Nico Paz: Dari Bangku Cadangan di Piala Dunia hingga Penjualan Rekor ke Como
Blog Berita daikin-diid – 13 Juli 2026 | Bek tengah asal Argentina, Nico Paz, kembali menjadi sorotan publik setelah perannya yang unik di Piala Dunia FIFA 2026 dan proses transfernya yang mencuri perhatian dunia sepak bola. Meskipun belum menjejakkan kaki di lapangan selama turnamen, tekanan mental yang ia rasakan di bangku cadangan menjadi bukti betapa kompetitifnya level tertinggi sepak bola internasional.
Pada pertandingan perempat final antara Argentina dan Swiss, tim La Albiceleste berhasil mengalahkan lawan dengan skor 3-1 setelah perpanjangan waktu. Sementara rekan-rekannya berjuang keras di lapangan, Paz menghabiskan seluruh 120 menit dari bangku cadangan. Namun, ia tidak diam. Menggunakan aplikasi pemantau stres yang terpasang pada pakaian berteknologi sensor, ia membagikan data tekanan emosionalnya melalui Instagram Stories. Skala aplikasi berkisar dari 0 hingga 3,0, dan pada laga tersebut, Paz mencatat nilai 2,7, yang dikategorikan sebagai “tinggi”. Angka ini mencerminkan betapa beratnya menunggu giliran bermain sambil menyaksikan timnya berjuang demi kemenangan.
Data tersebut dihasilkan dari sensor yang mengukur denyut jantung dan ketegangan otot, kemudian mengirimkan hasilnya secara real time ke aplikasi. FIFA telah memberi persetujuan penggunaan teknologi ini dalam turnamen, menjadikannya debut penggunaan pemantauan fisiologis pemain di level internasional. Meskipun Paz tidak menambah menit bermain, ia tetap berkontribusi secara psikologis, menyalakan semangat rekan setim dengan ungkapan “Vamo Argentina!” pada unggahan tersebut.
Penampilan pasif di lapangan tidak berarti Paz kehilangan nilai di pasar transfer. Pada Juli 2026, Real Madrid mengumumkan penjualan pemain muda asal Argentina tersebut ke klub Italia, Como, dengan nilai transfer mencapai 51 juta poundsterling. Transaksi ini menjadi bagian terbesar dalam total pemasukan klub Spanyol dari penjualan pemain yang kurang dikenal, yang secara keseluruhan berjumlah 92 juta poundsterling atau sekitar Rp 2,3 triliun. Nilai penjualan tersebut menempatkan Nico Paz sebagai penjualan termahal kedua dari akademi Real Madrid, hanya tertinggal dari Alvaro Morata.
Kesepakatan ini tidak hanya memberikan suntikan dana bagi Real Madrid untuk memperkuat skuadnya, tetapi juga mencakup opsi pembelian kembali senilai 68 juta poundsterling pada musim berikutnya. Strategi ini mencerminkan pendekatan klub dalam mengelola aset pemain muda, memastikan fleksibilitas keuangan sambil tetap mempertahankan kontrol atas potensi perkembangan pemain.
Keputusan Real Madrid untuk melepaskan Paz ke Como didukung oleh performa dan potensi yang masih dipertimbangkan. Selama masa pinjaman di klub Italia tersebut, Paz menunjukkan progres yang memuaskan, menarik minat klub lain. Namun, klub asalnya tetap menaruh harapan agar pemain muda tersebut kembali lebih matang, siap bersaing di level tertinggi.
Di sisi lain, kegagalan Paz untuk menembus lapangan pada Piala Dunia menimbulkan pertanyaan mengenai manajemen skuad Argentina. Bersama dengan Giuliano Simeone dan Valentín Barco, Paz menjadi satu-satunya pemain lapangan Argentina yang belum mencatatkan menit bermain hingga semifinal melawan Inggris. Pelatih tim nasional, Lionel Scaloni, tampaknya masih menilai kesiapan taktik dan fisik pemain muda tersebut, yang berpotensi kembali ke bangku cadangan di laga selanjutnya.
Pengalaman menunggu di bangku cadangan, ditambah dengan pemantauan stres secara digital, memberikan pandangan baru tentang tekanan mental yang dialami pemain di turnamen elit. Hal ini membuka diskusi luas di kalangan psikolog olahraga mengenai pentingnya dukungan mental bagi pemain yang tidak selalu mendapatkan waktu bermain, namun tetap menjadi bagian integral dari tim.
Secara keseluruhan, perjalanan Nico Paz dalam beberapa bulan terakhir mencerminkan dinamika modern sepak bola: teknologi canggih, tekanan psikologis, serta nilai komersial yang signifikan. Dari menahan stres di bangku cadangan Piala Dunia hingga menjadi aset finansial utama dalam strategi transfer Real Madrid, Paz menunjukkan bahwa peran pemain tidak selalu diukur dari menit di lapangan, melainkan dari kontribusi mereka pada berbagai dimensi tim.
Ke depan, para pengamat akan terus memantau perkembangan karier Paz, baik di Como maupun potensi kembalinya ke Real Madrid atau bahkan panggilan kembali ke tim nasional Argentina. Bagaimana ia mengelola tekanan mental dan memanfaatkan peluang di klub baru akan menjadi faktor penentu dalam menapaki puncak kariernya.