Dugaan Rasisme di EPA Bikin Gerah: Erick Thohir Desak Klub & Operator Liga Bertindak Tegas
Blog Berita daikin-diid – 23 April 2026 | Insiden rasisme yang mencoreng kompetisi Elite Pro Academy (EPA) U-20 kembali memanas setelah Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri BUMN, Erick Thohir, mengeluarkan pernyataan tegas pada Rabu, 22 April 2026. Ia menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi tindakan diskriminatif dalam sepak bola Indonesia, baik pada level pembinaan maupun profesional. Menurut Thohir, setiap ucapan, ekspresi, maupun tindakan yang mengandung unsur rasis harus ditindak secara serius oleh semua pihak yang terlibat.
Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Thohir menyoroti pentingnya pembinaan karakter bersamaan dengan pengembangan teknik. “Prestasi tidak cukup hanya dengan skill. Prestasi harus ditopang karakter dan watak yang baik,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa prinsip fair play, anti‑rasisme, toleransi, disiplin, serta penghormatan kepada wasit harus menjadi landasan sejak usia muda. “FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepak bola, baik di kancah internasional maupun nasional,” tegas dia.
Thohir juga menargetkan peran operator kompetisi, khususnya I‑League, yang mengelola EPA, Liga 1, dan Liga 2. Ia meminta agar I‑League terus menegakkan nilai empati dan saling menghargai antar pemain serta meningkatkan pengawasan pertandingan. “Pengawasan jalannya pertandingan harus diperketat agar kompetisi usia muda menjadi ruang belajar yang aman dan mendidik,” tambahnya. Selain itu, Thohir menekankan pentingnya sosialisasi anti‑rasisme, anti‑kekerasan, serta kepatuhan terhadap aturan pertandingan di semua level kompetisi.
Kasus yang menjadi pemicu pernyataan ini melibatkan pemain Bhayangkara FC U‑20, Fadly Alberto, yang melakukan tendangan keras menyerupai kung fu kepada pemain Dewa United U‑20, Rakha Nurkholis, pada laga di Stadion Citarum, Semarang, 19 April 2026. Insiden tersebut memicu protes dan menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan serta sportivitas di EPA. Fadly kemudian mengirimkan permohonan maaf melalui akun Instagram pribadi dan menyatakan kesediaannya menerima sanksi dari PSSI.
Menanggapi hal tersebut, kedua klub, Bhayangkara FC dan Dewa United, mengambil langkah damai dengan mengadakan mediasi yang dipimpin oleh Direktur Akademi masing‑masing klub serta pihak PSSI. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk menyelesaikan perselisihan secara kekeluargaan, sekaligus menegaskan pentingnya persatuan dan kesatuan sesuai ajaran Pancasila. Thohir memuji inisiatif tersebut, menyebutnya sebagai contoh positif yang harus diikuti oleh semua klub.
- Penegakan sanksi tegas bagi pelaku rasisme dan kekerasan di lapangan.
- Peningkatan program edukasi anti‑rasisme di seluruh akademi klub.
- Pengawasan ketat oleh I‑League dan ofisial pertandingan.
- Penguatan nilai karakter, toleransi, dan disiplin sejak usia dini.
Selain menekankan tindakan disipliner, Thohir menekankan bahwa kompetisi usia muda tidak boleh berfokus semata pada hasil pertandingan. Ia menekankan bahwa pembinaan karakter, pengendalian emosi, serta penghormatan terhadap lawan dan wasit harus menjadi fondasi utama dalam proses pengembangan pemain muda. “Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni,” ujarnya kembali.
Dengan tekanan publik dan sorotan media, PSSI bersama I‑League diharapkan dapat merumuskan regulasi yang lebih ketat, termasuk prosedur pelaporan insiden rasisme, mekanisme sanksi yang transparan, serta program pelatihan bagi pelatih dan ofisial. Thohir menutup pernyataannya dengan harapan bahwa seluruh pemangku kepentingan dapat berkolaborasi menciptakan atmosfer kompetisi yang sehat, edukatif, dan bebas dari diskriminasi.