Kontroversi dan Antusiasme TKA SD 2026: Dari Simulasi Pusmendik hingga Partisipasi Tinggi di Purwakarta
Blog Berita daikin-diid – 24 April 2026 | Ujian Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang Sekolah Dasar tahun ajaran 2025/2026 kembali menjadi sorotan publik setelah pelaksanaannya yang melibatkan lebih dari 16.000 siswa di Kabupaten Purwakarta. Di satu sisi, banyak orang tua dan pendidik mengkritisi ketidaksetaraan bobot soal antar‑siswa, sementara di sisi lain, Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) menyediakan simulasi daring yang dianggap membantu siswa mempersiapkan diri secara optimal. Kombinasi antara kontroversi, upaya peningkatan kualitas, dan angka partisipasi yang tinggi membentuk gambaran menyeluruh tentang dinamika TKA SD 2026.
Menurut laporan Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, sebanyak 16.807 siswa berhasil mengikuti TKA utama setelah proses verifikasi. Dari total peserta terverifikasi, terdapat 8.620 laki‑laki dan 8.187 perempuan, menunjukkan keseimbangan gender yang relatif baik. Ujian dilaksanakan secara bertahap dalam empat gelombang, melibatkan 418 sekolah (378 negeri dan 41 swasta). Mayoritas sekolah, tepatnya 387 sekolah, melaksanakan TKA hanya dalam satu gelombang, menandakan efisiensi logistik yang cukup baik.
Namun, tidak semua pihak sepakat bahwa pelaksanaan TKA sudah adil. Sebuah keluhan muncul dari kalangan orang tua yang menilai bobot soal antar‑siswa tidak setara. Mereka menyoroti perbedaan tingkat kesulitan soal yang diberikan kepada kelas yang berbeda atau bahkan antar‑sekolah dalam satu gelombang, yang dapat memengaruhi hasil akhir siswa secara signifikan. Keluhan tersebut menambah tekanan pada penyelenggara untuk memastikan standar penilaian yang konsisten dan transparan.
Menanggapi keresahan tersebut, Pusmendik meluncurkan Simulasi TKA yang dapat diakses secara gratis melalui portal resmi mereka. Simulasi ini mencakup soal‑soal dari mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia, lengkap dengan kisi‑kisi yang memuat kompetensi dasar yang diuji. Pada halaman simulasi, pengguna dapat mengunduh contoh soal dalam format PDF, mengerjakan secara daring, maupun mencetak untuk latihan offline. Fitur “Ayo Coba TKA” dirancang agar siswa dapat terbiasa dengan format soal, pola penilaian, serta batas waktu pengerjaan.
Kisi‑kisi TKA Matematika menekankan kemampuan memahami fakta, konsep, prinsip, serta prosedur matematika, termasuk penerapan dalam problem solving. Sub‑elemen yang diuji meliputi bilangan, geometri (bangun datar dan ruang), serta data. Sementara itu, Bahasa Indonesia menitikberatkan pada keterampilan membaca teks informasi dan fiksi, menemukan gagasan utama, informasi penting, serta makna tersirat. Kedua mata pelajaran ini menjadi fokus utama dalam persiapan siswa menjelang ujian yang berlangsung antara 20 hingga 30 April 2026.
Berbagai sumber belajar tambahan, seperti bank soal KOMPAS.com, turut melengkapi persiapan. Contohnya, bank soal berisi 50 soal TKA Bahasa Indonesia kelas 6 lengkap dengan pembahasan, serta 35 soal tambahan yang menekankan pemahaman makna tersirat, analisis teks, dan nilai moral. Soal‑soal tersebut tidak hanya membantu siswa mengasah kemampuan akademik, tetapi juga melatih logika, ketelitian, serta kemampuan mengekspresikan pemahaman secara tertulis.
Berikut ini rangkuman data partisipasi TKA di Purwakarta yang diolah dalam bentuk tabel:
| Parameter | Jumlah |
|---|---|
| Total siswa terdaftar | 16.888 |
| Siswa terverifikasi mengikuti TKA utama | 16.807 |
| Laki‑laki | 8.620 |
| Perempuan | 8.187 |
| Sekolah negeri | 378 |
| Sekolah swasta | 41 |
| Gelombang pertama | 119 sekolah |
| Gelombang kedua | 182 sekolah |
| Gelombang ketiga | 113 sekolah |
| Gelombang keempat | 38 sekolah |
Data tersebut menggambarkan skala nasionalisasi ujian serta komitmen daerah dalam mendukung pelaksanaan TKA. Selain itu, Dinas Pendidikan Purwakarta menyiapkan 432 ruang ujian untuk mengakomodasi kebutuhan teknis, termasuk pengaturan sesi ganda, tiga kali, hingga empat kali di beberapa sekolah.
Di tengah dinamika ini, para pendidik menekankan pentingnya latihan rutin. Simulasi daring yang disediakan Pusmendik, bersama dengan bank soal berlisensi, diharapkan dapat menyeimbangkan perbedaan tingkat kesulitan yang dirasakan orang tua. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang pola soal dan strategi pengerjaan, siswa dapat meningkatkan kepercayaan diri menjelang ujian sesungguhnya.
Kesimpulannya, TKA SD 2026 menjadi contoh nyata bagaimana sistem evaluasi pendidikan berusaha menyeimbangkan antara tantangan logistik, keadilan penilaian, dan dukungan pembelajaran. Meskipun masih ada keluhan mengenai kesetaraan bobot soal, langkah-langkah seperti simulasi daring, penyediaan materi lengkap, dan transparansi data partisipasi menunjukkan komitmen kuat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar di Indonesia.