ancang, apakah berhenti sejenak atau menunggu pergerakan kiper, hingga memilih sudut tembakan,” ujarnya. Ia menambahkan, “Semua itu harus dipikirkan dengan matang.”
Keputusan akhir penunjukan eksekutor penalti berada di tangan pelatih Thomas Tuchel. Meskipun demikian, Madueke tak ragu mengambil tanggung jawab bila diminta. “Saya selalu siap mengambil penalti. Pada akhirnya keputusan ada di tangan pelatih, siapa yang dianggap paling tepat untuk tim. Namun dari sisi saya, saya selalu siap jika diberi kesempatan,” ujarnya.
Di sisi lain, pertandingan antara Inggris dan DR Congo di Atlanta menjadi sorotan setelah Inggris berhasil membalikkan ketertinggalan 0-1 menjadi kemenangan 2-1. Jamie O’Hara, mantan pemain Inggris, mengkritik keputusan Thomas Tuchel yang meninggalkan Trent Alexander-Arnold dari skuad, menyebutnya sebagai salah satu pilihan terburuk dalam sejarah Piala Dunia. O’Hara menilai penampilan tim Inggris pada pertandingan tersebut “terrible” meski akhirnya berhasil menang berkat gol kepala Harry Kane pada menit ke-75 dan gol penentu pada menit ke-86.
Meski hasil akhir menguntungkan, kritik terhadap strategi Tuchel tetap keras. O’Hara menilai bahwa ketidakkonsistenan performa Inggris selama turnamen menjadi masalah utama, dan keputusan taktis yang dipertanyakan menambah beban mental pada pemain, termasuk Madueke.
Dengan kemenangan tipis melawan DR Congo, Inggris melaju ke babak 16 besar, namun ancaman adu penalti tetap mengintai. Madueke, yang telah menegaskan kesiapan mental dan teknisnya, kini menanti keputusan terakhir pelatih. Jika terpilih menjadi eksekutor, ia akan menjadi sorotan utama dalam duel taktik antara penendang dan kiper lawan, mengingat pengalaman tragis Jerman dan Belanda yang gagal menembus lewat penalti.
Secara keseluruhan, kombinasi persiapan intensif, kritik taktis, dan dinamika pertandingan menunjukkan bahwa Inggris berada di persimpangan penting. Keberhasilan di fase gugur tidak hanya bergantung pada kualitas pemain, tetapi juga pada keputusan pelatih dan kesiapan mental yang terlatih. Penampilan Noni Madueke dan keputusan Thomas Tuchel akan menjadi faktor penentu apakah Inggris dapat menghindari nasib sial tim-tim raksasa Eropa sebelumnya.