Bobby Nasution Buka Jalan Baru di Sipiongot: Akhir 81 Tahun Terisolasi dan Janji Pembangunan Berkelanjutan
Blog Berita daikin-diid – 29 Juni 2026 | Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, menorehkan momen emosional ketika menelusuri kawasan hutan Sipiongot pada dini hari, Senin (29/6/2026). Akses jalan yang masih terjal dan lumpur membuat timnya terpaksa berhenti di tengah hutan, di mana sang gubernur tak kuasa menahan air mata melihat kondisi warga yang harus menempuh perjalanan berjam‑jam hanya untuk mencapai pasar atau layanan kesehatan. Pengalaman itu menjadi pemicu komitmen kuatnya untuk menghapus istilah “daerah tertinggal” dari peta pembangunan provinsi.
Berbagai kegiatan tradisional mengiringi penyelesaian proyek infrastruktur tersebut. Pada Minggu (28/6/2026), warga Sipiongot melaksanakan upah‑upah, sebuah tradisi adat yang menandakan rasa syukur sekaligus memberi semangat kepada tokoh yang dianggap berhasil mengakhiri masa isolasi. Upah‑upah dipersembahkan di kediaman Wakil Ketua DPRD Sumut, Ihwan Ritonga, Kompleks Menteng Indah, Medan, sekaligus menjadi bagian dari pengajian Ikatan Keluarga Dolok Sipiongot dan Sekitarnya (IKDS).
Menurut pernyataan Ihwan Ritonga, pembangunan jalan Sipiongot menjadi titik balik penting setelah 81 tahun warga tidak merasakan pembangunan jalan secara menyeluruh. Selama 12 tahun ia mengawal isu ini di DPRD, pembangunan sebelumnya hanya mencakup segmen pendek, dua hingga lima kilometer, yang tidak pernah tuntas. Kini, pemerintah provinsi menyalurkan anggaran sekitar Rp283 miliar untuk memperbaiki 13 ruas jalan di kawasan Sipiongot dan sekitarnya.
Implementasi dana tersebut mencakup perbaikan lapisan aspal, pemasangan drainase, dan pembentukan jalur alternatif yang menghubungkan Labuhanbatu, Tapanuli Selatan, serta pusat‑pusat ekonomi regional. Dampaknya sudah mulai dirasakan: mobilitas warga menjadi lebih mudah, biaya distribusi hasil pertanian menurun, dan harga jual produk seperti sawit berpotensi naik karena pengurangan waktu tempuh dan biaya transportasi.
Beberapa tokoh masyarakat memberikan kesaksian tentang perubahan yang dirasakan. Kepala Desa Janji Manahan, Ali Mutarman Dalimunthe, mengingat masa kecilnya di mana jalan berlumpur mengharuskan anak‑anak sekolah berjalan kaki sambil memikul hasil panen. “Saya lahir tahun 1980, dan ketika kelas enam SD harus ke pasar Sipiongot, kami berjalan kaki berjam‑jam menembus lumpur,” ujarnya. Sementara Kepala Desa Siburbur, Sahbuddin Ritonga, menambahkan bahwa sebelumnya warga menghabiskan hingga tiga jam untuk menempuh jarak lima kilometer ke pasar tradisional, mengakibatkan biaya distribusi tinggi dan harga jual yang rendah.
Bobby Nasution menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur dasar merupakan kewajiban pemerintah, bukan sekadar janji politik untuk dipuji berlebihan. Ia menambahkan bahwa selain jalan, pemerintah berencana meluncurkan program beasiswa bagi pemuda Sipiongot agar memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Program tersebut diharapkan dapat memberdayakan generasi muda, mengurangi migrasi ke kota besar, dan memperkuat basis ekonomi lokal.
Secara keseluruhan, proyek jalan Sipiongot mencerminkan upaya terkoordinasi antara pemerintah provinsi, legislatif daerah, dan masyarakat setempat. Dengan alokasi anggaran yang signifikan dan dukungan politik yang kuat, diharapkan pembangunan ini tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga membuka peluang investasi sektor pertanian, pariwisata, dan industri ringan di wilayah yang selama ini terpinggirkan.
Ke depan, gubernur menegaskan komitmen untuk menyelesaikan seluruh 13 ruas jalan yang telah direncanakan, serta melanjutkan program-program sosial lainnya, termasuk peningkatan akses listrik, perbaikan layanan kesehatan, dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan demikian, harapan warga Sipiongot untuk keluar dari status terisolasi semakin mendekati realisasi, menandai era baru bagi wilayah yang selama delapan dekade terpuruk dalam keterbatasan akses.
Kesimpulannya, langkah konkret yang diambil oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di bawah kepemimpinan Bobby Nasution tidak hanya mengakhiri 81 tahun isolasi di Sipiongot, tetapi juga menegaskan agenda pembangunan berkelanjutan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Jika implementasi berjalan lancar, transformasi sosial‑ekonomi yang diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah‑daerah lain yang masih menghadapi tantangan serupa.