Tragedi Helikopter Airbus H130 PK‑CFX di Kalbar: 8 Korban Tewas, Identitas Lengkap dan Upaya SAR
Blog Berita daikin-diid – 18 April 2026 | Pada sore hari Kamis, 16 April 2026, sebuah helikopter Airbus H130 berregistrasi PK‑CFX yang dioperasikan oleh PT Matthew Air Nusantara jatuh di wilayah hutan Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Pesawat yang berangkat pukul 08.34 WIB dari Kabupaten Kubu Raya membawa delapan orang, terdiri dari dua awak penerbangan dan enam penumpang, kehilangan kontak lima menit setelah lepas landas. Upaya pencarian dan evakuasi yang dipimpin oleh Tim SAR Gabungan berhasil menemukan semua jenazah pada hari berikutnya, Jumat, 17 April 2026.
Menurut pernyataan Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, helikopter tersebut berisi delapan penumpang yang semuanya telah meninggal dunia. Tim SAR Gabungan, yang melibatkan unsur TNI AD, TNI AU, serta personel Kodim 1204/Sanggau, Yonif TP 833/Bumi Daranante, dan Yonif 642/Kapuas, melakukan evakuasi jenazah dengan prosedur ketat mengingat medan yang sangat sulit dijangkau.
Berikut adalah daftar lengkap nama korban yang berhasil diidentifikasi:
- Kapten Marindra – Pilot
- Harun Arasyd – Kopilot
- Patrick K – Penumpang
- Victor T – Penumpang
- Charles L – Penumpang
- Joko C – Penumpang
- Fauzi O – Penumpang
- Sugito – Penumpang
Mayoritas penumpang merupakan karyawan PT KPN Corp atau afiliasinya, yang sedang dalam perjalanan dari perkebunan sawit menuju helipad milik PT Graha Agro Nusantara di Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.
Setelah menemukan lokasi jatuh pada sore hari 16 April, Tim SAR memulai operasi pemulihan pada malam harinya. Proses pengangkatan jenazah dari puing-puing helikopter selesai sekitar pukul 22.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan penurunan ke posko lapangan. Pada dini hari 17 April, sekitar pukul 05.00 WIB, seluruh jenazah berhasil dipindahkan ke ambulans. Delapan unit ambulans dikerahkan, dan jenazah pertama kali dibawa ke Yonif 642/Kapuas Sanggau pada pukul 06.05 WIB sebelum melanjutkan perjalanan ke Rumah Sakit Bhayangkara, Pontianak.
Evakuasi darat memakan waktu kira‑kira tiga setengah jam, diperkirakan tiba di rumah sakit sekitar pukul 08.30 WIB. Untuk mempercepat proses, TNI AU menyediakan satu unit helikopter Super Puma yang berangkat dari Lanud Supadio, Pontianak, dan melakukan penerbangan ke titik penjemputan di Yonif 642/Kapuas. Waktu tempuh antara kedua lokasi tersebut sekitar 45 menit dengan jarak 81 mil laut.
Tim SAR menutup operasi pada pukul 14.35 WIB setelah semua jenazah teridentifikasi oleh tim Biddokkes dan empat dokter forensik di Rumah Sakit Bhayangkara. Kepala rumah sakit, Kombes Pol Dr. J. Ginting, memastikan proses identifikasi berjalan maksimal dan seluruh keluarga korban telah menerima informasi resmi.
Investigasi penyebab kecelakaan kini berada di ranah Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Menurut informasi, helikopter PK‑CFX tidak dilengkapi dengan kotak hitam (black box), sehingga penyelidikan akan mengandalkan data teknis lain serta temuan puing di lokasi. PT Matthew Air Nusantara menyatakan bahwa tidak ada masalah teknis yang terdeteksi sebelum keberangkatan, dan mesin helikopter dinyatakan layak terbang.
Penanganan krisis ini menunjukkan sinergi yang kuat antara aparat militer, Basarnas, kepolisian, serta pihak kesehatan. Asops Kasdam XII/Tanjungpura, Kolonel Infanteri Ahmad Daud Harahap, menyampaikan dukungan penuh terhadap operasi kemanusiaan ini, sementara Danrem 121/Alambhana Wanawai memimpin koordinasi lapangan secara langsung.
Tragedi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai standar keselamatan penerbangan di daerah terpencil, terutama bagi operasi transportasi korporasi di sektor perkebunan. Masyarakat dan keluarga korban kini menunggu hasil akhir penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti jatuhnya helikopter, serta langkah-langkah preventif yang akan diambil untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Dengan total delapan nyawa yang hilang, peristiwa ini menjadi salah satu kecelakaan udara paling memprihatinkan di Kalimantan Barat tahun 2026. Semua pihak yang terlibat mengungkapkan rasa duka yang mendalam dan berjanji akan terus meningkatkan prosedur keselamatan serta koordinasi dalam operasi SAR di wilayah dengan medan sulit.
Related Posts
Nuggets Tundukkan Timberwolves dengan Penampilan Grimy, Jokic Triple‑Double, Murray Sempurna di Garis Lempar Bebas
Kasasi Nikita Mirzani Ditolak, Kini Menggugat Prabowo: Sorotan Vonis Enam Tahun dan Tanda Kritik Terhadap Hukuman Koruptor
Kejuaraan Coachella 2026: Tems, Wizkid, dan Justin Bieber Guncang Panggung dengan Irama Afrobeats
About The Author
Fairley Kaneesa
Kalau bukan karena terobsesi mengatur kabel di pabrik, Fairley Kaneesa lebih suka menelusuri lorong‑lorong Tangerang dengan kamera, sambil mengumpulkan buku‑buku sejarah yang lebih tua daripada Wi‑Fi di rumahnya. Karier menulisnya mulai meletup pada 2012, saat ia memutuskan bahwa rumus teknik bisa dijadikan bahan satire dalam novel‑novelnya. Sekarang, antara memotret kebisingan jalanan dan mengotak‑atik mesin, ia menulis sambil sesekali mengoreksi fakta sejarah yang ternyata lebih dramatis daripada drama Korea.