Celtic Buru Pelatih Baru: Dilema Antara O’Neill, Keane, dan Bellamy yang Memikat Hati Wales
Blog Berita daikin-diid – 04 Juni 2026 | Celtic Football Club tengah berada di persimpangan penting setelah kegagalan menemukan pengganti permanen bagi manajer yang mengantarkan klub meraih double dramatis pada akhir musim lalu. Principal shareholder Dermot Desmond dikabarkan akan menghubungi interim boss Martin O’Neill dalam 24 jam ke depan untuk menilai keinginannya tetap terlibat, baik sebagai manajer penuh, konsultan operasi sepak bola, atau peran advisory lainnya. Sementara itu, nama-nama lain seperti mantan striker Celtic Robbie Keane, legenda Wales Craig Bellamy, dan bahkan pelatih Portugal Roberto Martinez turut menjadi bahan perbincangan intens di kalangan eksekutif dan media.
Robbie Keane, yang baru saja mengakhiri masa jabatan di Ferencvaros setelah memenangkan Magyar Kupa, kini menjadi kandidat kuat. Keane telah menyiapkan tim pendukungnya, yakni Stephen Glass, Scott Brown, dan Jonny Hayes, yang siap membantu jika ia ditunjuk sebagai manajer. Pengalamannya meraih gelar Liga Israel bersama Maccabi Tel Aviv pada musim 2024/25, serta sukses meraih gelar Hungaria di Ferencvaros, menambah nilai plus pada profil kepelatihannya.
Sementara itu, Craig Bellamy—mantan penyerang Celtic dan kini pelatih nasional Wales—menjadi sorotan khusus karena keberhasilannya memimpin tim asuh Wales menuju fase kualifikasi Euro 2028. Pada konferensi pers terbaru, Bellamy menegaskan komitmennya pada skuad Wales, meski sejumlah klub Eropa, termasuk Burnley, melontarkan tawaran. Ketertarikan Celtic pada Bellamy bukanlah hal baru; sejak kepindahan Brendan Rodgers tahun lalu, klub telah memantau perkembangan Bellamy sebagai potensi manajer yang memahami budaya Skotlandia dan memiliki pengalaman internasional.
Roberto Martinez, pelatih Portugal, juga masuk dalam daftar pertimbangan, namun keberadaannya dianggap sebagai opsi luar karena fokusnya pada persiapan Piala Dunia musim panas ini. Jika Celtic menargetkan penunjukan sebelum pra-musim, pilihan Martinez menjadi kurang realistis mengingat jadwal kompetisi internasionalnya.
Di balik dinamika pencarian manajer, Celtic juga menghadapi tantangan struktural. Klub masih belum menunjuk ketua dewan permanen, kepala operasi sepak bola, dan kepala rekrutmen. Hal ini menambah kompleksitas keputusan, terutama mengingat kebutuhan untuk merombak skuad menjelang fase play‑off Liga Champions yang dijadwalkan sangat awal.
Di luar lapangan, sorotan publik juga teralihkan pada peristiwa tragis yang melibatkan putri Wales, Princess of Wales, yang menyampaikan rasa duka atas kecelakaan helikopter militer di Devon. Meskipun tidak berhubungan langsung dengan sepak bola, pernyataan belasungkawa tersebut menegaskan ikatan emosional antara institusi kerajaan dan komunitas olahraga, mengingat banyak pemain dan pelatih asal Inggris dan Wales memiliki hubungan pribadi dengan keluarga kerajaan.
Jika O’Neill memutuskan untuk tidak melanjutkan sebagai manajer, keputusan selanjutnya akan sangat memengaruhi arah strategis Celtic. Keputusan tersebut tidak hanya berdampak pada performa tim di kompetisi domestik, tetapi juga pada kemampuan klub untuk bersaing di kancah Eropa. Keberhasilan Keane atau Bellamy dalam mengelola transisi pemain, mengintegrasikan taktik modern, serta menjaga semangat klub menjadi faktor penentu dalam proses seleksi.
Secara keseluruhan, situasi saat ini menggambarkan kompleksitas manajemen klub sepak bola besar yang harus menyeimbangkan antara aspirasi kompetitif, stabilitas struktural, dan harapan para pendukung. Dengan tekanan waktu yang semakin mendesak, Celtic diharapkan akan mengumumkan keputusan akhir dalam beberapa minggu ke depan, menandai babak baru dalam sejarah klub yang selalu berambisi menjadi yang teratas di Skotlandia dan Eropa.