Drama di Levi’s Stadium: Gol Penyelamat Folarin Balogun Berujung Kartu Merah Kontroversial
Blog Berita daikin-diid – 02 Juli 2026 | Levi’s Stadium di Santa Clara, California, menjadi saksi momen dramatis pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 antara Amerika Serikat dan Bosnia-Herzegovina. Penyerang muda berusia 20 tahun, Folarin Balogun, mencetak gol penting yang membuka jalan kemenangan 2-0 untuk tim tuan rumah, namun aksi berbahaya di babak kedua membuatnya harus keluar lapangan setelah menerima kartu merah setelah tinjauan VAR.
Gol pertama Balogun sempat dianulir karena offside pada menit ke-31. Namun, pada menit ke-45, umpan Malik Tillman yang melenceng terbantu oleh sapuan Stjepan Radeljic dari Bosnia, memantul tepat di depan kaki kiri Balogun. Ia mengeksekusi tembakan keras yang melewati kiper Nikola Vasilj dan menancap di tiang jauh, mencetak gol ketiganya di turnamen dan menambah catatan 12 gol internasionalnya. Perayaan Balogun mengusung gerakan “The Silencer” yang terinspirasi oleh bintang NBA LeBron James, menggema di antara sorakan penonton yang mayoritas mendukung tim Amerika.
Setelah gol tersebut, Amerika Serikat menguasai tempo pertandingan dan menambah tekanan pada pertahanan Bosnia. Pada menit ke-82, Malik Tillman menutup skor lewat tendangan bebas yang menembus gawang, memastikan kemenangan 2-0 dan meloloskan tim ke babak 16 besar melawan Belgia, yang baru saja menyingkirkan Senegal.
Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Pada awal babak kedua, Balogun terlibat duel sengit dengan bek Bosnia, Tarik Muharemovic. Dalam upaya merebut bola, kaki Balogun menapak pergelangan kaki kanan Muharemovic. Wasit asal Brasil, Raphael Claus, pada awalnya tidak mengeluarkan kartu, namun setelah meninjau kembali rekaman video melalui VAR, ia memutuskan memberikan kartu merah karena dianggap pelanggaran serius.
Keputusan tersebut menempatkan Amerika Serikat pada situasi 10 pemain selama sisa pertandingan. Meskipun begitu, tim tetap mampu mempertahankan keunggulan dan menutup skor. Pelatih timnas Amerika, Mauricio Pochettino, menegaskan bahwa tindakan Balogun tidak disengaja. “Tidak ada niat untuk melukai lawan, itu hanya aksi normal dalam perebutan bola,” kata Pochettino dalam konferensi pers pasca pertandingan. Ia menambahkan bahwa pihak tim akan memberikan dukungan penuh kepada Balogun yang kini harus menjalani sanksi satu pertandingan otomatis.
Reaksi rekan satu tim pun menggambarkan solidaritas. Kapten pertahanan Tim Ream menyatakan, “Kami semua mendukungnya, satu orang turun, yang lain harus bangkit.” Christian Pulisic menilai keputusan tersebut terlalu keras, menyebutnya “absurd” mengingat dampak yang ditimbulkan pada peluang tim di babak selanjutnya.
Secara historis, Balogun menjadi pemain ketiga yang mencetak gol sekaligus mendapatkan kartu merah dalam pertandingan knockout Piala Dunia, setelah Ronaldinho (2002) dan Zinedine Zidane (2006). Jika sanksi tidak dapat diundur, ia akan absen pada laga melawan Belgia—pertandingan krusial yang dapat menentukan kelanjutan perjalanan Amerika di turnamen.
Proses banding terhadap keputusan kartu merah memang memungkinkan melalui Court of Arbitration for Sport, namun keberhasilan banding sangat jarang. Contoh terakhir yang berhasil adalah kasus Bruno Fernandes pada 2024. Pochettino mengaku telah mengecek opsi tersebut, namun diberitahu bahwa banding tidak dapat diajukan untuk sanksi satu pertandingan.
Kepergian Balogun dari lapangan meninggalkan pertanyaan besar bagi strategi tim. Dengan pemain inti yang kehilangan satu penyerang berbakat, beban akan beralih ke pemain seperti Tim Ream, Pulisic, dan Tillman untuk menjaga momentum. Sementara itu, Belgia menyiapkan formasi agresif yang dapat mengeksploitasi kekurangan jumlah pemain Amerika pada pertandingan berikutnya.
Kesimpulannya, aksi Balogun pada malam itu menggambarkan dua sisi sepak bola modern: kegembiraan lewat gol spektakuler dan ketegangan akibat keputusan teknologi VAR. Meskipun tim berhasil melaju ke 16 besar, absennya Balogun pada pertandingan selanjutnya menambah beban mental dan taktis bagi tim yang dipimpin Pochettino. Pertandingan melawan Belgia kini menjadi ujian sejati apakah Amerika Serikat dapat tetap bersaing tanpa kontribusi penyerang muda yang baru saja menjadi pahlawan sekaligus pesakitan.