Pilot Malaysia Ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta dengan 70 Ribu Ekstasi, Kemenhub Gelar Tes Urine Acak
Blog Berita daikin-diid – 04 Agustus 2026 | Baru-baru ini, seorang pilot Malaysia yang bekerja di Malaysia Airlines ditangkap oleh petugas Bea Cukai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, karena diduga membawa 70.144 butir ekstasi dan sabu. Penangkapan ini dilakukan setelah petugas Bea Cukai melakukan pemeriksaan terhadap barang bawaan pilot tersebut.
Pilot yang ditangkap tersebut bernama Mohd Saufi bin Othman, dan diduga telah membawa ekstasi dan sabu tersebut dari Malaysia. Penyelidikan lanjutan mengungkap bahwa pilot tersebut telah menerima pasokan narkoba dari sebuah apartemen di kawasan Ampang, Malaysia, dua hari sebelum penerbangannya.
Kasus ini telah memicu kekhawatiran tentang keamanan di bandara, terutama di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), dari mana pilot tersebut berangkat. Otoritas Malaysia telah memulai penyelidikan untuk mengetahui bagaimana pilot tersebut bisa lolos dari pemeriksaan keamanan di KLIA.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Indonesia telah mengambil langkah untuk memastikan keselamatan penerbangan dengan melakukan tes urine acak terhadap kru pesawat. Tes ini dilakukan untuk memastikan bahwa kru pesawat bebas dari penyalahgunaan narkotika.
Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, mengatakan bahwa tes urine acak ini dilakukan untuk memastikan keselamatan penerbangan. Ia menegaskan bahwa keselamatan penerbangan tidak hanya bergantung pada kelaikan infrastruktur, tetapi juga pada kondisi awak pesawat yang bertugas.
Pemeriksaan tes urine acak ini akan dilakukan terhadap 134 personel penerbangan dari beberapa maskapai nasional dan internasional. Kemenhub berharap bahwa langkah ini dapat membantu memastikan keselamatan penerbangan dan mencegah kasus-kasus penyalahgunaan narkotika di kalangan awak pesawat.
Dalam beberapa hari terakhir, Bandara Soekarno-Hatta juga telah menempati peringkat kedua sebagai bandara tersibuk di Asia Tenggara, mengungguli Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA). Hal ini menunjukkan bahwa bandara tersebut telah menjadi salah satu pusat kegiatan penerbangan yang sibuk di kawasan Asia Tenggara.
Kesimpulan dari kasus ini adalah bahwa keamanan di bandara harus selalu dijaga dan ditingkatkan untuk mencegah kasus-kasus penyalahgunaan narkotika dan penyelundupan. Kemenhub dan otoritas bandara harus terus bekerja sama untuk memastikan keselamatan penerbangan dan mencegah kasus-kasus tersebut.