Kapal Perang AS Menyamar Jadi Kapal Oman, Dikunci Rudal Iran, dan Diusir Dari Selat Hormuz
Blog Berita daikin-diid – 15 April 2026 | Amerika Serikat meningkatkan tekanan militer terhadap Iran dengan meluncurkan operasi blokade di Selat Hormuz pada pertengahan April 2026. Operasi yang dinamakan “Lockdown” melibatkan penempatan lebih dari 15 kapal perang, satu kapal induk, serta puluhan pesawat tempur siluman F-35B di perairan Teluk Oman. Sekitar 10.000 personel militer dikerahkan untuk mengawasi jalur pelayaran yang menjadi kunci 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Strategi utama yang dipilih Washington adalah “jaring” di perairan terbuka Teluk Oman, bukan penempatan kapal perang langsung di mulut Selat Hormuz yang sempit. Taktik ini bertujuan mengurangi risiko ranjau laut dan serangan jarak dekat dari pantai Iran. Dalam rangka menipu sistem pengawasan Iran, sebuah kapal perusak AS secara khusus dicat dengan warna dan lambang Oman, sehingga dapat melintas tanpa menimbulkan kecurigaan pada awalnya.
Setelah berhasil menembus zona pengawasan, kapal penyamaran tersebut tiba-tiba diidentifikasi oleh radar militer Iran. Sistem pertahanan udara Teheran mengunci kapal dengan rudal surface-to-air, menandakan bahwa identitas palsu telah terungkap. Menanggapi ancaman, Kapal Perang AS yang berada dalam formasi segera melakukan manuver evasif dan mengirimkan sinyal perintah kepada kapal penyamaran untuk berbalik arah.
Dalam beberapa jam berikutnya, enam kapal niaga, termasuk tanker minyak yang sebelumnya diperkirakan akan melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Iran, dipaksa berbalik arah di Teluk Oman. Komando Pusat AS (Centcom) mengumumkan bahwa kapal-kapal tersebut melanggar batas waktu blokade yang telah ditetapkan. Penolakan ini mempertegas niat Washington untuk memutus aliran energi Iran serta menekan Tehran agar membuka kembali akses jalur laut.
Operasi blokade tidak hanya bergantung pada kapal perang yang bersembunyi. Dua kapal perusak, USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy, memulai misi pembersihan ranjau laut di Selat Hormuz. Misi ini bertujuan menghilangkan ancaman ranjau yang ditanam oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dan memberikan jalur aman bagi kapal dagang internasional. Selama operasi, kedua kapal tersebut menembak jatuh sebuah drone pengintai Iran yang mendekat, menandakan eskalasi ketegangan di wilayah tersebut.
Pejabat militer AS, termasuk Komandan CENTCOM Brad Cooper, menegaskan bahwa taktik “jaring” memberikan fleksibilitas lebih dalam menanggulangi ancaman. “Kami menunggu momen yang tepat untuk mencegat kapal tanker setelah mereka keluar dari selat dan berada di posisi yang lebih aman,” ujar Cooper dalam pernyataan resmi. Sementara itu, Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa blokade ini akan menjadi “tali pengikat” bagi Iran agar menghentikan serangan terhadap kapal-kapal sekutu di perairan internasional.
Iran menanggapi aksi tersebut dengan keras, menyebutkan bahwa kapal perang AS tidak pernah memasuki perairan internasional Selat Hormuz dan menuduh Washington melakukan provokasi. Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa IRGC tetap mengendalikan jalur air tersebut dan siap menembakkan rudal jika diperlukan. Meskipun demikian, data intelijen menunjukkan bahwa kapal penyamaran Omani memang berhasil menembus pengawasan awal sebelum terdeteksi.
Blokade ini menimbulkan dampak signifikan pada pasar energi global. Harga minyak mentah mengalami fluktuasi tajam, sementara negara-negara pengimpor energi mempercepat diversifikasi sumber pasokan. Analisis para pakar geopolitik mengindikasikan bahwa ketegangan di Selat Hormuz dapat memicu resesi ekonomi regional jika tidak segera diredam melalui diplomasi atau penyelesaian militer.
Keberhasilan memaksa enam kapal niaga berbalik arah sekaligus mengeksekusi pembersihan ranjau menandai titik balik dalam konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Namun, tindakan penyamaran kapal perang dan penggunaan rudal anti-kapal menunjukkan bahwa eskalasi militer masih berpotensi berlanjut. Semua pihak diharapkan untuk menahan diri dan mencari solusi diplomatik agar jalur perdagangan internasional tidak lagi menjadi arena pertempuran.