Dieng Bekukan Suhu Minus 6°C: Fenomena Embun Upas Mengguncang Wisata dan Pertanian
Blog Berita daikin-diid – 11 Juli 2026 | Kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, kembali menjadi sorotan nasional setelah suhu udara turun drastis hingga minus enam derajat Celsius pada dini hari 9-10 Juli 2026. Penurunan temperatur ekstrem ini memunculkan lapisan es kristal yang melapisi tanaman, jalan, dan kendaraan, fenomena lokal yang dikenal sebagai “embun upas“.
BMKG menjelaskan bahwa penurunan suhu tersebut dipicu oleh aktifnya Monsun Australia. Massa udara kering dari Australia mengalir ke Indonesia, menurunkan tekanan di wilayah Asia dan meninggalkan langit hampir bebas awan. Kondisi ini memungkinkan radiasi matahari terik di siang hari sekaligus pelepasan panas yang cepat pada malam hari, sehingga suhu permukaan jatuh di bawah titik beku. Pada malam pekan itu, embun yang menempel pada dedaunan dan tanah langsung membeku menjadi kristal es yang menutupi hamparan hijau menjadi putih bersalju.
Fenomena ini tidak hanya menarik ribuan wisatawan yang ingin mengabadikan “salju Jawa” di media sosial, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan. Pihak pengelola wisata Dieng mengeluarkan pedoman kesiapan fisik yang mencakup sistem pakaian berlapis: lapisan dasar termal, lapisan insulasi fleece atau wol, dan lapisan luar windbreaker atau down jacket. Selain itu, sarung tangan, kaus kaki wol ganda, kupluk menutupi telinga, serta masker kain wajib dipakai untuk melindungi ekstremitas dan saluran pernapasan. Termos berisi minuman hangat seperti jahe atau teh manis disarankan untuk menjaga suhu inti tubuh.
Berbagai rekomendasi tempat wisata disiapkan khusus untuk kondisi beku. Pengunjung dapat menjelajahi area Lapangan Pandawa, Kompleks Candi Arjuna, dan Gasiran Aswatama, yang kini dihiasi kristal es pada batu-batu candi serta kendaraan yang diparkir. Namun, pengelola menegaskan pembatasan jam kunjungan, melarang akses pada dini hari bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan sensitif terhadap suhu rendah, serta melarang aktivitas di zona embun upas yang berpotensi licin.
Sementara wisatawan menikmati pemandangan menakjubkan, sektor pertanian di Dieng mengalami kerugian signifikan. Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Banjarnegara melaporkan kerusakan pada 25 hingga 30 hektare lahan kentang, terutama di Desa Dieng Kulon. Tanaman yang berumur di bawah 40 hari tidak dapat selamat setelah terpapar embun beku, menyebabkan total kerugian diperkirakan mencapai Rp 2,1 miliar atau rata‑rata Rp 70 juta per hektar.
Petani berupaya mengurangi dampak dengan menyiram tanaman pada sore hari untuk meningkatkan uap air serta menutup bedengan menggunakan paranet atau daun bambu. Upaya ini belum cukup menghambat pembentukan es karena suhu malam tetap di bawah nol derajat selama dua hari berturut‑turut. Akibatnya, perkiraan panen berikutnya ditunda hingga September 2026, ketika cuaca diprediksi lebih bersahabat.
- Lapisan dasar: pakaian dalam termal.
- Lapisan insulasi: sweter fleece atau wol.
- Lapisan luar: jaket down atau windbreaker.
- Pelindung tangan dan kaki: sarung tangan, kaus kaki wol ganda.
- Pelindung kepala: kupluk wol, masker kain.
BMKG memperkirakan intensitas embun upas akan meningkat dan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang. Oleh karena itu, baik wisatawan maupun petani diimbau untuk mempersiapkan diri secara matang. Wisatawan diharapkan membawa perlengkapan lengkap dan mengikuti aturan area, sedangkan petani disarankan terus memantau perkiraan cuaca, memperkuat metode mitigasi, dan berkoordinasi dengan pemerintah desa serta kelompok tani setempat.
Fenomena embun upas di Dieng mencerminkan dinamika iklim tropis yang dapat menghasilkan kondisi ekstrem mirip daerah beriklim sedang. Keunikan ini menjadi daya tarik wisata musiman, namun sekaligus menantang keberlanjutan pertanian lokal. Dengan kolaborasi antara BMKG, pengelola wisata, dan komunitas pertanian, diharapkan dampak negatif dapat diminimalisir sekaligus memanfaatkan potensi wisata alam yang langka ini.
Kesimpulannya, suhu minus enam derajat Celsius yang melanda Dieng pada akhir Juli 2026 menandai kembali pertemuan antara keindahan alam beku dan tantangan agrikultur. Persiapan yang tepat, kesadaran akan risiko, serta upaya mitigasi bersama menjadi kunci untuk menikmati fenomena alam ini tanpa menimbulkan kerugian yang berlarut‑larut.