Leandro Paredes Siap Genggam Impian Final Piala Dunia 2026 di Tengah Kontroversi dan Tekanan Politik
Blog Berita daikin-diid – 17 Juli 2026 | Setelah mengalahkan Inggris dengan skor 2-1 pada laga semifinal yang digelar di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta pada 16 Juli 2026, gelandang timnas Argentina Leandro Paredes menyatakan tekadnya untuk memberikan penampilan terbaik di final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol. Paredes, yang kini berusia 32 tahun dan bermain untuk Boca Juniors, mengaku merasakan emosi yang luar biasa setelah mengatasi lawan bersejarah tersebut.
“Emosinya sangat kuat, perasaan ini unik, ada satu langkah lagi dan kami akan melakukan yang terbaik,” ujar Paredes dalam konferensi pers pasca‑pertandingan. Ia menambahkan bahwa kemenangan atas Inggris tidak hanya berarti kemenangan di lapangan, melainkan juga kebahagiaan bagi seluruh rakyat Argentina yang menantikan momen bersejarah.
Penampilan Paredes dalam semifinal menonjol secara statistik. Menurut data yang dikumpulkan oleh platform analitik sepak bola, ia mencatat empat tekel bersih dan satu intersepsi penting yang membantu menstabilkan lini tengah Argentina pada saat tekanan Inggris memuncak. Aksi-aksi defensif tersebut dianggap sebagai salah satu faktor kunci yang menahan serangan lawan dan memberi ruang bagi Lionel Messi serta rekan-rekannya untuk menciptakan peluang.
Namun, keberhasilan di lapangan tidak lepas dari sorotan di luar arena. Setelah pertandingan, tim Argentina menampilkan spanduk berisi slogan “Las Malvinas son Argentinas” yang memicu protes dari politisi Inggris. Menteri Bisnis Inggris, Peter Kyle, menyatakan bahwa politik tidak seharusnya masuk ke dalam kompetisi sepak bola dan menyerukan FIFA untuk menindaklanjuti insiden tersebut. Permintaan serupa datang dari Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang menegaskan kembali posisi Inggris atas Kepulauan Falkland (Malvinas).
Insiden politik tersebut menambah beban bagi Paredes dan rekan satu timnya menjelang final. Sementara FIFA belum mengeluarkan keputusan resmi, tekanan dari pihak berwenang Inggris menuntut peninjauan atas pelanggaran kode etik kompetisi.
Di sisi lain, Paredes juga menjadi subjek kritik keras dari tokoh-tokoh sepak bola internasional. Mantan legenda Italia Marco Tardelli dan legenda Brasil Paulo Roberto Falcão menilai aksi Paredes pada menit awal semifinal sebagai tindakan kasar yang seharusnya dikenai kartu merah. Tardelli menyoroti bahwa Paredes menyikut kepala pemain Inggris, Elliot Anderson, tanpa alasan yang jelas, sementara Falcão menyebut tindakan tersebut sebagai serangan yang layak mendapat sanksi tegas.
Kontroversi lain muncul setelah rekaman half‑time yang ditayangkan BBC memperlihatkan Harry Kane menutup mulutnya saat berbicara dengan wasit Ismail Elfath. Paredes diduga berusaha mempengaruhi keputusan wasit dengan menuduh Kane melakukan pelanggaran perilaku. Reaksi dari kalangan Inggris pun tidak kalah keras; mantan kapten Manchester United, Wayne Rooney, menyebut Paredes “pathetic” dan menilai taktiknya sebagai upaya tidak sportif. Joe Hart, kiper Inggris, menambahkan bahwa komunikasi antara pemain dan wasit memang penting, namun menegaskan bahwa tindakan menutup mulut pemain lawan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengajukan kartu merah.
Walaupun demikian, Paredes tetap menegaskan bahwa fokusnya adalah pada pertandingan final. Ia mengakui bahwa tekanan politik dan kritik internasional menambah beban mental, namun ia percaya pada kemampuan tim untuk mengatasi segala rintangan. “Saya bermimpi bermain di final Piala Dunia. Memiliki kesempatan kedua untuk melakukannya terasa tidak nyata, namun kami bertekad memberikan kebahagiaan bagi Argentina,” pungkasnya.
Dengan latar belakang kontroversi politik, kritik keras dari legenda sepak bola, serta sorotan media internasional, Paredes berada di persimpangan antara tanggung jawab olahraga dan simbol nasional. Bagaimana ia dan tim Argentina mengelola tekanan ini akan menjadi bagian penting dari narasi final Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung pada 22 Juli di stadion yang sama.
Jika Argentina mampu menyalurkan emosi positif dan mengatasi tantangan eksternal, peluang mereka untuk mengangkat trofi kembali ke tanah Argentina akan semakin besar. Namun, segala keputusan FIFA terkait spanduk politik serta potensi sanksi disiplin bagi pemain yang terlibat dalam insiden on‑field dapat mempengaruhi susunan tim dan strategi yang diterapkan pada pertandingan penentu.
Seiring hari final semakin dekat, mata dunia terus menatap Leandro Paredes, bukan hanya sebagai gelandang kreatif, tetapi juga sebagai figur yang mewakili harapan, kontroversi, dan semangat kompetisi dalam turnamen terbesar sepak bola.