Danantara Siapkan Obligasi Global hingga 30 Tahun, Investor Dunia Banjir Order
Blog Berita daikin-diid – 17 Juni 2026 | JAKARTA, 17 Juni 2026 – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mengumumkan rencana ambisius untuk memperluas penerbitan obligasi global dengan tenor hingga 30 tahun. Langkah itu diambil setelah penawaran perdana yang berhasil mengumpulkan US$1,5 miliar dan memperoleh permintaan total US$4,6 miliar, tiga kali lipat dari target awal.
CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa oversubskripsi tersebut menandakan kepercayaan kuat investor internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia. “Kami awalnya menargetkan US$1 miliar, namun permintaan yang masuk selama proses book‑building mencapai US$4,6 miliar. Karena itu, kami menambah ukuran penawaran menjadi US$1,5 miliar, terbagi rata antara tenor 5 tahun dan 10 tahun,” ujarnya dalam rapat di Istana Negara bersama Presiden Prabowo Subianto.
Obligasi 5 tahun diterbitkan dengan yield 5,35 persen, sedangkan obligasi 10 tahun memiliki yield 5,95 persen—kedua angka berada di bawah perkiraan pasar yang awalnya berkisar antara 6 hingga 7 persen. Penetapan harga yang kompetitif ini menegaskan bahwa Danantara berhasil memperoleh biaya pendanaan yang relatif murah meski belum memiliki rekam jejak penerbitan internasional sebelumnya.
KADIN (Kamar Dagang Indonesia) juga menyambut positif pencapaian tersebut. Wakil Ketua Umum Bidang Kepatuhan dan Etika Bisnis KADIN, Haryara Tambunan, menyatakan bahwa keberhasilan obligasi global Danantara menjadi bukti fundamental ekonomi Indonesia yang kuat di tengah ketidakpastian geopolitik. “Momentum ini menunjukkan bahwa investor global melihat Indonesia sebagai tempat yang aman dan menguntungkan untuk menanamkan modal,” katanya dalam pernyataan tertulis.
Distribusi geografis investor menambah dimensi penting pada keberhasilan penawaran. Pada tenor 5 tahun, 38% alokasi berasal dari Amerika Serikat, 41% dari Eropa dan Timur Tengah, serta 21% dari Asia. Untuk tenor 10 tahun, proporsi investor AS meningkat menjadi 52%, Eropa dan Timur Tengah 31%, dan Asia 17%. Pola ini berbeda dari sejarah obligasi Indonesia yang biasanya didominasi oleh investor Asia, menandakan pergeseran kepercayaan global yang lebih luas.
Rosan menegaskan bahwa Danantara tidak akan berhenti di sini. “Kami sangat terbuka untuk menerbitkan obligasi lagi, bahkan sampai tenor 30 tahun, mengingat appetite investor yang sangat besar. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil menjadi faktor utama yang menarik minat mereka,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa dana hasil penerbitan pertama akan masuk ke rekening Danantara pada 18 Juni 2026, siap dialokasikan untuk mendukung investasi strategis dalam sektor-sektor prioritas nasional.
Pengalaman pertama ini juga menarik sorotan media internasional, termasuk Bloomberg yang menyoroti obligasi Danantara sebagai “win for Prabowo after rout”. Analisis tersebut menekankan bahwa penetapan yield yang lebih rendah dari perkiraan menandakan kepercayaan tinggi terhadap kredibilitas Danantara serta kebijakan pemerintah yang konsisten.
Secara keseluruhan, pencapaian ini memberikan dorongan signifikan bagi pasar keuangan Indonesia. Investor melihat Indonesia tidak hanya mampu menahan gejolak geopolitik, tetapi juga menawarkan profil risiko yang kompetitif. Rencana penerbitan obligasi hingga 30 tahun diperkirakan akan memperluas basis investor, menambah likuiditas pasar, dan menyediakan sumber pembiayaan jangka panjang bagi proyek‑proyek pembangunan nasional.
Keberhasilan ini sekaligus menjadi sinyal kuat bagi pemerintah untuk terus memperkuat kerangka regulasi dan transparansi, guna mempertahankan kepercayaan investor. Dengan dukungan KADIN, kementerian investasi, dan institusi keuangan lainnya, Indonesia berada pada posisi strategis untuk menarik lebih banyak modal asing, memperkuat neraca pembayaran, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Kesimpulannya, penerbitan obligasi global pertama Danantara tidak hanya berhasil mengumpulkan dana jauh di atas target, tetapi juga membuka peluang baru bagi Indonesia dalam mengakses pasar modal internasional dengan tenor panjang. Jika rencana 30 tahun terwujud, Indonesia dapat memperkuat fondasi keuangan jangka panjangnya, sekaligus menegaskan posisi sebagai destinasi investasi utama di Asia Tenggara.