Starbucks Gencarkan PHK 300 Karyawan Korporat dan Tutup Kantor Regional: Langkah Besar Transformasi Bisnis
Blog Berita daikin-diid – 18 Mei 2026 | Jakarta, 17 Mei 2026 – Raksasa kopi asal Amerika Serikat, Starbucks, resmi mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 300 karyawan korporat di dalam negeri. Langkah ini sekaligus diiringi penutupan sejumlah kantor dukungan regional di kota-kota utama Amerika Serikat, sebagai bagian dari strategi restrukturisasi besar-besaran yang digulirkan oleh CEO baru, Brian Niccol.
Menurut pernyataan resmi perusahaan, pemutusan hubungan kerja tersebut tidak akan memengaruhi karyawan di gerai atau barista. Fokus PHK kali ini adalah pada fungsi-fungsi pendukung seperti pemasaran, sumber daya manusia, dan manajemen rantai pasokan – area yang biasanya beroperasi jauh dari mesin espresso namun sangat menentukan kecepatan dan efisiensi operasional perusahaan.
Restrukturisasi ini diproyeksikan menelan biaya sekitar US$400 juta (sekitar Rp6,8 triliun dengan kurs Rp17.000 per dolar). Dari total tersebut, US$280 juta (Rp4,76 triliun) akan dicatat sebagai beban non‑tunai terkait penurunan nilai aset jangka panjang, sementara US$120 juta (Rp2,04 triliun) merupakan biaya tunai yang langsung terkait dengan paket pesangon dan tunjangan bagi karyawan yang terdampak.
Langkah PHK ini merupakan gelombang ketiga sejak Niccol mengambil alih kepemimpinan pada tahun 2024. Pada Februari 2025, Starbucks sebelumnya memangkas 1.100 posisi dan menahan ratusan lowongan lainnya. Tujuh bulan kemudian, perusahaan kembali mengurangi sekitar 900 pekerja non‑ritel dalam rangka program restrukturisasi senilai US$1 miliar (sekitar Rp17 triliun). Total pekerja non‑ritel di AS mencapai sekitar 9.000 orang, sementara sekitar 5.000 pegawai internasional menduduki fungsi operasional dukungan regional.
Penutupan kantor regional mencakup lokasi‑lokasi yang dianggap kurang optimal, antara lain kantor di Atlanta, Dallas, Chicago, dan beberapa kota lainnya. Starbucks belum mengeluarkan daftar lengkap, namun menegaskan bahwa staf yang berada di kantor‑kantor tersebut akan diberikan opsi PHK atau relokasi, tergantung pada peran dan kebutuhan bisnis.
Strategi “Back to Starbucks” yang dikemukakan juru bicara perusahaan menekankan perlunya memperkuat momentum bisnis, mengurangi kompleksitas, dan menekan biaya operasional. “Para pemimpin telah meninjau secara mendalam fungsi masing‑masing untuk mempertajam fokus, memprioritaskan pekerjaan, mengurangi kompleksitas, dan menekan biaya,” ujar juru bicara dalam kutipan yang diambil dari CNBC.
Di samping upaya pemotongan biaya, Starbucks juga menggandakan investasi pada peningkatan pengalaman pelanggan di gerai. Perusahaan menargetkan desain ulang sekitar 1.000 gerai di Amerika Serikat pada tahun ini, dengan tujuan menciptakan suasana yang lebih hangat dan nyaman. Upaya tersebut diiringi pula dengan perekrutan barista tambahan untuk meningkatkan kecepatan layanan pada jam sibuk.
Hasil awal dari strategi tersebut tampak positif. Pada kuartal pertama 2026, penjualan di gerai yang telah beroperasi setidaknya satu tahun (same‑store sales) di Amerika Serikat naik 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Brian Niccol menyebut kenaikan ini sebagai “titik balik dalam upaya pemulihan kami” dan menegaskan fokus selanjutnya adalah mempertahankan momentum serta menjadikan hasil tersebut berkelanjutan.
Langkah-langkah restrukturisasi ini tidak lepas dari tekanan eksternal. Starbucks selama beberapa tahun terakhir menghadapi persaingan ketat, baik dari jaringan kopi lokal maupun pemain global lain, serta perubahan perilaku konsumen yang semakin berhati‑hati dalam pengeluaran. Penurunan penjualan di beberapa pasar memperkuat kebutuhan perusahaan untuk menyederhanakan struktur organisasi dan meningkatkan profitabilitas.
Di tingkat internasional, meski tidak ada PHK langsung di luar AS pada fase ini, perusahaan telah memulai review menyeluruh terhadap struktur korporat globalnya. Hal ini menandakan potensi penyesuaian lebih lanjut di masa mendatang, tergantung pada hasil evaluasi dan kondisi pasar di masing‑masing wilayah.
Secara keseluruhan, restrukturisasi yang melibatkan PHK 300 karyawan korporat serta penutupan kantor regional menandai babak baru dalam upaya Starbucks untuk kembali ke jalur pertumbuhan yang berkelanjutan. Dengan menurunkan biaya tetap, menyederhanakan proses pengambilan keputusan, dan tetap berinvestasi pada inovasi produk serta pengalaman pelanggan, perusahaan berharap dapat mengembalikan kepercayaan investor serta memperkuat posisinya di industri kopi global.