Mark Rutte Bongkar Rahasia Italia di Tengah Ketegangan NATO‑Trump tentang Perang Iran
Blog Berita daikin-diid – 26 Juni 2026 | Jakarta, 25 Juni 2026 – Sekjen NATO Mark Rutte menimbulkan kegemparan politik di Italia setelah mengungkapkan bahwa pemerintah Italia secara rahasia mengizinkan pangkalan militer Amerika Serikat digunakan untuk mendukung operasi militer melawan Iran. Pernyataan Rutte bertolak belakang dengan sikap resmi Perdana Menteri Giorgia Meloni yang menegaskan Italia tidak berpartisipasi dalam konflik tersebut.
Dalam wawancara eksklusif dengan Fox News pada 24 Juni, Rutte menyatakan bahwa sekitar 500 pesawat militer AS lepas landas dari pangkalan-pangkalan di Italia untuk mendukung apa yang disebutnya “Operation Epic Fury”. Ia menambahkan bahwa total penerbangan AS dari seluruh Eropa mencapai 4.000 hingga 5.000 pesawat, menyoroti kontribusi signifikan sekutu Eropa dalam konflik yang memanas antara AS‑Israel dan Iran. Klaim ini memicu protes keras di Roma, di mana pihak berwenang menolak tuduhan adanya operasi militer ofensif yang melibatkan pangkalan Italia.
Meloni sebelumnya menegaskan bahwa Italia hanya mengizinkan penerbangan logistik dan teknis, sesuai perjanjian bilateral dengan AS. Pada Maret 2026, ia menyatakan di hadapan parlemen bahwa Italia “tidak mendukung maupun berpartisipasi” dalam operasi militer terhadap Iran. Namun pernyataan Rutte menimbulkan pertanyaan serius tentang kesesuaian antara kebijakan publik dan praktik rahasia pemerintah Italia.
Ketegangan ini tidak hanya terbatas pada Italia. Di Washington, Presiden Donald Trump kembali mengkritik sekutu NATO, termasuk Italia, Spanyol, Inggris, Jerman, dan Prancis, karena dianggap enggan memberikan dukungan militer yang memadai dalam perang Iran. Pada pertemuan di Oval Office, Trump menyebut Spanyol sebagai “horror show” dan menyatakan kekecewaannya terhadap Italia serta negara‑negara lainnya. Meski demikian, Rutte berusaha meredakan ketegangan dengan menampilkan data peningkatan belanja pertahanan Eropa sejak 2017, yang ia sebut “Trump trillion”.
Rutte, yang dikenal memiliki hubungan pribadi dengan Trump, berusaha menyeimbangkan antara kepentingan aliansi NATO dan tekanan Washington. Ia menggunakan grafik kardus untuk menunjukkan pertumbuhan belanja pertahanan di Eropa, sekaligus menekankan bahwa “kasus penolakan dukungan” bersifat “terisolasi”. Namun, pernyataan Rutte tentang 500 penerbangan AS dari Italia menambah kerutan di kalangan politisi Italia. Menteri Pertahanan Guido Crosetto menegaskan bahwa hanya penerbangan teknis yang diizinkan, sementara Menteri Luar Negeri Antonio Tajani menolak tuduhan adanya operasi militer rahasia.
Partai oposisi Italia, termasuk Gerakan Bintang Lima yang dipimpin oleh mantan PM Giuseppe Conte, menuntut klarifikasi segera. De Cristofaro, pemimpin Aliansi Hijau dan Kiri, menyebut situasi “sangat serius” dan menuntut pertanggungjawaban pemerintah di depan parlemen. Sementara itu, media internasional melaporkan bahwa pernyataan Rutte dapat memperburuk hubungan Italia dengan Washington, terutama menjelang KTT NATO yang dijadwalkan di Ankara pada awal Juli.
Di sisi lain, Pentagon mengumumkan peninjauan enam bulan terhadap penempatan pasukan AS di Eropa, setelah keputusan sebelumnya untuk mengurangi 5.000 tentara di Jerman. Review ini menambah ketidakpastian bagi sekutu NATO, yang harus menyiapkan alternatif dukungan logistik bila AS mengurangi kehadirannya. Rutte, yang menjadi tokoh kunci dalam meredam konflik ini, berupaya menjaga kepercayaan antara Washington dan Eropa, meski ia harus menavigasi perbedaan pandangan antara Trump yang agresif dan pemerintah Italia yang berhati‑hati.
Secara keseluruhan, pengungkapan Rutte menyoroti kerumitan diplomasi militer di tengah perang Iran yang belum berakhir. Sementara Amerika Serikat menuntut dukungan penuh sekutu NATO, negara‑negara Eropa berusaha menyeimbangkan antara kepentingan keamanan kolektif dan tekanan domestik yang menentang keterlibatan militer langsung. Italia kini berada di persimpangan: menegaskan kedaulatan keputusan nasional atau menyesuaikan diri dengan permintaan Washington untuk mengamankan jalur strategis di Timur Tengah.
Kondisi ini menegaskan pentingnya transparansi dalam kebijakan pertahanan aliansi serta perlunya dialog berkelanjutan antara pemimpin NATO dan negara‑anggota untuk mencegah mis‑komunikasi yang dapat memperburuk ketegangan geopolitik. Dengan KTT NATO yang akan datang, semua mata tertuju pada kemampuan Rutte untuk menengahi perbedaan antara Trump yang keras kepala dan pemerintah Italia yang defensif, sekaligus memastikan bahwa aliansi tetap solid dalam menghadapi ancaman yang muncul dari konflik Iran.