Sinner Gagal di Roland Garros: Kram, Odds Minus 50.000, dan Sejarah Mengejutkan
Blog Berita daikin-diid – 29 Mei 2026 | Petenis Italia Jannik Sinner, nomor satu dunia, terpaksa mengakhiri harapan meraih Career Grand Slam pada babak kedua French Open 2026 setelah mengalami kram parah di lapangan Philippe-Chatrier. Lawan pertandingannya, Juan Manuel Cerúndolo asal Argentina yang berada di peringkat 56 dunia, menumpahkan kemenangan dramatis dengan skor 3-6, 2-6, 7-5, 6-1, 6-1.
Awal pertandingan menunjukkan dominasi Sinner yang berhasil mengamankan tiga set pertama dengan selisih yang cukup lebar. Pada set ketiga, Sinner sempat unggul 5-1, namun tiba‑tiba terhenti karena kram otot kuadrisep kanan. Kondisi fisik yang menurun membuatnya kehilangan ritme, bahkan harus meminta istirahat medis pada kedudukan 5-4, 0/40. Cerúndolo memanfaatkan momentum tersebut, merebut 18 dari 20 game terakhir dan mengubah arah pertandingan.
Setelah pertandingan, Sinner mengaku kehabisan tenaga dan merasa pusing. “Energi saya sangat rendah, saya mencoba menyelesaikan pertandingan dengan servis tetapi tidak memiliki banyak energi,” ujar Sinner dalam konferensi pers pascapertandingan. Ia menambahkan, “Saya bangun pagi ini merasa tidak enak badan dan mencoba mempersingkat poin, namun saya seperti kehabisan tenaga.” Cerúndolo, di sisi lain, memuji lawannya sambil menegaskan bahwa ia tidak ingin mengurangi pujian terhadap performa lawan: “Dia pantas memenangkan pertandingan ini, namun saya merasa kasihan padanya dan berharap dia pulih,” kata Cerúndolo.
Kepergian Sinner dari Roland Garros mencetak dua catatan sejarah sekaligus. Pertama, dengan odds pra‑turnamen -300 untuk memenangkan gelar, Sinner menjadi petenis dengan favoritisme tertinggi sejak Rafael Nadal pada 2009 yang memiliki odds -400. Kedua, odds pada pertandingan melawan Cerúndolo tercatat -50.000 di DraftKings, menandakan peluang kemenangan lebih dari 99,8 persen. Keduanya menempatkan kekalahan Sinner sebagai salah satu upset terbesar dalam sejarah satu pertandingan tunggal.
Secara statistik, Sinner memasuki French Open dengan rekor kemenangan beruntun 30 pertandingan, termasuk penyapu bersih kelima gelar ATP Masters 1000 pada musim 2026 (Monte‑Carlo, Madrid, dan Roma). Ia juga mencatatkan catatan 37-3 di seluruh kompetisi musim 2026, dan tetap menempati peringkat nomor satu ATP meski kehilangan 1.250 poin akibat kekalahan dini di Paris. Prestasinya menempatkannya bersama Rafael Nadal sebagai satu‑satunya pemain yang menuntaskan sapu bersih tiga turnamen Masters 1000 pada permukaan tanah liat dalam satu tahun.
Namun, kegagalan ini menutup peluang Sinner untuk menjadi petenis putra ketujuh yang menyelesaikan Career Grand Slam di era Open. Sebelumnya, ia sempat mengincar gelar keempatnya di Grand Slam, setelah memenangkan Australian Open, Wimbledon, dan US Open. Dengan keluarnya Sinner dan absennya Carlos Alcaraz karena cedera, lapangan terbuka lebar bagi pemain lain, termasuk Alexander Zverev dan Novak Djokovic, yang kini berada di posisi taruhan kedua.
Analisis para pakar menilai bahwa faktor cuaca panas di Paris berkontribusi pada penurunan performa fisik Sinner. Pada set keempat, ia mengalami dua kali double fault ketika berusaha memegang servis, dan pada set kelima tidak mampu mempertahankan level servisnya. Meskipun masih menampilkan pukulan forehand yang memukau, keterbatasan gerakannya memberi ruang bagi Cerúndolo untuk mengandalkan drop shot dan variasi permainan.
Kesimpulannya, kegagalan Sinner di Roland Garros menjadi momen penting yang menyoroti betapa krusialnya kebugaran fisik dalam turnamen Grand Slam. Meskipun ia tetap menjadi nomor satu dunia, kekalahan ini memberi pelajaran berharga untuk mempersiapkan diri secara menyeluruh menjelang Wimbledon dan turnamen besar berikutnya. Sementara itu, Cerúndolo mencatatkan prestasi bersejarah sebagai petenis pertama sejak Karol Kucera pada 2000 yang menyingkirkan unggulan top pada babak kedua Grand Slam tanah liat.