Djed Spence Raih Tempat Terakhir Timnas Inggris Meski Menghadapi Patah Rahang dan Tekanan Degradasi Spurs
Blog Berita daikin-diid – 23 Mei 2026 | Tottenham Hotspur mengalami drama dua sisi dalam minggu menjelang penutup musim Premier League. Di satu sisi, bek sayap serbaguna Djed Spence harus bertarung melawan patah rahang yang diderita setelah benturan keras dengan Liam Delap saat melawan Chelsea. Di sisi lain, nama Spence muncul kembali di panggung internasional ketika manajer Inggris, Thomas Tuchel, menegaskan pilihan terakhirnya untuk menambahkan Spence ke skuad 26‑orang menjelang Piala Dunia 2026 di Amerika Utara.
Insiden yang terjadi pada pertandingan Spurs melawan Chelsea pada 20 Mei 2026 berawal dari duel udara di daerah penalti. Delap, yang berusaha mengeluarkan bola, secara tidak sengaja menabrak rahang Spence dengan siku. Cedera itu langsung mengakibatkan pendarahan dan rasa sakit yang parah, memaksa Spence mendapatkan perawatan medis di lapangan. Pemeriksaan lanjutan oleh tim medis klub mengonfirmasi adanya patah pada rahang kanan, sebuah cedera yang biasanya menuntut pemulihan beberapa minggu.
Meski demikian, Spence menolak untuk menyerah. Klub mengumumkan bahwa pemain akan mengenakan masker pelindung khusus selama pertandingan terakhir musim ini melawan Everton. Masker tersebut dirancang untuk melindungi area patah sekaligus memungkinkan Spence tetap berkontribusi pada serangan dan pertahanan tim. “Saya ingin membantu tim, apalagi dalam situasi kritis seperti ini,” kata Spence dalam unggahan media sosialnya, disertai emoji tawa yang menandakan semangat juangnya.
Spence telah tampil dalam 43 pertandingan sepanjang musim, tetapi posisinya di lini belakang seringkali dipersaingkan oleh Destiny Udogie. Pada laga terakhir melawan Everton, kehadiran Spence menjadi penting mengingat krisis cedera yang melanda Spurs. Bintang‑bintang seperti Dejan Kulusevski, Mohammed Kudus, Ben Davies, Xavi Simons, dan Cristian Romero berada di luar kondisi optimal, menambah beban pada pemain yang masih harus pulih.
Sementara itu, di tingkat internasional, keputusan Tuchel untuk memasukkan Spence ke dalam skuad Piala Dunia menimbulkan perdebatan. Pada awal pekan, spekulasi menyebutkan bahwa Myles Lewis‑Skelly, bek muda Arsenal, akan menjadi pengganti terakhir. Namun, setelah serangkaian pemeriksaan medis tambahan, dokter tim mengonfirmasi bahwa Spence telah siap secara fisik dan medis untuk mengikuti turnamen. “Kami menerima konfirmasi bahwa Spence dapat berkompetisi tanpa risiko signifikan,” ungkap juru bicara medis Inggris.
Keputusan tersebut mencerminkan kepercayaan Tuchel pada kemampuan Spence untuk memberikan kontribusi baik di sisi kiri maupun kanan pertahanan. Spence dikenal memiliki kecepatan, kemampuan menembus lini lawan, serta fleksibilitas taktik yang memungkinkan ia bermain sebagai full‑back maupun wing‑back. “Dia adalah pemain yang bisa diandalkan dalam situasi kritis, dan kami butuh kedalaman di posisi bek,” kata Tuchel dalam konferensi pers peluncuran skuad.
Masuknya Spence ke skuad menambah dimensi baru pada formasi Inggris, yang akan bersaing di Grup L bersama Kroasia, Panama, dan Ghana. Di sisi lain, persaingan internal untuk posisi bek semakin ketat, dengan Nico O’Reilly (Manchester City) dan Reece James (Chelsea) menjadi kandidat utama di sisi kanan. Meski demikian, fleksibilitas Spence memungkinkan pelatih mengatur strategi sesuai kebutuhan lawan.
Reaksi publik terbagi. Sebagian pendukung mengapresiasi keputusan Tuchel sebagai langkah berani, mengingat Spence belum menjadi starter reguler di klub. Sementara itu, kritikus mempertanyakan prioritas kesehatan pemain yang masih mengalami patah rahang. Namun, catatan medis menunjukkan bahwa penggunaan masker pelindung dapat mengurangi risiko komplikasi lebih lanjut, sehingga keputusan tersebut dinilai layak.
Dengan situasi Tottenham yang berjuang menghindari degradasi, kehadiran Spence dalam pertandingan melawan Everton menjadi sorotan utama. Kemenangan melawan Everton akan menjamin tempat Spurs di Liga Premier musim depan, meskipun hasil imbang pun cukup untuk mengamankan posisi mereka berkat selisih gol yang lebih baik dibandingkan rival West Ham United.
Secara keseluruhan, Djad Spence kini berada di persimpangan karier: ia harus menyeimbangkan pemulihan cedera dengan ambisi internasional. Jika ia mampu tampil di Piala Dunia tanpa komplikasi, hal ini tidak hanya mengukuhkan posisinya di timnas, tetapi juga meningkatkan nilai jualnya di pasar transfer. Bagi Spurs, keberhasilan Spence melindungi gawang melawan Everton dapat menjadi penentu akhir musim, sekaligus menegaskan pentingnya pemain yang mampu bangkit dari cedera.