Kapten Gowa Disandera Perompak Somalia, Keluarga dan Pemerintah Bergerak Cepat
Blog Berita daikin-diid – 29 April 2026 | Genap seminggu sejak 21 April 2026, empat warga Indonesia menjadi sandera perompak di perairan lepas pantai Somalia. Kapten Ashari Samadikun, 33 tahun, asal Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Gowa, memimpin kapal tanker MT Honour 25 yang tengah berlayar dari Oman menuju wilayah Somalia ketika diserang.
Menurut keterangan istri Ashari, Santi Sanaya, pada Selasa malam (21/04) sekitar pukul 19.30 WITA, ia menerima pesan suara melalui WhatsApp yang menyatakan kapal sedang diserang. Santi segera menghubungi suaminya, namun setelah beberapa menit komunikasi terputus dan ponsel para kru disita oleh perompak.
Pada Jumat (24/04), perompak memberi kesempatan kepada Ashari untuk menggunakan telepon kapal guna menghubungi perusahaan dan keluarga. Dalam percakapan singkat, Ashari menceritakan kondisi mengerikan di dalam kapal, termasuk beberapa kali ancaman senjata. Ia mencoba menenangkan para perompak dengan menegaskan identitasnya sebagai seorang Muslim, yang kemudian direspons oleh para perompak dengan menyatakan kesamaan agama.
Kapal tanker MT Honour 25 mengangkut muatan minyak, berlayar dengan 17 pelaut, termasuk empat WNI: Ashari Samadikun (kapten), Adi Faizal (2nd Officer, Bulukumba), Wahudinanto (Chief Officer, Pemalang), dan Fiki Mutakin (Bogor). Sisanya terdiri dari 11 warga Pakistan, satu Sri Lanka, dan satu India. Selama penyanderaan, kru dilaporkan masih dalam kondisi sehat, menerima makanan, dan diperbolehkan beribadah.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov Sulsel) langsung menanggapi insiden ini. Gubernur Andi Sudirman Sulaiman mengkoordinasikan upaya dengan pemerintah pusat, Kementerian Luar Negeri, serta Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI). Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Sulsel, Jayadi Nas, mengunjungi rumah keluarga Ashari untuk memberikan dukungan moral dan memastikan komunikasi antara keluarga dengan Wakil Menteri P2MI.
Negosiasi uang tebusan sedang berlangsung. Keluarga Ashari telah dihubungkan dengan pihak berwenang untuk memantau perkembangan dan memastikan hak-hak mereka terpenuhi. Santi menyatakan bahwa suaminya dan kru masih diperlakukan baik, meski situasi dapat berubah bila perompak merasa terancam.
Kasus ini menambah catatan panjang perompakan di perairan Somalia, wilayah yang kembali menjadi sorotan internasional setelah meredam aksi-aksi serupa beberapa tahun terakhir. Beberapa analis menilai peningkatan aktivitas perompak terkait dinamika geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran, yang mengalihkan perhatian dunia dari Samudra Hindia.
Sejak insiden, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus melakukan koordinasi intensif dengan otoritas Somalia dan negara‑negara yang memiliki kepentingan di kawasan tersebut. Upaya diplomatik ini mencakup penyusunan jalur aman, peningkatan patroli keamanan, serta kerja sama dengan organisasi internasional untuk menekan jaringan perompak.
Para peneliti hubungan internasional menyarankan pendekatan berbasis nilai Islam untuk memfasilitasi dialog dengan perompak, mengingat para pelaku mengaku beragama Muslim. Pendekatan semacam ini diharapkan dapat mempercepat proses pembebasan sandera tanpa mengorbankan keamanan kru.
Meski situasi masih menegangkan, optimisme tetap tinggi. Keluarga Ashari, bersama pemerintah provinsi dan pusat, berharap agar proses mediasi berujung pada pembebasan seluruh kru dalam kondisi selamat. Keselamatan WNI di perairan internasional tetap menjadi prioritas utama, menuntut sinergi antara kebijakan luar negeri, keamanan maritim, dan perlindungan tenaga kerja migran.
Dengan dukungan lintas lembaga dan kesabaran keluarga, diharapkan peristiwa ini dapat menjadi titik balik dalam penanggulangan perompakan di Samudra Hindia, sekaligus menegaskan komitmen Indonesia dalam melindungi warga negaranya di luar negeri.