Djed Spence Bangkit dari Patah Rahang: Dari Laga Chelsea hingga Panggilan Piala Dunia
Blog Berita daikin-diid – 22 Mei 2026 | Bek sayap Tottenham Hotspur, Djed Spence, kembali menjadi sorotan publik setelah mengalami cedera serius berupa patah rahang dalam pertandingan melawan Chelsea pada 22 Mei 2026. Insiden terjadi ketika Spence bersaing untuk bola udara di Stamford Bridge dan menerima sikutan tak terduga dari Liam Delap, yang kemudian memicu kerusakan pada rahangnya. Meskipun cedera tersebut tergolong berat, pemain berusia 25 tahun tersebut menunjukkan tekad kuat untuk tetap berkontribusi bagi klub dan negaranya.
Setelah pemeriksaan medis oleh tim medis Spurs, diketahui bahwa Spence mengalami fraktur pada rahang bawah. Karena kondisi tersebut, ia harus mengenakan masker pelindung khusus setiap kali melangkah ke lapangan. Masker ini, yang kini menjadi bagian dari perlengkapan pemain yang mengalami cedera wajah, dirancang untuk melindungi rahang yang sedang dalam proses penyembuhan sekaligus memungkinkan pemain tetap beroperasi secara maksimal di lapangan.
Masalah ini muncul pada momen krusial bagi Tottenham. Tim asuhan Roberto De Zerbi berada dalam pertempuran sengit melawan West Ham United untuk mengamankan posisi aman di papan klasemen Premier League menjelang pekan terakhir musim. Kekalahan 2-1 dari Chelsea menambah beban pada skuad yang sudah mengalami krisis cedera, dengan beberapa pemain kunci seperti Dejan Kulusevski, Mohammed Kudus, Ben Davies, Xavi Simons, dan Cristian Romero absen.
Meski demikian, keputusan medis memperbolehkan Spence untuk kembali bermain dalam laga penutup musim melawan Everton, asalkan ia memakai masker pelindung. Penampilan Spence akan menjadi faktor penting bagi Tottenham, yang membutuhkan semua tenaga untuk mengamankan poin penting. Jika Spurs berhasil mengamankan hasil imbang atau kemenangan melawan Toffees, mereka secara matematis akan memastikan kelangsungan mereka di Liga Premier musim depan, berkat selisih gol yang lebih unggul dibandingkan rival terdekat.
Selain tantangan di level klub, Spence juga mendapat kabar gembira di level internasional. Pada hari Jumat, pelatih Tim Nasional Inggris, Thomas Tuchel, mengumumkan skuad 26 pemain untuk Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. Kejutan terbesar dalam daftar tersebut adalah pemilihan Djed Spence, yang menggantikan mantan kapten tim, Trent Alexander‑Arnold. Keputusan ini memicu perdebatan di kalangan suporter, namun Tuchel menegaskan bahwa Spence memiliki kemampuan tak taktis yang dapat memperkaya opsi pertahanan dan serangan tim.
Spence sendiri mengaku terkejut namun bangga atas panggilan tersebut. Ia menyadari bahwa persaingan di posisi bek kiri sangat ketat, terutama dengan kehadiran Destiny Udogie yang menjadi pilihan utama di Tottenham, serta Nico O’Reilly yang menjadi andalan di Tim Nasional. Namun, Spence berjanji akan memberikan yang terbaik, baik di liga domestik maupun pada panggung internasional, meskipun kondisinya masih dalam proses penyembuhan.
Berita ini juga menyoroti dinamika seleksi pemain Inggris menjelang Piala Dunia. Thomas Tuchel memilih Ivan Toney sebagai penyerang tambahan, sekaligus mengecualikan Harry Maguire dan Cole Palmer. Keputusan tersebut mencerminkan strategi Tuchel yang menekankan fleksibilitas taktik dan kesiapan fisik pemain. Spence, yang mampu beroperasi di posisi bek kiri maupun kanan, dipandang sebagai aset serbaguna yang dapat menyesuaikan diri dengan formasi yang berbeda.
Di luar lapangan, Spence mengunggah rekaman video insiden tersebut di media sosial, menambahkan serangkaian emoji tertawa di keterangan. Tindakan tersebut menunjukkan sikap positifnya dalam menghadapi cedera, sekaligus menambah dukungan dari para penggemar yang menantikan kembalinya ia ke lapangan dengan semangat yang tak tergoyahkan.
Secara keseluruhan, cerita Djed Spence menggambarkan perjuangan seorang atlet profesional yang harus menyeimbangkan antara pemulihan fisik dan ambisi kompetitif. Dengan masker pelindung di wajahnya, Spence siap menampilkan performa maksimal, membantu Tottenham mengamankan posisi mereka di Premier League, dan sekaligus memperjuangkan tempat di timnas Inggris pada turnamen paling bergengsi di dunia. Kesempatan ini menjadi bukti bahwa ketangguhan mental dan dedikasi tinggi dapat mengatasi rintangan fisik, sekaligus memberikan inspirasi bagi generasi pemain muda yang bercita‑cita menembus level tertinggi sepak bola.