Menggali Suara Perempuan: Kunci Baru dalam Liputan Lingkungan dan Pelestarian Hutan
Blog Berita daikin-diid – 13 April 2026 | Di tengah krisis degradasi hutan yang semakin mengkhawatirkan, perspektif perempuan muncul sebagai faktor penting dalam membentuk narasi lingkungan yang lebih holistik. Seperti yang sering diulang oleh aktivis lingkungan, “Hutan adalah mama, hutan rusak maka manusia juga rusak”. Pandangan ini bukan sekadar slogan, melainkan refleksi pengalaman hidup perempuan yang sekaligus menjadi pelaku ekonomi dan penjaga ekosistem.
Di Desa Pasirsalam, Kecamatan Mangunreja, seorang ibu bernama Ai Rahmawati (39) mencontohkan bagaimana peran perempuan dapat menghubungkan kesejahteraan keluarga dengan kelestarian alam. Dengan bekerja di rumah pengemasan (packing house) milik Java Fresh, ia berhasil menyekolahkan anak perempuannya hingga perguruan tinggi, sebuah prestasi yang masih langka di daerah dengan akses pendidikan terbatas. Penghasilan tambahan dari pekerjaan ini tidak hanya meningkatkan taraf hidup keluarga, tetapi juga mengurangi tekanan untuk membuka lahan baru bagi pertanian subsisten yang seringkali mengorbankan hutan.
Java Fresh, perusahaan eksportir buah tropis, mempekerjakan sekitar 210 perempuan di enam packing house, mayoritas berusia di atas 40 tahun. Program pemberdayaan yang mereka jalankan meliputi layanan kesehatan, edukasi finansial, dan pelatihan teknis seperti sorting, grading, serta penanganan buah sesuai standar ekspor. Berikut beberapa inisiatif utama yang telah diterapkan:
- Layanan Kesehatan: Pemeriksaan rutin dan penyediaan makanan bergizi untuk menjaga produktivitas pekerja.
- Edukasi Finansial: Workshop pengelolaan keuangan pribadi dan tabungan untuk masa depan.
- Pelatihan Teknis: Kursus tentang teknik pemilahan buah, standar kualitas, serta penggunaan teknologi pengawetan.
Margareta Astaman, Co‑Founder & CEO Java Fresh, menekankan bahwa pendekatan pemberdayaan menyeluruh tidak hanya memengaruhi individu pekerja, tetapi juga menular ke keluarga dan komunitas mereka. Dengan pendapatan stabil, perempuan seperti Eti Suharti (56) tidak lagi terpaksa menjual hasil panen secara informal atau membuka usaha kecil yang tidak ramah lingkungan. Eti kini dapat fokus pada pekerjaan membersihkan semut dan kotoran dari buah manggis, serta memberikan kontribusi pada rantai pasok yang lebih bersih.
Penguatan riset dan pengembangan (R&D) menjadi langkah lanjutan yang menegaskan hubungan antara perempuan, lingkungan, dan inovasi. Kepala R&D Java Fresh, Hilda Sucipto, menjelaskan bahwa teknologi perpanjangan masa simpan buah hingga 35 hari mengurangi limbah pascapanen dan menurunkan tekanan pada hutan untuk membuka lahan pertanian baru. Dengan mengoptimalkan rantai pasok, perusahaan dapat memperluas pasokan manggis tidak hanya dari Jawa dan Sumatera, tetapi juga dari Kalimantan dan Sulawesi, selama kualitas tanah dan risiko pestisida terjaga.
Pengalaman perempuan di sektor pertanian dan pengolahan makanan memperkaya cara jurnalis melaporkan isu lingkungan. Mereka tidak hanya menyuarakan kerusakan hutan, tetapi juga menyoroti solusi praktis yang muncul dari lapangan, seperti program pelatihan keterampilan dan inovasi teknologi pengawetan. Dengan menempatkan perempuan sebagai narasumber utama, laporan lingkungan menjadi lebih berimbang, menampilkan dampak sosial‑ekonomi yang sering terlewatkan dalam liputan tradisional.
Berbagai organisasi media kini mulai mengintegrasikan sudut pandang gender dalam editorial mereka. Hal ini terbukti meningkatkan pemahaman publik tentang bagaimana kebijakan kehutanan memengaruhi perempuan petani, pekerja pengolahan, dan komunitas adat yang bergantung pada hutan untuk mata pencaharian. Ketika perempuan diberikan ruang untuk berbicara, narasi tentang hutan berubah dari sekadar statistik penebangan menjadi cerita tentang kehidupan, budaya, dan harapan.
Kesimpulannya, mengangkat suara perempuan dalam liputan lingkungan tidak hanya memperkaya konten jurnalistik, tetapi juga memperkuat upaya konservasi. Dengan mengaitkan kesejahteraan ekonomi, inovasi teknologi, dan perlindungan hutan, perspektif perempuan menjadi kunci strategis untuk mengatasi krisis lingkungan yang semakin kompleks.